Ngaji Jalalain : Hukuman bagi Begal dan Perampok

durasi baca: 3 menit

Oleh : Dr. K.H. Hilmy Muhammad

#NgajiTafsir: Surat al-Ma`idah (5): Ayat 33-34

[su_heading size=”20″] إن الله ليزع بالسلطان ما لا يزع بالقرآنإِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (33) إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَقْدِرُوا عَلَيْهِمْ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (34)[/su_heading]

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka peroleh siksaan yang besar (33) Kecuali orang-orang yang bertobat sebelum kamu dapat menguasai mereka; maka ketahuilah, bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (34)”

Sebab diturunkannya ayat ini adalah beberapa orang dari Qabilah Uraniyah yang mengaku muslim dan dalam keadaan sakit datang ke kepada Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alayh wasallam. Nabi kemudian menyuruh mereka tinggal di pinggiran kota, tempat digembalakannya unta-unta sedakah.

baca juga : Ngaji Jalalain : Meragukan Risalah Kenabian dan Risalah Kenabian yang Tak Perlu Diragukan”

Nabi juga menyuruh mereka meminum susu dan air kencing unta-unta. Namun sesudah sehat, mereka malah membunuh si penjaga dan merampas unta-unta. Nabi kemudian memerintahkan beberapa sahabat untuk menumpas para perampok itu dan merebut kembali unta-untanya.

Ayat ini kemudian diturunkan untuk memberi ketentuan hukum bagi para begal dan perampok. Mereka adalah orang yang berupaya melakukan perampasan harta secara paksa dan terang-terangan disertai dengan ancaman teror dan bahkan pembunuhan. Dalam khazanah Fiqih, pembahasan ini termasuk dalam bab “quththa` at-tariq” atau “al-hirabah”. Ayat ini memberi ketentuan hukum bagi mereka, sebagai berikut:
1) Bagi mereka yang merampok dan merampas harta disertai dengan pembunuhan, maka mereka dibunuh dan disalib.

2) Mereka yang melakukan pembunuhan tanpa perampasan harta, maka mereka dibunuh.

3) Mereka yang merampok dan merampas harta saja, maka dihukum potong tangan kanan dan kaki kiri mereka secara bersilang.

4) Mereka yang melakukan teror saja, maka diusir dari negara tempat tinggal mereka.

Adapun beberapa pelajaran yang dapat diperoleh dari kandungan ayat dan penjelasan di atas, antara lain:

1) Antara resep pengobatan Nabi adalah minum susu unta dicampur dengan air kencingnya. Resep ini tentu merupakan pengecualian terhadap ketentuan larangan berobat dengan menggunakan barang najis, karena keadaan darurat.

Meskipun telah terbukti secara ilmiah dan akademik bahwa susu dan air kencing unta ini dapat mencegah berbagai penyakit seperti : kanker, leukemia, hepatitis, diabetes, penyakit kulit, asma, dan lain sebagainya. Dan tentu, resep ini adalah antara kemukjizatan ilmiah dari hadis Nabi.

2) Ayat ini menjadi dalil bagi bolehnya memberikan hukuman qishash bagi sindikat atau komplotan atau gerombolan pembunuh, meskipun mereka terbukti hanya membunuh satu orang saja (qatl al-jama’ah bil-wahid).

3) Perlunya sikap tegas dalam upaya perlindungan masyarakat dari teror dan hal-hal yang merusak kebaikan dan tatanan masyarakat. Islam memberi perhatian yang besar terhadapnya dengan memberi hukuman-hukuman berat terhadap para pelakunya: bagi pencuri, dipotong tangannya; pezina dihukum rajam; peminum khamr dijilid… Hal ini diberlakukan oleh Islam dalam rangka melindungi jiwa, harta, dan kehormatan masyarakat.

baca juga : Ngaji Jalalain : Upaya Mengenali Dosa beserta Dampak-Dampaknya”

4) Pelaksanaan hukum secara Islami memerlukan pemerintahan yang Islami. Sehebat dan sebaik apapun ketentuan Islam, tidak akan pernah tegak tanpa didukung pemerintahan Islam. Alquran hanya akan menjadi sekedar buku bacaan bila tidak dibunyikan dan diaplikasikan dalam bentuk aturan dan ketentuan hukum formal oleh suatu kekuasaan. Inilah antara yang dimaksud dalam suatu ungkapan:
[su_heading size=”20″] إن الله ليزع بالسلطان ما لا يزع بالقرآن[/su_heading]

“Sesungguhnya Allah melalui kuasa pemerintah mencegah sesuatu yg tidak mampu dicegah oleh al-Qur`an”

5) Taubat sebagaimana disebut dalam ayat 34, senantiasa menjadi alternatif penyelesaian bagi para pendosa guna menghilangkan pengaruh buruk akibat perbuatan jelek yang dilakukan. Hal ini karena yang namanya dosa mesti memberi pengaruh buruk, baik bagi jiwa maupun raga seseorang. Inilah salah satu alasan mengapa seorang muslim tidak pernah boleh putus asa. Sebab apapun kesalahannya, seberapapun besar dosanya, asal ia bertaubat dengan sungguh-sungguh, Allah pasti akan menerima taubatnya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *