Urgensi Sikap dalam Perjuangan

8 months ago
durasi baca: 3 menit

Oleh : KH Ali Maksum

Kekuatan pertahanan diri ulama, bukanlah barang murahan, bukan pula mudah membuatnya. Hal itu muncul sebagai buah dari sikap keimanan yang kuat, loyalitas penuh kepada Allah, dan keberanian menanggung resiko demi mempertahankan yang haq. Dalam bahasa agama kita, loyalitas penuh kepada Allah ini, disebut dengan ikhlas. Imam Ghazali menyatakan:
تجرد الباعث الواحد لله تعالى
“Ketunggalan motivasi diri, yaitu hanya karena Allah”

Dengan keikhlasan ini, kita selalu stabil dalam membawa diri, sebab pangkal pandangannya hanyalah Allah SWT. Lebih jauh dapat dikatakan, bahwa keikhlasan adalah suatu jenjang (dimensi) di mana bertemu antara prakarsa Allah dan keluhuran budi manusia. Karena itu, orang yang ikhlas akan selalu melihat jauh ke depan dengan cemerlang dan murni. Pendapat serta pemikirannya selalu terbimbing oleh nur Ilahi. Demikianlah hingga dalam suatu Hadits disebutkan oleh Imam Ghazali dalam kitab Arba’in fi Ushuluddin:
مامن عبد يخلص العمل اربعين يوما الا ظهرت ينابع الحكمة من قلبه على لسانه
“Tiada seorang hamba yang selama 40 hari berbuat ikhlas, melainkan mencuat sumber-sumber hikmah dari kalbunya pada lisan ucapannya”

baca juga : NU dan Kemaslahatan Dunia”

Di samping keikhlasan, yang menonjol dan dipunyai oleh Ulama, yaitu kejujurannya dalam berucap. Bahkan di zaman modern ini rupa-rupanya hanya pada Ulama-lah dapat dipercayai kejujuran ucapannya; dan hal ini wajar, karena memang merupakan pancaran bahkan personifikasi (penjelmaan) dari sikap ikhlas tersebut. Berkata jujur memang suatu hal yang tidak ringan, lebih-lebih jika hal itu harus dilakukan oleh orang yang tidak punya mental keikhlasan. Oleh karena itu, dua komponen ini, yaitu keikhlasan dan kejujuran berucap merupakan sesuatu yang mengagumkan jika dimiliki oleh seseorang, seperti halnya Sa’ad Zaghlul berkata:
يعجبني الصدق في القول والاخلص في العمل
“Membuat aku kagum, jujur dengan ucapan yang menyertai ikhlas tindakan”

Memang banyak fadlailul amal dalam ajaran agama Islam, tetapi dua hal tersebut di atas tampaknya akhir-akhir ini kurang mendapat perhatian dalam pengamalannya pada kehidupan kita sehari-hari.

Keikhlasan dan kejujuran berucap, memang berat pengamalannya, karena amat manis buahnya. Dengan dua hal ini akan beres segala-galanya. Dengan keikhlasan di dalam mengabdi terhadap NU, akan benar-benar mantap di dalam memperjuangkan kepentingan umat dan warga. Dan dengan ucapan yang jujur, segala informasi dapat terhimpun secara akurat untuk akhirnya dapat ditangani serta diselesaikan permasalahannya setepat-tepatnya.

Jadi dengan demikian, keikhlasan dan kejujuran merupakan modal besar yang ketinggian nilainya sangat tinggi, merupakan senjata ampuh yang hanya dimiliki oleh orang berbudi luhur saja, bahkan merupakan senjata pamungkas yang menebang habis segala rintangan di tengah jalan. Kemudian, tinggal kita sendiri mau menggunakan atau tidak.

baca juga : Belajar dari Sejarah Kejayaan NU”

Dua sikap tersebut menjadi kunci keberhasilan dalam berikhtiar menggerakkan kembali roda organisasi ini, sehingga berputar laju dan stabil, serta penuh dengan kegiatan-kegiatan yang menjadi fitrah NU. Di samping itu, sebagai bangsa Indonesia kita harus turut mensukseskan sidang umum MPR serta turut bertanggung jawab pelaksanaannya nanti.

Lebih jauh dari itu, rupa-rupanya kita masih perlu sekali lagi menggalakkan warga NU dalam berpartisipasi terhadap program pembangunan nasional ini. Justru demikian, karena pembangunan ini merupakan pengisian terhadap kemerdekaan yang berhasil kita raih di tahun 1945; padahal proklamasi sendiri dapat dibaca sebagai hasil dari perjuangan bangsa selama bertahun-tahun sebelumnya. Dan perjuangan yang selama ini, cukup membuktikan partisipasi yang besar dari para leluhur kita sendiri, para Kyai dan Ulama. Kita mengetahui siapa Pangeran Diponegoro dengan beberapa Kyai pelindungannya. Kita kenal juga siapa Sultan Hasanuddin Makasar, Imam Bonjol, dan Teuku Umar. Dan yang masih benar-benar membayang di mata kita adalah peranan pasukan Hizbullah di bawah pimpinan Kyai Zaenul Arifin dan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur. Beliau telah berjuang mati-matian untuk meraih kemerdekaan, dan setelah diraih apakah kita tidak semangat untuk mengisinya dengan pembangunan yang bermanfaat?

Terakhir, selaku Rois Am (Pemangku Jabatan Ketua Umum PBNU), perkenankanlah menganjurkan sebagai berikut:
1. Meningkatkan kewaspadaan untuk menjaga stabilitas nasional.\
2. Menggalang kembali persatuan dan kesatuan warga, sebagai bagian dari kesatuan Bangsa Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *