Wujud Cintanya Allah itu Cobaan Hidup

2 years ago
durasi baca: 2 menit


Oleh: KH. Muhtarom Busyro, M.Pd.

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Marilah bersama-sama kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Ketakwaan itu merupakan satu kunci untuk dua pintu; pintu kehidupan di dunia dan juga pintu kehidupan akhirat. Barangsiapa menghendaki kesuksesan hidup di dunia, janganlah pernah memalingkan diri dari takwa. Dan barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan di akhirat, maka ketakwaan jugalah yang menjadi modal utamanya.

Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Perlu diketahui, bahwa tidak selamanya kehidupan di dunia berjalan seperti yang apa yang diinginkan oleh manusia. Terkadang terasa berat cobaan yang menghadang, dan tidak jarang kehidupan berjalan lancar seperti yang diharapkan.

baca juga : Nasionalisme Kaum Muslimin”

Seringkali, manusia berbeda pandangan dalam menghadapi dua keadaan tersebut. Pada umumnya, manusia akan mengingat Allah Swt. dalam kondisi diuji atau dalam kesusahan. Akan tetapi, mereka akan lalai ketika hidup dalam kondisi bahagia.

Cinta Allah kepada manusia, terkadang tidak berbentuk materi atau kebahagiaan dunia yang lain. Tetapi, justru kecintaan itu seringkali berbentuk ujian dan cobaan dengan kadar berat tidaknya tergantung dengan kadar keimanan seseorang.

Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Dalam sejarah Rasul dan Nabi, sebagai wujud manusia yang paling disayangi dan dikasihi oleh Allah Swt. justru merekalah yang menerima cobaan serta ujian yang paling berat semasa hidupnya di dunia.

Ujian mereka sangat berat, melebihi ujian yang diberikan kepada siapapun di dunia. Demikian pula, secara berurutan, ujian demi ujian yang ditimpahkan kepada para Syuhada’ dan Shalihin yang jelas-jelas telah menyatakan diri telah beriman kepadaNya, Allah masih menyiapkan ujian kepada mereka.

Sebagaimana Firman Allah Swt. dalam Surat Al-Ankabut: 2-3:

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنۡ يُّتۡرَكُوۡۤا اَنۡ يَّقُوۡلُوۡۤا اٰمَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَـنُوۡنَ‏ ﴿29:2﴾ وَلَقَدۡ فَتَـنَّا الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِهِمۡ​ فَلَيَـعۡلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيۡنَ صَدَقُوۡا وَلَيَعۡلَمَنَّ الۡكٰذِبِيۡنَ‏ ﴿29:3

“Apakah manusia itu mengira, bahwa mereka akan dibiarkan saja mengatakan “kami telah beriman”. Sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang yang berdusta.”

baca juga : Ajakan Menyerukan Amar Ma’ruf Dan Nahi Munkar”

Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Jika kita mendapatkan sebuah musibah, segeralah bermuhasabah: mengingat-ingat kesalahan apa yang telah kita lakukan, dosa apa yang telah kita kerjakan, dan janganlah cepat-cepat berburuk sangka kepada Allah. Anggap saja musibah tersebut sebagai benih pelajaran bagi kita atas apa yang telah kita perbuat selama ini.

Nabi Saw. bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung besarnya ujian dan cobaan. Dan sesungguhnya Allah Swt. apabila mencintai suatu kaum, maka kaum itu diujinya terlebih dahulu. Maka barangsiapa yang rela mendapat ujian itu, mereka akan mendapatkan keridhoan Allah Swt. dan barangsiapa yang benci, mereka akan mendapatkan murka Allah”. (HR. Ibnu Majah)

Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Semoga khotbah ini menjadi pengingat agar kita senantiasa berbaik sangka kepada Allah Swt. dan semua yang terjadi di dalam kehidupan dunia ini sesungguhnya Allah telah menyiapkan benih hikmahnya.

Semoga kita senantiasa diberi petunjukNya. Allahumma Amin.

*Tulisan ini merupakan transkip Khotbah Jum’at dari KH. Muhtarom Busyro pada tanggal 5 Januari 2018/ 17 Rabi’ul Akhir 1439 Hijriah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *