Pengantar Sejarah Alquran (7): Mushaf-Mushaf Sahabat Sebelum Kodifikasi Usman bin Affan

durasi baca: 3 menit

Oleh:Ust. H. Abdul Jalil Muhammmad, M.A

Pada pertemuan sebelumnya, sudah disampaikan bahwa belum pernah ada pengumpulan Alquran dalam bentuk, dan sempurna di sebuah mushaf. Ini adalah riwayat yang mashur, karena di riwayat lain ada yang menyebutkan sahabat Ali bin Abi Thalib yang pertama melakukan pengumpulan Alquran pasca wafatnya kanjeng Nabi.

Pada masa Khalifah Umar dan Utsman, para sahabat mulai menetap di beberapa wilayah di luar Madinah. Terdapat beberapa riwayat bahwa ada sahabat-sahabat yang memiliki mushaf pribadi, bahkan istri Nabi seperti Hafsah dan Aisyah juga memiliki mushaf. Dalam literatur-literatur klasik kita sering menjumpai ungkapan: (wa fi mushaf … / dan di dalam mushaf …). Yang menarik adalah mushaf-mushaf ini mempunyai beberapa perbedaan dengan mushaf utsmany yang kita kenal sekarang, perbedaan ini bisa dalam aspek: bacaan, tulisan, jumlah, dan urutan surah.

Informasi tentang jumlah dan urutan surah dalam mushaf-mushaf sahabat dapat dijumpai di kitab al-Fihrist karya Ibnu al-Nadim (laporan pertama), al-Itqan karya al-Suyuthi (sebagai laporan kedua) atau karya lain. Sedang mengenai bacaan yang berbeda bisa didapati dari kitab al-Mashahif karya Ibn Abi Daud al-Sajistani dan kitab-kitab Tafsir. Untuk membaca lebih lanjut tentang topik bisa dijumpai dalam kitab antara lain: Tarikh al-Qur’an karya Theodore Noldeke, Tarikh al-Qur’an karya ‘Abdussabur Syahin (1966), Arthur Jeffery (1937), Materials For The History of The Text of The Qur’an, Taufik Adnan Amal (2011), Rekonstruksi Sejarah al-Quran.

Baca juga : Pengantar Sejarah Alquran (5): Alquran Pada Masa Nabi (Periode Madinah)”

Dari sekian mushaf sahabat, ada empat mushaf yang terkenal, yaitu: Mushaf Ali bin Abi Thalib, Mushaf Ibnu Mas’ud, Mushaf Ubay bin Ka’b, dan Mushaf Ibnu ‘Abbas. Di bawah ini sekilas kita akan membahas beberapa isu seputar Mushaf Ibnu Mas’ud.

Dari beberapa riwayat tentang Mushaf Ibnu Mas’ud disebutkan bawah jumlah dan urutan surah di mushaf tersebut berbeda dengan mushaf yang kita baca sekarang, ditambah bahwa di mushaf tersebut tidak ada surah al-Fatihah dan al-mu’awwizatain (surah al-Falaq dan al-Nas), bahkan ada sarjana Barat yang mengatakan jika Ibnu Mas’ud tidak memasukkan tiga surah tersebut karena dia meragukannya sebagai bagian dari Alquran. Apakah ini benar?

Jumlah surah Alquran ada 114, Ibnu al-Nadim dalam al-Fihrist mengatakan jumlah surah dalam mushaf Ibnu Mas’ud ada 110 surah, tapi setelah dihitung daftar surah yang ditulis ditemukan hanya 105. Sedangkan jumlah surah pada riwayat kitab al-Itqan ada 108 surat. Menurut Taufik Adnan Amal (2011) hal ini bisa saja karena kesalahan dari perawi atau penulis daftar surah.

Sebagian ulama yang cenderung meyakini jika urutan surah dalam mushaf adalah ijtihadi bukan tauqifi. Berdalil pada urutan surah di dalam mushaf-mushaf sabahat tidak sama, seandainya urutan surah itu tauqifi maka tidak akan ditemukan perbedaan dalam urutan surah.

Baca juga : Pengantar Sejarah Alquran (6): Kodifikasi Alquran Pada Masa Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq”

Ulama berbeda pendapat soal isu Mushaf Ibnu Mas’ud (menyoal urutan dan jumlah surah, tidak mencantumkan al-Fatihah dan Mu’awwidzatain), Pertama, ulama yang saya sebut “al-mutsbitun”, membenarkan riwayat-riwayat itu karena kesahihan sanadnya. Mereka mengatakan itu ijtihad dari Ibnu Mas’ud, meskipun tidak ada sahabat yang mengikuti pendapatnya. Kedua, “al-Naafun”, ulama yang tidak membenarkan riwayat-riwayat itu, mereka berdalil bahwa riwayat yang shahih tentang qira’ah Ibnu Mas’ud telah sampai ke kita melalui qori-qori yang terkenal dan semua membaca al-Fatihah dan Mu’awwidzatain. Imam Ashim, Imam Hamzah, dan Imam Ali al-Kisa’I mempunyai sanad yang tersambung kepada Ibnu Mas’ud. Ketiga, ulama yang mencoba melakukan penafsiran/interpretasi atas riwayat-riwayat tersebut.

Beberapa argumentasi al-Baqillani dalam kitab al-Intishar juga penting untuk dibaca. Dalam tesisku,saya berpendapat bahwa Ibnu Mas’ud meyakini bahwa al-Fatihah dan al-Mu’awwidzatain itu bagian dari Alquran, itu berdasarkan beberapa qiraah syadzah, riwayat tafsir, dan sejarah.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *