Ngaji Jalalain : Sikap Hati-Hati Mbah Ali

Sumber Foto: basman.mas.ru

Oleh: Dr. KH. Hilmy Muhammad, M.A

#NgajiTafsir Surat an-Nisa` (4) ayat 29:

…يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَأْكُلُوْا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالبَاطِلِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil…”

Antara sikap kehati-hatian Allahuyarham Simbah KH. Ali Maksum, beliau menolak pemberian hadiah uang dari Panglima ABRI; Jenderal LB. Moerdani.

baca juga : Ngaji Jalalain : Upaya Mengenali Dosa beserta Dampak-Dampaknya”

Kisahnya, tidak lama sesudah Peristiwa Tanjung Priok tahun 1984 yang menewaskan puluhan orang, Jenderal Moerdani keliling Indonesia menemui tokoh ulama guna meredam kemarahan kaum muslimin.

Di banyak tempat, momen Moerdani salaman sambil berpelukan dan cipika-cipiki dengan kiai-kiai, memperoleh liputan yang luas oleh media massa. Lain dengan Simbah KH. Ali Maksum yang menolak salaman sambil rangkulan berpelukan. Beliau juga menolak hadiah uang pemberian Moerdani sebesar 25 juta rupiah, yang kala itu luar biasa banyaknya.

Suatu ketika, saat mengaji dengan santri, beliau kemudian menjelaskan sikap dan pendiriannya tersebut. Beliau berkata:
“Saya tidak mau menerima pemberian itu, karena dia menyatakannya sebagai “hadiah”. Kalau dia memberikannya sebagai “sedekah jariyah”, saya mau terima. Tapi karena dia menyatakannya sebagai “hadiah”, maka saya tolak pemberian itu… ”

Simbah KH. Ali Maksum menolak menerima uang itu sebagai hadiah atau penghargaan kepada dirinya, karena ada tendensi yang menyertai pemberian tersebut. Ada udang di balik batu.

baca juga : Ngaji Jalalain : Pentingnya Iman Kepada Allah dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar”

Bagaimana mungkin beliau menerimanya sebagai “hadiah”, sementara beliau sendiri muak dan murka terhadap perlakuan tentara yang sewenang-wenang dan bertindak semena-mena secara membabi buta. Bagaimana mungkin beliau menerimanya, sedang pada waktu itu belum ada upaya penyelesaian terhadap peristiwa tersebut. Kalau mau menerimanya, tentu beliau akan dianggap ikut senang dan bahagia atas penderitaan kaum muslimin.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam meneladani keteguhan sikap dan integritas beliau, amin.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan