Ngaji Jalalain : Pentingnya Iman kepada Allah dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar

by Juni 6, 2018
durasi baca: 2 menit
iman amar maruf

sumber foto www.ngelmu.id

Oleh : K.H. Hilmy Muhammad

#Ngajitafsir : Surat al-Ma`idah (5) ayat: 61-63:

وَإِذَا جَاءُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَقَدْ دَخَلُوا بِالْكُفْرِ وَهُمْ قَدْ خَرَجُوا بِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا يَكْتُمُونَ (٦١) وَتَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يُسَارِعُونَ فِي الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٦٢) لَوْلا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالأحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الإثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ (٦٣)

Dan apabila orang-orang (Yahudi atau munafik) datang kepadamu, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”, padahal mereka datang kepadamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (daripada kamu) dengan kekafirannya (pula); dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (Al-Ma’idah 5:61)

Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu. (Al-Ma’idah 5:62)

Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu. (Al-Ma’idah 5:63)

AYAT TERDAHSYAT DALAM AL-QUR`AN

Ayat ini diturunkan terkait kedatangan beberapa orang Yahudi yg menyatakan iman kepada Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alayh wasallam. Allah kemudian memberi tahu Kanjeng Nabi bahwa sesungguhnya mereka telah berlaku munafik karena perbuatan dan perilaku mereka tidak mencerminkan pernyataan iman mereka.

baca juga : Ngaji Kitab Washoya : Menuju Kehidupan Harmonis”

Buktinya, bila ada peluang dan kesempatan, mereka segera bergegas melakukan pelanggaran dosa, permusuhan dan aniaya, serta memakan barang2 yg haram. Sungguh buruk apa yg telah mereka lakukan karena sama sekali tidak mencerminkan keimanan yg telah mereka ikrarkan.

Akan tetapi, ternyata ada orang yg keadaannya lebih buruk dari mereka, yaitu para ulama dan kalangan akademisi yg membiarkan pelanggaran2 yg telah dilakukan oleh ummat mereka, tanpa ada usaha mencegah dan menghalanginya. Sikap tidak peduli ini menunjukkan bahwa mereka tidak bertanggung jawab dan melalaikan tugas mereka dalam beramar ma’ruf nahi mungkar.

Antara pelajaran yg dapat diambil dari ayat ini adalah:
(1) Iman tidak cukup hanya sekedar diucapkan, tapi harus dibuktikan dalam perbuatan dan aktifitas sehari2.
(2) Antara tugas utama para ulama dan akademisi, selain mengajak berbuat kebaikan (amar ma’ruf), adalah upaya mencegah terjadinya maksiat dan perbuatan jahat (nahi mungkar).
(3) Dosa ulama dan akademisi yg cuek dan tidak peduli dg terjadinya kemungkaran adalah lebih besar dari dosa pelaku kemungkaran itu sendiri.

baca juga : Ngaji Jalalain : Upaya Mengenali Dosa beserta Dampak-Dampaknya”

Dan barangkali karena merasa beratnya beban yg dipikul oleh para ulama dan akademisi, sahabat Abdullah bin Abbas kemudian menyatakan bahwa ayat ini adalah ayat yg terdahsyat dalam al-Qur`an:

(هي أشد آية في القرآن)

Imam Adl-Dlahhak juga berkata:

(ما في القرآن آية أخوف عندي منها)

“Tidak ada ayat al-Qur`an yg paling saya takuti selain ayat ini”

(4) Sikap tidak peduli dg terjadinya kemungkaran akan menjadikan Allah meratakan siksaNya, bukan hanya kepada pelaku kemungkaran, tapi juga kepada semua orang yg ada di daerah tersebut.
Ini sebagaimana hadits Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alayh wasallam:

إن الناس إذا رأوا الظالم ولم يأخذوا على يديه أوشك الله أن يعمهم الله بعذاب من عنده – رواه الترمذي
Wallahu a’lam bish-shawab.

Tinggalkan Balasan