Ngaji Tafsir : Kisah Putra Nabi Adam Alayhissalam

2 years ago
durasi baca: 4 menit
Oleh : K.H. Hilmy Muhammad
#NgajiTafsir: Surat al-Ma`idah (5) ayat: 27-31:
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (27) لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ (28) إِنِّي أُرِيدُ أَنْ تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ (29) فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ (30) فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْءَةَ أَخِيهِ قَالَ يَا وَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْءَةَ أَخِي فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ (31)

(27)Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban. Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”

(28)Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam

(29) Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, Maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian Itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim

baca juga : Ngaji Jalalain : Meragukan Risalah Kenabian dan Risalah Kenabian yang Tak Perlu Diragukan”

(30) Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, Maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi

(31)Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. berkata Qabil: “Aduhai celaka Aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” karena itu jadilah Dia seorang diantara orang-orang yang menyesal.

KISAH PUTRA2 NABI ADAM ‘ALAYHIS-SALAM

Ayat ini mengungkapkan kisah dua putera Nabi Adam ‘alayhis –salam yg bernama Qabil dan Habil. Alkisah, Qabil mempunyai saudari kembar bernama Iqlima, sedang Habil mempunyai saudari kembar bernama Layudza. Sesudah mereka dewasa, Allah memberlakukan ketentuan kepada Nabi Adam agar Qabil dikawinkan dg kembaran Habil, yaitu Layudza, sedang Habil dikawinkan dg kembaran Qabil, yaitu Iqlima.

Ternyata Qabil menolak ketentuan tersebut. Qabil justru menginginkan agar kembarannya, yaitu Iqlima, menjadi isterinya. Dia menolak Layudza karena parasnya tidak cantik. Nabi Adam kemudian menawarkan solusi penyelesaian masalah tersebut dg cara masing2 memberikan persembahan (kurban) kepada Allah Ta’ala. Dg catatan, siapa yg diterima persembahannya, dia berhak memilih jodohnya. Keduanya menerima keputusan tersebut.

Habil, sebagai peternak, kemudian memberikan kambing peliharaannya yg besar untuk persembahan. Qabil, sebagai petani, justru memberikan hasil pertaniannya yg buruk untuk persembahan. Singkat cerita, persembahan Habil diterima, dan persembahan Qabil ditolak. Akibatnya, Qabil marah dan merasa iri kepada Habil.

Qabil kemudian bermaksud ingin membunuh Habil. Habil menjawab tidak akan membalas jika Qabil memukulnya. Hal tersebut bukan karena Habil takut kepada Qabil, tapi karena takut kepada Allah. Akan tetapi karena amarah sudah menguasai dirinya, akhirnya terjadilah pembunuhan pertama dalam sejarah peradaban manusia: Qabil membunuh Habil.

Setelah itu, Qabil ternyata tidak tahu bagaimana cara merawat jenazah Habil. Allah kemudian mengutus burung gagak dg maksud memberi pelajaran kepada Qabil bagaimana cara merawat jenazah saudaranya. Burung gagak itu mendapati ada bangkai temannya yg mati.

Burung itu kemudian menggali tanah dg paruh dan kedua kakinya. Sesudah dirasa cukup, bangkai itu dimasukkan di liang tersebut guna dikebumikan. Qabil kemudian meniru apa yg dilakukan oleh burung gagak dalam menguburkan jenazah Habil, saudaranya.

Antara pelajaran penting dari kisah tersebut adalah:

(1) Kisah ini memberi gambaran tentang bahaya sikap iri atau dengki (SMS: senang melihat orang lain susah, atau susah melihat orang lain senang). Iri menyebabkan hati seseorang menjadi tidak tenang dan tidak percaya taqdir Allah.

Sikap iri ini berbahaya karena bisa menyebabkan dosa kelanjutannya. Seperti dalam ayat ini, yg menyebabkan Qabil tega membunuh saudaranya, Habil. Sejarah mencatat, dosa iri inilah yg terjadi pertama kali terjadi di dunia. Sebagaimana iri adalah pelanggaran yg pertama kali berlaku di akhirat, yaitu sikap iri Iblis terhadap Nabi Adam, yang mengakibatkan Nabi Adam diusir dari surga.

baca juga : Al Quran, Perempuan, dan Insan Kamil”

Cara menghindar dari iri hati adalah dg mengesampingkan sikap tersebut, memperbanyak syukur atas nikmat yg telah dianugerahkan oleh Allah, dan berdoa:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَان وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

“Ya Tuhan kami, ampunilah kami, dan saudara2 kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian terhadap orang2 yang beriman ada di hati kami; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”

(2) Anak atau keturunan bukanlah jaminan kebaikan. Jaminan kebaikan itu adalah taqwa dan amal shalih. Dan sejarah memberi bukti, banyak anak tokoh terhormat bahkan anak nabi yg tidak sukses karena mereka tidak patuh dengan pedoman yg digariskan oleh orangtuanya. Anak dan keturunan seharusnya justru menjadi pelengkap kemuliaan dan kehormatan orangtuanya, seperti harapan Imam Ibn Malik dalam bait Alfiyahnya:

“وآله المستكملين الشرف”

(3) Perbuatan baik ternyata tidak cukup sekedar dilakukan. Perbuatan baik juga harus ditunaikan dg niat yg baik, dan dilakukan dg cara yg sungguh. Ini seperti berlaku pada Qabil, yg amal kurbannya ternyata tidak diterima, meskipun telah ditunaikan. Ini juga mengingatkan pada ayat 177 Surat al-Baqarah (2), bahwa kebaikan itu bukan sekedar menghadap ke timur dan ke barat, akan tetapi kebaikan itu mestilah dilandasi dengan iman, termasuk memberi pemberian yg terbaik.

لَيْسَ البِرَّ أَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، وَلَكِنَّ البِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَاليَوْمِ ىلآخِرِ… – إلى آخر الآية

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, … dst”

(4) Seperti dikatakan oleh Habil ‘Takut kepada Allah’, adalah kata kunci bagi mencegah perbuatan buruk. Pernyataan tersebut mendapatkan konteksnya dalam hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alayh wa sallam tentang 7 orang yg selamat dan mendapat perlindungan di Hari Kiamat.

Salah satunya adalah orang yg saat diajak kencan oleh wanita cantik, dia tidak bersedia dan berkata: “Aku takut kepada Allah”. Dari sinilah relevansi pentingnya ungkapan ini terus diulang saat khutbah Jum’at.

(5) Ayat ini memberi anjuran agar kita mencermati kehidupan makhluk lain agar bisa menjadi pelajaran yg dapat membuat kehidupan kita sebagai manusia menjadi lebih lengkap dan lebih baik. Seperti pelajaran yg dapat diambil dalam ayat ini dari burung gagak saat menguburkan bangkai temannya yg mati.

baca juga : Ngaji Jalalain : Upaya Mengenali Dosa beserta Dampak-Dampaknya”

Pelajaran lain bisa diperoleh dari lebah, laba-laba, lalat, nyamuk, cicak, berang2 dan lain-lain, baik dalam hal kehidupan, seperti komitmen, loyalitas, kemandirian, kerjasama; maupun mencermati hal2 fisik. Seperti pembuatan sarang, perlindungan terhadap anak dan keluarga, cara mendapakan makanan, cara bertahan hidup, cara melumpuhan musuh, dan sebagainya. Anjuran ini sejalan dg firman Allah Ta’ala dalam Surat Ali Imran (3) ayat 90:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِأُوْلِي الأَلْبَابِ

(6) Kasih sayang Allah kepada manusia dalam ayat ini dijelaskan dalam bentuk pembelajaran Allah melalui burung gagak, bagaimana sepatutnya manusia merawat jenazah saudaranya. Manusia adalah makhluk yg terhormat, dan sepatutnya dimuliakan hingga terhadap jenazahnya. Ini sesuai dg pernyataan ayat 70 surat al-Isra` (17):

“…وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ”

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam”

Kehormatan sebagai manusia menjadikan jenazahnya juga harus dirawat sebaik-baiknya dengan cara dimandikan, dikafani, dishalatkan dan kemudian dikuburkan. Oleh karena itu, perlakuan terhadap jenazah dg cara diawetkan, atau disimpan di suatu tempat, atau bahkan dibakar, sungguh merupakan perbuatan yg tidak sepatutnya dilakukan, dan tidak sesuai dg kehormatannya sebagai manusia. Wallahu a’alam bish-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *