Ngaji Jalalain : Upaya Mengenali Dosa beserta Dampak-Dampaknya

2 years ago
durasi baca: 3 menit

Foto: @matasantri

Oleh: Dr. KH. Hilmy Muhammad

#NgajiTafsir: Surat al-An’am (6): 120:

وَذَرُوْا ظَاهِرَ الاِثْمِ وَبَاطِنَهُ. إِنَّ الَّذِيْنَ يَكْسِبُوْنَ الاِثْمَ سَيُجْزَوْنَ بِمَا كَانُوْا يَقْتَرِفُوْنَ

“Dan tinggalkanlah dosa yang tampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat) disebabkan apa yang telah mereka kerjakan”

Sebab turunnya ayat ini adalah kebiasaan orang Arab yang suka melakukan perzinahan. Bagi kalangan terhormat dan tokoh masyarakat, perzinahan dilakukan dengan cara selingkuh dan sembunyi-sembunyi. Lain bagi masyarakat umum, mereka melakukannya secara terang-terangan.

Ayat ini kemudian diturunkan untuk mengecam perilaku mereka, sekaligus menegaskan bahwa perbuatan yang mereka lakukan itu, baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan, adalah dosa yang pasti akan mendapat balasan.

Adapun yang dimaksud dengan dosa, sebagaimana dinyatakan oleh Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alayh wa sallam melalui riwayat Imam Muslim, adalah:

البر حسن الخلق. والاثم ما حاك في صدرك وكرهتَ أن يطلع عليه الناس

“Kebaikan adalah berperilaku baik. Dosa adalah sesuatu yg menggelisahkanmu, dan Engkau tidak suka bila orang lain tahu”

Jadi berdasar hadis tersebut, yang namanya dosa itu memiliki 2 indikator: Pertama, indikator internal, artinya bila seseorang melakukannya, maka hatinya menjadi resah dan gelisah.

Kedua, indikator eksternal, ditandai dengan orang yang melakukannya tidak senang atau tidak nyaman apabila perbuatannya diketahui oleh orang lain.

Ayat ini meskipun diturunkan berkenaan dengan kasus perzinahan, akan tetapi mayoritas mufasir memaknai ayat ini dalam pengertian yang lebih luas, yaitu segala perbuatan dosa atau maksiat (menentang) terhadap ketentuan Allah swt.

baca juga : Pedoman Berakhlaq Kepada Al Qur’an, Ulasan Ngaji Kitab At Tibyan Fi Adabi Hamalati Al Qur’an”

Mereka menyatakan bahwa yang dimaksud dengan dosa yang tampak (dhohir) adalah perbuatan dosa yang dilakukan oleh badan manusia. Seperti zina, mencuri, mencederai, dll.

Sedangkan dosa yang tersembunyi (bathin) maksudnya adalah dosa yg dilakukan oleh hati manusia, seperti sombong, iri, dendam, dan lain sebagainya.

Pelajaran yang dapat diketahui melalui ayat ini adalah: Pertama, Islam adalah agama yg komprehensif. Segala tata aturannya mencakup perspektif jasmani-rohani, berdimensi lahir-batin, dan mencakup ranah dunia-akhirat.

Aturan, hukum, dan perundangan yang diatur oleh Allah jelas lebih baik dan lebih sempurna daripada yang dibuat manusia, karena keluasan dan kelengkapannya. Syari’at Allah jelas lebih bisa dipercaya karena yg membuat adalah Dzat Yang Maha Benar dan Maha Kuasa.

Sedangkan aturan atau perundangan yang dibuat oleh manusia, tentu banyak kekurangan dan kelemahannya, karena dibuat oleh makhluk yang lemah dan tak berdaya.

Seperti contoh kasus melawan hukum dalam ayat ini, perspektif yang dikemukakan adalah dosa apapun yang dilakukan oleh manusia, baik yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi ataupun yang dilakukan secara terang-terangan, tetap akan diganjar setimpal sesuai dengan kesalahannya.

Sedang dalam praktek hukum yang berlaku di kalangan manusia, yang dihukum atau yang terkena aturan hanya bila konangan (ketahuan). Bila tidak, Anda tidak dapat dijerat oleh hukum, sebab yang bisa menjadi keputusan hukum hanya yang terbukti di ranah dhohir-nya (نحن نحكم بالظواهر). Bahkan dalam hal menuduh saja, bila tanpa bukti, Anda bisa dianggap berlaku aniaya dan semena-mena!.

Kedua, Perbuatan dosa dan melawan hukum (maksiat), baik yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan, akan berpotensi merusak diri seseorang.

baca juga : Ngaji Kitab Washoya : Menuju Kehidupan Harmonis”

Daya rusaknya bukan hanya secara fisik jasmaniah, semisal sakit, tapi juga secara rohaniah, seperti malas, ngeyelan, mau menangnya sendiri, bermuka dua, dll.

Akibat yang ditimbulkan oleh penyakit rohaniah ini justru lebih parah dan berbahaya, sebab dapat menjauhkan seseorang dari Allah, melemahkan daya amal, menimbulkan keinginan untuk berlaku jahat kepada orang lain, dan sebagainya.

Manusia itu ibarat kain putih, bila semakin banyak dosa/maksiat yang dilakukan, semakin banyak noda yang tertorehkan di kain tersebut.

Alhasil, semakin hitam kainnya maka akan semakin malas ibadah, semakin menjauh dari Gusti Allah, semakin susah dinasehati, semakin susah dikabulkan do’anya.

Waspadalah.. Waspadalah..

Ushini nafsi wa iyyakum bihi, wabitaqwallah. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *