Refleksi Peringatan Isra’ Mi’raj Sebagai Sarana Meningkatkan Kualitas Iman dan Ilmu Pengetahuan
Suatu peristiwa dalam sejarah Islam yang menakjubkan serta menguji keimanan setiap insan yang mendengarnya, ialah Isra’ Mi’raj. Sebuah peristiwa paling agung sepanjang sejarah . Dalam peristiwa itu terjadi moment luar biasa bagi Nabi Muhammad SAW seperti (1) mendapat perintah untuk melaksanakan sholat lima waktu, (2) mendapatkan keistimewaan dari Allah melakukan perjalanan mulia bersama malaikat Jibril, (3) berjumpa dengan nabi-nabi terdahulu, (4) melihat surga dan neraka, (5) hingga menjajaki Sidratul Muntaha bertemu Allah SWT.
Secara bahasa kata ‘isra’ berarti berjalan dimalam hari. Dan kata ‘mi’raj’ berarti naik ke atas atau tangga atau alat untuk naik. Adapun Secara istilah, kata ‘isra’ mengandung arti di perjalankannya seorang hamba dari masjidil haram ke Masjidil Aqhsa di Baitul Maqdis (Palestina). Sebagaimana yang tertulis dalam firman-Nya QS. Al-Isra’ ayat (1):
سُبْحَانَ الَّذِي أسَْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الحَرَامِ إِلىَ الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَه لِنرُِيَه ُ مِنْ اياتَِن اَ إِنَّه ُ هُ وَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari masjidil haram ke masjidil aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”
Sementara kata ‘mi’raj’ secara istilah merupakan perjalanan Nabi Muhammad SAW. dari Baitul Maqdis naik ke langit sampai Sidratul Muntaha. Peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi pada malam hari tepatnya tanggal 27 Rajab satu tahun sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, atau pada tahun ke-12 kenabian.
Kisah yang telah terjadi pada umat terdahulu tentu terdapat ibrah dan hikmah didalamnya, tak terkecuali peristiwa Isra’ Mi’raj. Sebuah kisah sering kali lebih memberi kesan bagi yang mengetahuinya daripada pelajaran-pelajaran dalam proses pendidikan yang bahkan terasa seperti perintah atau pembatasan perilaku manusia. Peristiwa yang menarik sangat berpengaruh bagi seseorang, terlebih jika peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang dapat menambah keimanan. Oleh karenanya dalam Islam Nabi Muhammad saw. disebut sebagai uswatun hasanah atau teladan yang baik.
Ibrah Isra’ Mi’raj Sebagai Sarana Meng-upgrade Keimanan
Peristiwa Isra’ Mi’raj yang hanya terjadi semalam memang tidak dapat dicerna oleh logika manusia. Kita sebagai manusia yang memiliki keterbatasan hendaknya jangan dijadikan sebagai alasan untuk menolak segala hal yang terjadi diluar nalar. Sebaliknya, kita harus menerima dan mempercayai segala hal yang terjadi sekalipun tidak dapat dicerna logika, karena iman bukan tentang logika tapi tentang keyakinan yang tertanam sepenuh hati tanpa adanya keraguan.
Seperti yang dikatakan oleh Al-Jurjani dalam Kitab At-Takrifat, bahwa iman adalah membenarkan dalam hati. Sementara menurut syariat, iman ialah meyakini dengan hati dan mengikrarkan dengan lisan. Beliau juga berpendapat bahwa orang yang berikrar (bersaksi) dan meyakini namun tidak beramal, maka ia termasuk orang yang fasik. Sementara orang yang bersaksi dan beramal namun tidak meyakini atau terdapat keraguan dalam dirinya, maka ia termasuk orang munafik. Dan orang yang tidak bersaksi walaupun ia meyakini dan beramal maka ia termasuk orang yang kufur. Iman merupakan pembenaran yang pasti, artinya tidak ada keraguan pada diri orang yang beriman ketika dihadapkan pada perkara yang sudah ditetapkan oleh Allah sekalipun perkara tersebut tidak dapat ditafsirkan oleh logika manusia. Jika kita hamba yang beriman sudah seharusnya meyakini dan membenarkan peristiwa Isra’ Mi’raj yang dialami oleh Nabi Muhammad.
Di zaman yang semakin berkembang ini, jarak yang jauh dapat terlampaui, jika dahulu harus berhari-hari menuju tempat yang jaraknya puluhan kilo meter, kini hanya beberapa jam saja dapat terlampaui tentunya dengan menggunakan penunjang seperti transportasi pesawat. Dalam hal komunikasi, hanya dalam hitungan detik pesan akan langsung tersampaikan ke penerima walau dengan jarak sejauh apapun. Tentunya, hal tersebut tidak masuk logika bahkan tidak terpikirkan oleh masyarakat yang hidup pada zaman Nabi Muhammad. Oleh karenanya dalam urusan agama, disamping agama itu banyak yang rasional disisi lain kita tetap harus memposisikan pikiran kita dibelakang pemghambaan kita kepada Allah, memposisikan diri sebagai hamba yang terbatas, sehingga sekalipun terjadi peristiwa yang sudah ditakdirkan oleh Allah yang tidak masuk logika tetap dapat kita terima dan meyakininya dengan tanpa keraguan didalamnya.
‘Buraq’ Inspirasi Lahirnya Transportasi
Kendaraan yang digunakan Nabi Muhammad ketika Isra’ Mi’raj ialah ‘Buraq’, merupakan hewan tunggangan berwarna putih dimana ukurannya lebih besar dari keledai namun lebih kecil dari bighal yang dipucuk kepalanya terdapat satu tanduk. Buraq tersebut diturunkan dari surga untuk dikendarai Rasulullah dalam melakukan perjalanan dari Mekkah ke Baitul Maqdis yang kecepatannya seperti kilat. Dalil mengenai buraq telah dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud, yang artinya “Rasulullah saw bersabda: Aku telah disediakan buraq, akupun duduk di belakang Jibril dan berangkatlah bersama. Ketika hendak naik kedua kakinya diangkat ke atas, dan ketika turun kedua tangannya yang diangkat.”Jika diperhatikan, Buraq merupakan lambang kecepatan dalam gerak dan titik tolak dalam mencapai tujuan paling ideal. Dengan adanya buraq sebagai tunggangan/transportasi, Rasulullah dapat melampaui perjalanan yang sangat jauh dalam waktu semalam. Adanya buraq memberi inspirasi akan pentingnya transportasi guna menunjang kebutuhan manusia. Manusia sebagai makhluk yang dianugerahi akal sudah seyogyanya senantiasa mengembangkan segala hal yang dapat memudahkan kehidupan.
Saat ini manusia telah membuktikan hasil inovasinya, dalam hal transportasi misalnya manusia berhasil menciptakan pesawat guna memudahkan manusia dalam melakukan perjalanan jauh. Adanya pesawat membuat waktu perjalanan yang seharusnya ditempuh berhari-hari kini dapat terlampaui hanya dengan hitungan jam. Tentunya para ilmuwan akan selalu berusaha mengembangan inovasi demi tercapainya kemudahan guna menunjang kehidupan manusia.
Sarana Pembersih Hati
Sebelum melakukan Isra’ Mi’raj, Malaikat Jibril yang menemani perjalanan Rasulullah, membelah dada Rasulullah kemudian hatinya dibersihkan dan diisi dengan hikmah dan iman. Pembersihan hati Rasulullah bukan berarti hati Rasul itu kotor, melainkan Allah hendak menghilangkan duka yang dialami Rasulullah. Hati Rasulullah sesungguhnya telah suci seperti yang tercantum dalam QS. Al-Ahzab Ayat 21 yang artinya “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat)
Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. Suri tauladan Baginda Nabi seperti jujur, sabar, amanah, penyayang dan yang lainnya yang juga diaktualisasikan oleh sahabat dan kaum muslimin telah berhasil mengubah tatanan masyarakat yang sebelumnya jahiliyah menjadi masyarakat yang berakhlak dan beradab.
Peristiwa Isra’ Mi’raj ini hendaknya dapat dijadikan sebagai refleksi diri menjadi pribadi yang lebih baik, sebagai sarana membersihkan hati dan jiwa sebagaimana yang dialami Baginda Nabi sebelum melakukan perjalanan malam, dimana hatinya dibersihkan dan diisi dengan hikmah dan iman. Hal tersebut bertujuan agar hati Baginda Nabi terbebas dari perasaan duka yang telah dialaminya. Rasa sedih ataupun duka yang melanda kita tidaklah permanen dan tentu yang paling merasakan ialah hati kita. Untuk “membersihkan hati” dari rasa sedih ataupun rasa yang dapat memunculkan penyakit hati tidaklah mungkin dibersihkan oleh Malaikat Jibril seperti ketika membersihkan hati Baginda Nabi. Tentu kita tidak lepas dari “koneksi” jaringan kuat agar mampu terhubung kepada Allah. Menghadirkan Allah dalam hati kita, agar segala hal yang terpancar dari hati berwujud kebaikan.
Sementara itu, penguasaan dan pengolahan hati atas suatu kejadian ataupun keadaan yang sedih haruslah dikelola dengan kesadaran diri. Sejatinya, hati tetaplah hati yang murni, sedangkan rasa sedih ataupun penyakit hati hanyalah debu yang mengotori lapisan hati. Seperti peribahasa
“Ada setetes madu di setiap racun, ada setitik cahaya di setiap kegelapan dan ada secercah harapan di setiap kegagalan”.
Jika melihat suri tauladan Rasulullah yang memiliki hati suci berbalut kesabaran menghadapi Kafir Quraisy. Maka, menanam sebutir benih ketegaran dan kebahagiaan lewat jalur kesabaran dan keistiqomahan kemudian kembali menjalani kehidupan merupakan momentum kebangkitan hidup dari keterpurukan.
Kita sebagai umat Nabi Muhammad sudah seyogyanya meneladani beliau, dengan cara menghilangkan segala sifat ataupun perilaku yang dapat mengotori hati seperti iri, hasud, dengki, dan lain sebagainya kemudian isi dengan sifat dan perilaku terpuji.
Inspirasi Lahirnya Pengetahuan dan Teknologi Canggih
Pasca selesainya peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad menceritakan hal tersebut kepada penduduk Mekah. Masyarakat pun menanggapinya dengan berbagai respon, ada yang kagum mendengar kejadian yang dialami oleh Rasulullah. Suasana pun menjadi gaduh. Lantas Mut’im bin Adi berkata: “Wahai Muhammad! Seluruh ceritamu sebelumnya hanya biasa-biasa saja dan ringan, kecuali ceritamu pada hari ini.” Ia sangat kagum mendengar peristiwa Isra’ Mi’raj yang dialami Rasulullah.begitupun dengan Abu Bakar yang langsung mempercayainya dengan tanpa keraguan atas peristiwa yang dialami baginda Nabi.
Adapun golongan yang tidak percaya atas kejadian yang dialami baginda Nabi. Diriwayatkan bahwa kaum yang tidak mempercayainya menanyakan tentang keadaan Baitul Maqdis dan Rasulullah pun menyifati Baitul Maqdis dengan jelas kepada kaumnya. Hanya ada satu hal yang tidak beliau jelaskan yakni tentang jumlah pintunya. Beliaupun menjadi sedih, tak lama kemudian beliau didatangkan gambar Baitul Maqdis yang terletak didekat rumah Akil bin Abi Thalib. Sehingga ketika Kaum Quraisy menanyakan jumlah pintu Baitul Maqdis Rasulullah pun dapat menjawabnya dengan detail. Padahal sepengetahuan Kaum Quraisy, Baginda Nabi belum pernah menginjakkan kakinya ke Baitul Maqdis. Hal tersebut membuat kaum yang mempercai sejak awal semakin yakin atas kebenaran peristiwa Isra’ Mi’raj.
Kejadian tersebut sejatinya merupakan inspirasi bagi kita sebagai umat Nabi Muhammad, generasi yang hidup di zaman modern untuk mengembangkan pengetahuan dan inovasi guna menciptakan teknologi. Lahirnya televisi merupakan jawaban atas inovasi manusia yang terinspirasi dari kisah ketika diperlihatkannya gambaran Baitul Maqdis kepada Rasulullah pasca terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj.
Melestarikan Budaya ‘Sowan’
Sowan merupakan suatu adab dimana seseorang bersilaturahmi kepada orang yang lebih dihormati dengan tujuan mengikat tali silaturahmi ataupun tujuan lain. Menurut KBBI ‘sowan’ ialah menghadap (kepada orang yang dianggap harus dihormati) atau dapat pula diartikan berkunjung. Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj tersirat adab atau etika yang dipraktekan oleh Malaikat Jibril, dimana Malaikat Jibril meminta izin (isti’dzan) kepada setiap penjaga pintu langit dari langit pertama hingga langit ketujuh. Terkait hal tersebut Allah berfirman dalam QS. An-Nur Ayat 27 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu agar kamu (selalu) ingat.”
Selama perjalanan di langit, Rasulullah bertemu dengan para nabi terdahulu. Para Nabi sangat Bahagia karena dapat berjumpa dengan Nabi penutup para nabi. Nabi-nabi senior juga tak lupa memberi nasihat dan pesan kepada Nabi Muhammad terkait pembinaan terhadap umatnya kelak. Secara tidak langsung, selama melewati lapisan langit Nabi Muhammad bersama Malaikat Jibril telah sowan kepada para nabi ‘senior’. Melihat hal tersebut, budaya sowan sangat penting dilakukan oleh setiap orang yang ingin menjaga silaturahmi dan mendatangkan keberkahan dalam hidupnya, tak terkecuali di zaman sekarang. Dalam realitanya, budaya satu ini hampir lenyap dalam kehidupan saat ini. Kita sebagai generasi yang menyadari akan pentingnya budaya sowan, hendaknya mampu melestarikan dan merealisasikannya dalam kehidupan.
Isra’ Mi’raj sebagai peristiwa luar biasa yang mengandung motivasi besar baik dalam segi keimanan, ilmu pengetahuan dan teknologi serta memberikan dorongan yang kuat dalam peradaban. Adapun peristiwa “pembersihan dada” yang terjadi ketika Rasulullah akan melaksanakan ‘Mi’raj’ memberikan inspirasi bahwa ketika seseorang akan melaksanan tugas mulia hendaknya dipersiapkan pikiran dan hati yang bersih agar apa yang akan di jalankan membuahkan hasil yang gemilang.
Dalam rangka memperingati Isra’ Mi’raj, kita sebagai umat Islam hendaknya menjadikan peristiwa Isra Mi’raj tidak hanya sebagai pengetahuan belaka tetapi lebih kepada aplikasi amal ibadah kita yang semakin meningkat dengan taraf pengetahuan yang semakin matang.
Wallahu a’lam
Penulis: Syarifah Rufaida (PP. Al-Munawwir Komplek Q)
*tulisan ini meraih juara 3 Lomba Tulis Artikel Isra Mikraj 2022


