Al Quran, Perempuan, dan Insan Kamil

durasi baca: 3 menit

Oleh : KH. M. Munawwir Abdul Fattah
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Jama’ah Jumat Rahikumullah…

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita dengan senantiasa mencermati apa yang kita lakukan. Kalau yang kita lakukan jelas karena perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW, maka segeralah kita lakukan. Akan tetapi, jikalau yang kita lakukan adalah hal maksiat, segeralah dibatalkan. Dengan demikian, In sya Allah kita akan menjadi orang yang beruntung fi ad-dunya wa al-akhirah.

Jama’ah Jumat Rahikumullah…

Dahulu kala ada tiga sahabat putri bertanya kepada Rasulullah SAW. Ketiga sahabat itu adalah Ummu Salamah-istri Nabi Muhammad dengan gelar Ummul Mukminin, Asma’ binti Umays dan Ummu Amaroh Al Anshoriyyah-seorang wanita mujahidah. Mereka bersama-sama menghadap Rasulullah SAW dan bertanya :

“Ya Rasulullah, mengapa di dalam kitab suci Al-Qur’an hanya disebutkan lelaki saja. Sedangkan perempuan tidak pernah disinggung?”

Dari munculnya pertanyaan menggelitik tersebut, kemudian Allah SWT menurunkan surat Al-Ahzab : 35.

إِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمٰتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ وَالْقٰنِتِيْنَ وَالْقٰنِتٰتِ وَالصّٰدِقِيْنَ وَالصّٰدِقٰتِ وَالصّٰبِرِيْنَ وَالصّٰبِرٰتِ وَالْخٰشِعِيْنَ وَالْخٰشِعٰتِ وَالْمُتَصَدِّقِيْنَ وَالْمُتَصَدِّقٰتِ وَالصَّائِمِيْنَ وَالصّٰئِمٰتِ وَالْحٰفِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَالْحٰفِظٰتِ وَالذّاكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّالذَّاكِرٰتِ أَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَّأَجْرًا عَظِيْمًا (٣٥)

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama Allah), Allah telah menyediakan kepada mereka ampunan dan pahala yang besar”

baca juga : Kemukjizatan dan Keindahan Al Qur’an”

Jama’ah Jumat Rahikumullah…

Jika kita lihat dari ayat tersebut, sepertinya biasa-biasa saja. Akan tetapi, jika kita renungkan ayat ini memiliki makna yang indah. Ayat ini merupakan jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh ketiga sahabat Nabi tersebut.

Konteks dalam ayat ini sangat jelas, bahwa Allah tidak membedakan antara lelaki dan perempuan. Jika dilihat dari segi nahwu, terdapat huruf inna sebagai taukid-penguat, menunjukkan bahwa sungguh tidak ada perbedaan. Kemudian diperkuat lagi dengan adanya huruf wawu athof. Hal tersebut merupakan pertanda bahwa Allah SWT ingin menghilangkan adanya paradigma perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Jama’ah jumat rahikumullah…

Cobalah kita kupas bersama isi kandungannya. Menurut sebagian mufassirin, ayat ini memiliki arti yang sangat istimewa. Terdapat sepuluh jenjang untuk menuju tingkatan insan kamil. Antara laki-laki dan wanita sama-sama bisa mencapainya.

Pertama, menjadi seorang muslim. Menyerahkan diri kepada Allah SWT secara total. Kemudian mempunyai iman kokoh dan keyakinan yang kuat. Seorang muslim yang memiliki iman kokoh dan kuat, nantinya akan naik level. Menjadi manusia yang memiliki ketaatan lahir-batin. Naik ke tataran yang lebih tinggi, jika memiliki sifat ketiganya, muncullah sifat shidiq atau jujur yang sesungguh-sungguhnya.

Jika sudah terpenuhi syarat tersebut, tumbuhlah rasa sabar yang luar biasa. Memuncak tingkatan lebih tinggi, menjadi orang yang takut kemudian munculnya rasa pandai bersyukur dengan ikhlas dalam bersedekah.

baca juga : Berbakti Kepada Orang Tua Sebelum Jihad”

Jika terpenuhi sifat sebelumnya, maka naiklah tingkatannya menjadi orang alim yang khusyu’. Manusia pada tingkatan tersebut akan pandai menjaga dirinya dari angkara murka dan dapat mengatur hawa nafsunya. Selain itu juga akan meningkat rasa taat dalam melakukan ibadah.

Apabila seluruh sifat sebelumnya terpenuhi, maka naiklah dia pada tataran yang paling tinggi, yaitu menjadi insan kamil. Sosok yang seluruh hati, ucapan, dan pikirannya tertuju hanya untuk Allah. Selalu berdzikir siang, pagi, dan sore.

Bukankah sungguh indah kitab suci kita. Dibalik ayatnya yang sederhana, tersimpan suatu rahasia yang bermakna luar biasa.

*tulisan ini merupakan saduran Khotbah Jum’at yang disampaikan oleh KH. M. Munawwir Abdul Fattah di Masjid Al Munawwir pada tanggal 29 Desember 2017/ 10 Rabi’ul Akhir 1439 Hijriah.[n]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *