Tafsir QS. al-Ahzab Ayat 53: Unggah-Ungguh Sowan Kiai dalam Tradisi Pesantren

by September 1, 2020
durasi baca: 5 menit

“Unggah-ungguh” atau tata krama merupakan hal penting yang perlu diperhatikan sebelum bertindak, baik terkait ucapan maupun perbuatan. Seseorang akan dianggap bernilai dan bermoral tinggi jika mengindahkan tata krama dalam setiap tindakannya. Hal ini berlaku secara umum dan tak terbatas pada golongan, ras, atau bahkan agama tertentu.

Dalam Islam, tata krama atau akhlak al-karimah sangat ditekankan. Hal ini terungkap dalam beberapa hadis Nabi, di antaranya yang terkenal adalah Innamaa bu’itstu li utammima makaarima al-akhlaq (HR. Bukhari), bahwa Nabi Muhammad diutus sebagai Nabi untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Adanya misi khusus ini menunjukkan keniscayaan akhlak al-karimah dalam menjalani kehidupan. Selain itu, hadis lain juga menjelaskan bahwa sebaik-baiknya seorang mukmin adalah orang yang beriman dan baik akhlaknya, inna akmala al-mu’minina ahsanuhum khuluqo (HR. Tirmidzi, Ahmad, Abu Dawud) yang semakin menguatkan pentinya mempunya akhlak yang mulia.

Dalam hal ini, pesantren merupakan salah satu tempat yang mempunyai peran khusus dalam mengajarkan akhlak al-karimah dan seorang kiai menjadi panutan penuh yang dinantikan ajaran-ajarannya.

Salah satunya ditunjukkan oleh KH. Bisri Mustofa yang menjelaskan “unggah-ungguh” atau tata krama dalam hal bertamu atau sowan kepada kiai. Hal ini termuat dalam karyanya, yang berjudul Al-Ibriz Li Ma’rifati Tafsir Al-Qur’an Al- Karim yang merupakan kitab tafisr yang ditulis menggunakan bahasa Jawa dengan tulisan Pegon. KH. Bisri Mustofa secara rinci menjelaskan tata krama bertamu dalam tafsir QS. Al- Ahzab: 53 sebagai berikut.

Hei iling-iling wong-wong kang podho iman! Siro kabeh ojo podho mlebu daleme nabi, kejobo yen siro diparingi idzin, den timbale dhaharan. Siro kabeh ora diparengake mlebu tanpo idzin, banjur ngenteni matenge dhaharan. Tetapi, arikolo siro kabeh di timbali, siro mlebuo. Nuli arikolo siro kabeh wus podho mangan, nuli siro kabeh enggal bubar. Siro kabeh ojo podho tengu’-tengu’ podho ayem-ayeman omong-omongan sak konco. Sejatine mengkono iku kahanane, biso ngelaraake penggalihe nabi, banjur nabi keroso malu arep ngetoake marang siro kabeh. (sejatine kanjeng nabi wus ngersaake supoyo siro kabeh podho bubar, nanging kanjeng nabi arep dhawuh embubarake iku rumongso malu, kegowo sangking luhure budine). Allah ta’ala ora malu-malu sangking nerangake perkoro kang haq. Arikolo siro kabeh podho nyuwun marang garwo-garwone nabi, rupa barang, mongko siro nyuwuno sangking burine aling-aling. Laku mengkono iku luwih ngresiake marang ati iro kabeh, lan iyo atine garwo-garwone nabi. Ora pareng tumerap siro kabeh, yen nganti siro kabeh podho ngelaraake penggalihe utusane Allah. Lan ugo ora pareng yen siro kabeh podho nikah garwo-garwone nabi, sak ba’dane wafate nabi utowo megate nabi, selawas-lawase. Sejatine ngelaraake penggalihe nabi utowo nikah garwo-garwone nabi iku – tetep mungguh Allah ta’ala – doso kang agung. 

QS. Al-Ahzab: 53 merupakan ayat yang menjelaskan tentang tata krama bertamu ke rumah Nabi saw (sebagai pemimpin) serta ketentuan hijab atau tabir bagi istri-istri nabi untuk menemui yang bukan mahramnya.

Dalam Tafsir Al-Ibriz, KH. Bisri Mustofa memberi tafsiran serupa, bahwa ayat ini merupakan ayat yang mengajarkan tata krama dan aturan dalam bertamu kepada pemimpin, yang berdasarkan konteks ayatnya berarti Nabi Muhammad.

Dijelaskan bahwa, ketika sowan atau bertamu kepada Nabi hendaknya tamu tersebut sadar dan mengerti waktu sehingga tidak berlama-lama bahkan nongkrong bersama teman lainnya, karena Nabi Muhammad merasa malu untuk meminta tamunya agar segera pulang. Maka segeralah pamit jika urusan dengan nabi sudah selesai.

Selain itu, manajemen waktu sowan juga ditujukan untuk memberi kesempatan kepada orang lain yang juga ingin bertemu dengan nabi, di samping Nabi Muhammad juga memiliki banyak urusan. Selanjutnya ayat ini menjelaskan tentang cara bertemu istri-istri nabi yang misalnya hendak meminta barang, maka mengambilnya dari belakang tabir.

Setelah itu, KH. Bisri Mustofa memberikan penjelasan tambahan dalam tafsirnya, dengan menguraikan faedah dari adanya aturan bertamu tersebut serta penjelasan tentang tata cara sopan kepada seorang kiai, yang dalam konteksnya, mempunyai peran yang sama dengan Nabi Muhammad yaitu menjadi pemuka agama yang berdakwah di jalan Allah sekaligus menyebarkan ajarannya.

Baca Juga: Ngaji Tafsir: Kisah Putra Nabi Adam

Beliau menjelaskan bahwa adanya aturan bertamu kepada Nabi adalah untuk menjaga rumah nabi dari keramaian dan kesesakan sehingga terlihat seperti pasar karena saking banyaknya orang yang ingin bertemu Nabi. Selain itu, harap diingat bahwa pekerjaan seorang pemimpin itu banyak tidak sekedar untuk menemui tamunya. Hal ini termuat dalam ungkapan berikut.

Kanjeng nabi Muhammad SAW iku pemimpin kang banget agunge. Mulo, cara- carane sowan diatur tata tertibe, dadi ora sembarangan. Sebab, yen ora diatur tata tertibe, daleme kanjeng nabi banjur malih kaya pasar. Wong-wong banjur podho umpel-umpelan, kabeh kepingin podho sowan, kabeh podho seneng ditemoni dening kanjeng nabi, kabeh podho seneng linggih suwe ngadepi kanjeng nabi, opomaneh tumerap kanjeng nabi. Mulane, sing penting kito iku kudu podho ngerteni. Sing dadi pemimpin kudu ngerti yen rakyate pancen butuh banget marang deweke, lan seneng banget lamun ketemu marang deweke. Semono ugo rakyat kudu ngerti, yen pemimpin iku penggaweane akeh, lan kang den ladeni iyo ora sithik, lan persoalan- persoalan kang kudu dirampungake ugo mumbruk-mubruk. Mulane kudu duwe kiro-kiro, upamane diparingi kasempatan sowan, iyo sowan sak perlune bae, ojo banjur omong-omong sing ora-ora. Upama ono pemimpin disowani, wasono sing sowan oran duwe mawakiro, iku mesthine pemimpin mau iyo ora tegel upamane arep ngusir. Mulane sak pisan maneh sing sowan kudu ngerti. 

Ketentuan-ketentuan di atas ini turut berlaku bagi orang-orang yang hendak sowan kepada kiai. Dalam hal ini KH Bisri Mustofa sangat menekankan pentingnya memahami unggah ungguh sowan, khususnya kepada kiai, karena semua itu tidak lain hanya ditujukan untuk kebaikan kiai beserta tamunya. Sebagaimana ungkapan berikut.

Sing aneh maneh, wong-wong kang sowan kyai. Wong-wong kang sowan kyai iku kadhang-kadhang koyo ora ngerti, yen tugase kyai iku ugo akeh. Yen wong-wong iku sadar, mesthi ngerti, yen kyai iku jam semene mulang, jam semene muthola’ah, jam semene sholat dhuha, jam semene nulis, jam semene nyambut gawe lan liyan- liyane. Nanging, kadhang-kadhang wus wayahe mulang (malah) didayohi, dijagongi sak uwen-uwen. Ing mongko, sing didayohi keroso sungkan upomo nundhung. Iyo yen naming pisan pindho, iku ora dadi opo-opo. Nanging kadhang- kadhang saben dino. Pancen angel tatan-tatane, yen ora podho ngerti. Mengko upomo pemimpin utowo kyaine iku dhines, rakyate iyo banjur enggremeng, nuli ngarani yen pemimpin-pemimpine podho gumedhe lan liyan-liyane. Wallahu a’lam. 

Dalam Ungkapan tersebut KH Bisri Mustofa menjelaskan bahwa masih banyak orang-orang yang belum memahami tata cara sowan ini, sehingga bertamu tanpa mengerti waktu dan keadaan. Beliau menerangkan bahwa seorang kiai memiliki urusannya sendiri, baik untuk mengurusi pesantren yang diasuhnya maupun untuk pekerjaannya. Maka, KH. Bisri Mustofa menegaskan agar seorang tamu itu pengertian kepada kiai, baik terkait waktu kedatangan maupun waktu ketika sowan.

Singkatnya, QS. Al-Ahzab 53 dalam Tafsir Al-Ibriz ini dimaknai sebagai ayat tata krama dalam bertamu. KH Bisri Mustofa sangat menegaskan pentingnya adab dalam bertamu. Dalam hal ini, beliau menjelaskan secara Detail terhadap adab sowan kepada kiai. Beliau menyatakan bahwa, orang yang bertamu hendaknya mengerti waktu dan tidak mengganggu kegiatan, kiai karena seorang kiai juga punya banyak hal yang perlu dikerjakan.

Inilah tata krama bertamu yang dijelaskan oleh KH. Bisri Mustofa dalam tafsiran QS. Al-Ahzab: 53. Tata krama ini menjadi hal yang sangat diperhatikan oleh kalangan pesantren, hingga akhirnya disebut-sebut sebagai sebuah tradisi Pesantren, serta didukung fakta bahwa Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islami yang menjunjung tinggi akhlak al-karimah.

Dengan demikian, kesimpulan terkait unggah-ungguh yang tercantum dalam QS. Al-Ahzab: 53 adalah bahwa seorang tamu hendaknya mengerti waktu, situasi dan kondisi tuan rumah, dalam hal ini berarti seorang Kiai, dan ingat, bahwa mereka tentu memiliki urusan yang juga harus diselesaikan. Jadi, segeralah pamit jika maksud sudah tersampaikan.

Referensi: Bisri, Mustofa. t.t. Al-Ibriz Li Ma’rifati Tafsir Al-Qur’an Al-Karim. Kudus: Menara Kudus. Software al-Bahitsu al-Haditsi.

 

*Siti Mufidatunrofiah, santri komplek R2

#SantriProduktifR2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *