Gus Mus Perlu Waktu 3 Bulan Mengaji Surat Al Fatihah di Krapyak

Diceritakan oleh KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus pengasuh Pondok Pesantren Roudlotuth Tholibin Al Islami (Taman Pelajar Islam) Rembang) di sela-sela waktu memberikan ceramah di Pondok Pesantren Al Munawwir dalam rangka Khotmil Quran Madrasatul Huffadh dan Haul Al marhum Almaghfurlah KH. R. Abdul Qodir Munawwir.

Sambil bercanda tetapi serius, Gus Mus berkata, “Apakah kalian semua tahu berapa lamanya aku mengaji surat Al Fatihah kepada beliau (Kyai Abdul Qodir), sampai betul-betul lancar dan fasih? Coba kalian tanyakan kepada Gus Najib (KH. R. M. Najib AQ) “Berapa lamanya Dia mengaji surat al Fatihah kepada gurunya?”

Gus Mus melanjutkan, “Saya tiga bulan, coba bayangkan, tiga bulan, bisss (mencontohkan bacaan Basmalah sambil meringis) masya Allah sampai saya merasa sakit hati, lha wong santri yang lain sudah pada khatam, kok aku masih Fatihah saja, loro atiku (sakit hatiku). Gerutu Gus Mus.

Setelah diusut, kata Gus Mus, ternyata pada waktu itu, bapak saya (KH. Bisri Mushthofa, Rembang) menitipkan saya kepada Kyai Abdul Qodir secara sungguh-sungguh, saking sungguh-sungguhnya, sampai-sampai bapak saya berpesan setengah mengancam kepada beliau, seraya berkata, “Kyai, hari ini saya titip anak saya (Musthofa Bisri) kepada kyai. Tolong ajari anak saya bagaimana caranya membaca fatihah yang baik dan benar. Tapi ingat kyai, kalau nanti shalat anak saya sampai tidak diterima oleh Allah SWT lantaran fatihah yang kyai ajarkan, saya akan tuntut kyai nanti di yaumil hisab (hari perhitungan semua amal manusia).

Sambil tertawa lebar Gus Mus melanjutkan, “Lha pantesan saja mengaji fatihah-ku sangat lama, lha wong bapakku berpesan kepada Kyai Abdul Qodir ya… Cuma fatihah saja kok, tidak dengan lain-lainnya, jadi pantes saja lama.”

Tidak hanya itu, Gus Mus pun terpesona dengan ketululusan hati Romo Kyai dalam mengemban amanah yang diberikan. Dalam hal ini, Gus Mus mengatakan, “Lha kok ada orang yang begitu tulus, ikhlas, dan bersungguh-sungguh dalam mengajar Al Quran, padahal tanpa dibayar. Kalau dibayar sih, saya juga mau! Tapi yang satu ini lain. Sudah sungguh-sungguh tapi tidak dibayar lagi…”

Waktu itupun, kata Gus Mus, sebenarnya Gus Mus rencananya tidak bisa hadir dalam acara Haul dan Khotmil Quran tersebut. Tetapi mengingat kyai yang diperingatinya adalah gurunya, sedang yang mengundanganya adalah putra gurunya (Gus Najib AQ.) yang pada waktu itu masih kecil dan dalam keadaan yatim saat ditinggal wafat oleh beliau, Romo KH R. Abdul Qodir, maka takut “kuwalat”, atau terkena batunya. Gus Mus akhirnya berubah dari rencana semula. Yaitu, yang semula rencananya tidak bisa hadir, alhamdulillah pada akhirnya bisa hadir, ya lantaran takut kuwalat tadi.

Dan uniknya lagi, Gus Mus tidak berkenan menerima sedikitpun pemberian (sekadar bisyarah) dari keluarga kami. Kami haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Gus Mus yang waktu itu sudah menyempatkan waktunya untuk bisa hadir dalam acara kami dan kami tambahkan Jazaakumullah ahsanal jazaa’. Sekali lagi terima terima kasih Gus Mus.

Sumber Tulisan : Biografi KH. Abdul Qodir Munawwir karangan Gus Mas’udi

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *