Ngaji Jalalain : Meragukan Risalah Kenabian dan Risalah Kenabian yang Tak Perlu Diragukan

durasi baca: 3 menit
sumber foto ; Nu Online

Oleh : K.H. Hilmy Muhammad

#NgajiTafsir: Surat al-An’am (6) Ayat 124:
[su_heading size=”20″]وَإِذَا جَاءَتْهُمْ آيَةٌ قَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ حَتَّىٰ نُؤْتَىٰ مِثْلَ مَا أُوتِيَ رُسُلُ اللهِ. اللهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ. سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا صَغَارٌ عِنْدَ اللهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُوا يَمْكُرُونَ[/su_heading]

“Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: “Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah”. Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya”

Sebab turunnya ayat ini, seorang tokoh kaum Quraish bernama al-Walid ibn al-Mughirah berkata kepada Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alayh wasallam: “Kalau kenabian itu benar adanya, tentu saya lebih berhak dan lebih layak karena umur saya lebih tua dan harta saya lebih banyak daripada kamu…” Lalu ayat ini diturunkan.

Ayat ini memberi gambaran keengganan masyarakat Mekah menerima Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alayh wasallam sebagai utusan Allah. Sekian banyak bukti dan mukjizat telah diperlihatkan nabi agar mereka percaya bahwa beliau adalah utusan Allah, dan bahwa apa yang beliau sampaikan adalah wahyu risalah Allah.

baca juga : Gus Mus Perlu Waktu 3 Bulan Mengaji Surat Al Fatihah di Krapyak”

Nyatanya, mereka justru tetap enggan dan malah memberi persyaratan yang mengada-ada supaya mereka beriman, yaitu ‘agar mereka diberi wahyu sebagaimana yang diberikan Allah kepada para rasul.’

Menanggapi permintaan mereka yang berlebih-lebihan ini, Allah kemudian menegaskan bahwa urusan menjadikan seseorang sebagai nabi atau rasul itu sama sekali adalah wewenang Allah, hak prerogratif Allah.

Kenabian atau kerasulan itu adalah anugerah Allah.

Allahlah yang berhak memilih si A menjadi rasul, bukan si B, meskipun si A lebih muda, atau lebih miskin daripada si B.

Allah yang berhak menetapkan Nabi Yahya sebagai nabi, meskipun beliau kemudian meninggal di usia yang masih sangat muda. Allah juga yang berhak menetapkan Nabi Yusuf dan tidak memilih putra-putra Nabi Ya’qub yang lain sebagai nabi.

Ayat ini kemudian ditutup dengan ancaman bahwa siapapun yang berlaku jahat, iri, dan sombong kepada orang lain. Maka akan dihukum dengan dua perkara: pertama, mereka akan mendapatkan kehinaan dan penurunan derajat. Kedua, mereka akan mendapatkan siksa yang pedih dikarenakan keburukan tingkah laku mereka.

Hukuman balasan ini diberikan agar siapapun sesudah mereka dapat mengambil pelajaran dengan syarat tidak mengulang perbuatan seperti yang telah mereka lakukan.

Antara pelajaran dan intisari yang dapat diambil dari ayat ini adalah:

1) Motivasi utama para penjahat selalunya adalah rekayasa, makar, akal bulus, tipu daya, dan penyesatan. Sedang motivasi utama orang yang baik selalunya adalah kejujuran, ketulusan, dan berlaku lurus.

2) Inti kesombongan, sebagaimana penjelasan Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alayh wa sallam dalam riwayat Imam Muslim, adalah: menolak kebenaran dan meremehkan orang lain (الكبر: بطَر الحقّ وغمْط الناس).

(3) Yang dimaksud dengan risalah adalah ajaran Allah yang menjadi misi utama kenabian. Risalah ini diberikan kepada siapapun yang Allah kehendaki agar disampaikan kepada masyarakat. Risalah ini menjadi hal yang penting untuk terus disampaikan karena ia menjadi inti agama, yang kegunaannya untuk keseimbangan alam, dan demi kelangsungan, kebaikan, dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.

baca juga : Ngaji Jalalain : Upaya Mengenali Dosa beserta Dampak-Dampaknya”

Mengingat sedemikian pentingnya risalah, maka apabila dulu risalah ini diberikan oleh Allah kepada para rasul, dan sekarang para rasul itu sudah wafat, maka keharusan menjaga dan menyampaikannya ada pada kita semua.

Para ulama, kiai, dan da’i wajib menyampaikannya, melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh para nabi, sebagaimana tugas itu tersirat dalam sabda Nabi Muhammad shallallahu alayh wasallam melalui riwayat Imam Abu Dawud dan at-Tirmidzi:
[su_heading size=”20″]“العلماء ورثة الأنبياء” [/su_heading]

“para ulama adalah pewaris para nabi”

Tugas itu juga berlaku bagi Anda semua para pelajar dan para santri. Pada diri Anda, kewajiban menjaga risalah Allah berarti mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai ketinggalan atau tercecer dari apa yg semestinya diketahui.

Sebagaimana para rasul telah dipilih oleh Allah, maka pada saat ini Anda berarti juga telah dipilih oleh Allah guna membawakan risalah-Nya. Anda turut mengemban amanah para nabi dan rasul-Nya, melanjutkan dan menyebarkan agama.

Anda berarti adalah orang pilihan yang diberi kesempatan mendapatkan pelajaran agama Allah. Kemudian Andalah yang kelak berkesempatan menjaga, melestarikan dan menyiarkan Islam seluas-seluasnya demi keberlangsungan dan kebaikan kehidupan alam semesta.

Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah dalam menjalankan tugas dan usaha kita, amin. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *