Pengantar Sejarah Alquran (8): Kodifikasi Alquran di Masa Khalifah Usman bin Affan

durasi baca: 2 menit
Sumber Foto: Kaheel7

#Pengantar_Sejarah_Alquran (8)
Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A

Jika banyaknya sahabat penghafal Alquran yang gugur (syahid) dalam perang Yamamah menjadi latar belakang kodifikasi Alquran di masa Abu Bakar, maka perbedaan bacaan antar tabi’in adalah faktor di balik pengumpulan Alquran di masa Usman. Yang menjadi pertanyaan adalah perbedaan bacaan yang seperti apa? Bukankah perbedaan bacaan sudah ada sejak masa Nabi? Dalam kesempatan ini, penulis akan memaparkan pembahasan yang berangkat dari dua pertanyaan tersebut.

Wilayah negara Islam yang kian meluas, membuat banyak orang-orang non Arab masuk agama Islam dan berniat untuk mendalami ajaran Islam, termasuk Alquran, dari sahabat-sahabat yang berada di wilayah tersebut. Orang Kufah membaca qira’at Ibnu Mas’ud (w. 652 M), orang Bashrah membaca qira’at Abu Musa al-Asy’ari (w. 52 H) dan seterusnya. Akhirnya, muncul perbedaan bacaan di kalangan murid-murid sahabat, diperparah dengan egoisme membanggakan masing-masing bacaannya, bahkan ada yang saling meng-kafirkan hanya karena beda qira’at.

Ada riwayat yang menjelaskan bahwa perbedaan qira’at antar para qurra’ yang terjadi pada era sahabat Usman di Madinah menjadi faktor di balik kodifikasi Alquran. Riwayat lain menyebutkan bahwa perbedaan yang terjadi di beberapa wilayah yang jauh dari ibu kota di mana Hudzaifah bin al-Yaman datang ke Madinah melapor ke khalifah Usman perihal tersebut. Kejadian ini terjadi sekitar tahun 25 H.

Baca Juga : Pengantar Sejarah Alquran (7): Mushaf-Mushaf Sahabat Sebelum Kodifikasi Usman bin Affan 

Pada akhirnya, sahabat Usman membentuk tim kodifikasi Alquran yang beranggotakan sekitar 10 sahabat, antara lain: Zaid bin Tsabit (w. 637), ‘Abdullah bin al-Zubair (w. 692), Sa’id bin al-‘Ash (w. 679) dan yang lain. Mushaf yang masih tersimpan di rumah Hafsah binti Umar (w. 45 H) dijadikan sebagai acuan utama.

Hasil kerja dari tim ini adalah beberapa buah mushaf yang dikirim ke kota-kota besar, seperti: Kufah, Bashrah, Syam, dan Madinah. Meskipun kodifikasi mushaf telah usai, akan tetapi belum menyelesaikan pertikaian yang terjadi, beberapa ulama berbeda pendapat tentang jumlah mushaf yang ditulis, yakni antara empat sampai tujuh mushaf. Perlu diingat, antara rasam dari mushaf-mushaf ini masih ditemukan perbedaan, perbedaan ini dimaksudkan agar mencakup perbedaan qira’at yang tidak bisa ditulis dengan satu rasam. Dari sini muncul ilmu rasam mushaf, dan kitab al-Muqni’ karya Abu ‘Amr al-Dani (981-1053 M) menjadi salah satu rujukan primer ilmu ini.

Baca Juga: “Pengantar Sejarah Alquran (6): Kodifikasi Alquran di Masa Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq

Mushaf-mushaf lain selain mushaf usmany kemudian dibakar, termasuk mushaf yang dihimpun di masa Abu Bakar dibakar sesudah wafatnya Hafsah binti Umar. Disebutkan dalam riwayat bahwa sahabat-sahabat lain sepakat dengan apa yang dilakukan oleh sahabat Usman, hanya Abdullah bin Mas’ud yang dikabarkan enggan menyerahkan mushafnya.

Mushaf-mushaf Usmany dikirim ke kota-kota besar bersama dengan guru yang mengajar bacaan mushaf tersebut. Ada pertanyaan mengenai pembatasan bacaan, jika perbedaan qira’at di masa Nabi dikaitkan dengan al-ahruf al-sab’ah yang disebutkan dalam hadis-hadis Nabi, lalu apakah mushaf Usmany masih mencakup al-ahruf al-sab’ah? Mengenai hal itu, terdapat tiga pendapat: pertama, masih mencakup seluruh al-ahruf al-sab’ah. Kedua, hanya mencakup satu huruf. Ketiga, mencakup huruf yang memungkinkan untuk dibacakan melalui rasam mushaf tersebut. Mushaf-mushaf ini ditulis tanpa titik atau tanda baca (harakat/syakal).

Pertemuan selanjutnya akan dijelaskan perkembangan dan penambahan titik dan tanda baca. Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *