Pengantar Sejarah Alquran (5): Alquran Pada Masa Nabi (Periode Madinah)

durasi baca: 4 menit


Oleh:Ust. H. Abdul Jalil Muhammmad, M.A

Yatsrib merupakan sebuah oasis berjarak 440 km dari utara kota Mekah. Ia mayoritas dihuni oleh orang Arab dan Yahudi. Setelah peristiwa hijrah Nabi yang membuat Nabi menetap di sana, Yatsrib disebut dengan julukan kota Nabi (madinah al-Nabi) atau al-Madinah al-Munawwarah (kota yang bercahaya).

Ketika Kanjeng Nabi sampai di Madinah (12 Rabi’ul Awwal 622 M), aktivitas pertama kali yang beliau lakukan adalah membangun masjid. Tanah yang dipakai Nabi untuk membangun masjid, pada mulanya milik dua anak yatim dari Bani Najjar yang bernama Sahl dan Suhail. Kemudian Nabi membelinya untuk membangun masjid dan rumah-rumahnya. Pada masa selanjutnya, masjid ini menjadi pusat pendidikan dan terutama pengajaran Alquran.

PUSAT PENGAJARAN ALQURAN DI MADINAH
Di antara tempat-tempat yang digunakan untuk pengajaran Alquran di Madinah adalah: 1) Shuffah: Shuffah adalah suatu tempat yang telah dipakai untuk melaksanakan aktivitas pendidikan. Biasanya tempat ini menyediakan pemondokan bagi pendatang baru (muhajirin) yang tergolong miskin dan tidak punya tempat tinggal. Di sini, para sahabat diajarkan membaca dan menghapal Alquran secara baik dan benar, di samping juga diajarkan materi syariat Islam. Nabi mengangkat Ubadah bin ash-Shamit, Abdullah bin Said bin al-Ash dan Ubay bin Ka’b sebagai guru di shuffah.

2) Dar al-Qurra’: Dar al-Qurra’ secara etimologi berarti rumah para pembaca/penghapal Alquran. Semula ia merupakan rumah milik Makhramah bin Naufal. 3) Kuttab: Kuttab berarti tempat belajar atau tempat di mana dilangsungkan kegiatan tulis menulis. Biasanya Kuttab ini dipakai sebagai tempat pendidikan yang dikhususkan bagi anak-anak. Ahmad Syalabi, Sejarawan asal Mesir, membedakan antara kuttab yang khusus untuk mengajar anak-anak baca tulis dan kuttab yang digunakan untuk mengaji Alquran dan dasar-dasar agama. Kuttab yang digunakan untuk belajar baca tulis sudah ada sebelum Islam, walaupun kuttab semacam ini masih sangat sedikit. Sedangkan kuttab yang digunakan untuk mengaji Alquran muncul kira-kira sesudah masa al-Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafi (Penguasa dan Menteri Pertahanan di masa Dinasti Umayyah. Wafat th.714).

4) Masjid: Semenjak masjid berdiri di zaman Nabi, ia telah dijadikan pusat kegiatan dan informasi berbagai masalah kaum Muslim, baik yang menyangkut pendidikan maupun sosial dan ekonomi. Sebagai contoh, ketika turun ayat Alquran, kanjeng Nabi langsung keluar menuju masjid dan membacakan kepada sahabat. Sedangkan aktifitas lain di masjid yang dilakukan oleh para sahabat adalah membentuk halaqat (lingkaran) di masjid untuk melakukan tadarus Alquran.

5) Rumah para sahabat: Rumah para sahabat juga dipakai untuk belajar dan mengajar meskipun tidak secara rutin. Misalnya apabila Nabi kedatangan tamu-tamu dari daerah sekitar Madinah, mereka menginap di rumah para sahabat. Seraya menginap, mereka belajar Alquran dan ajaran Islam dari Nabi atau sahabat pemilik rumah.

baca juga : Pengantar Sejarah Alquran (2): Kondisi Masyarakat Arab Sebelum Turunnya Alquran”

KESERIUSAN BELAJAR ALQURAN
Terdapat sebuah peristiwa yang menunjukkan bahwa di Madinah sudah banyak sahabat yang serius belajar dan menghapal Alquran, yaitu peristiwa yang dikenal dengan bi’r ma‘unah (Sumur ma’unah). Ceritanya demikian, dalam perjalanan menuju sekitar daerah Najed, tidak kurang dari tujuh puluh sahabat yang dikenal sebagai al-qurra’ diutus oleh Nabi kepada kabilah Bani Amir dan yang di sekitarnya, di tengah-tengah misi mulia tersebut nasib naas menjemput, para sahabat itu terbunuh di tengah perjalanan. Yang mengakibatkan misi dakwah tersebut gagal. Peristiwa ini telah terjadi pada bulan shafar tahun keempat Hijriyah.

Meskipun bangsa Arab dikenal sebagai bangsa ummi (al-Jumu’ah;2) dan Nabi juga berasal dari bangsa tersebut (al-A’raf:157), tetapi dalam upayanya untuk menjaga Alquran, selain dengan anjuran untuk menghapalkannya beliau juga memberdayakan para juru tulis. Sahabat yang pertama kali menjadi juru tulis (katib) untuk Nabi di Madinah adalah Ubay bin Ka‘b (w.642). Jika Ubay tidak ada atau berhalangan maka Nabi mengundang Zaid bin Tsabit (w.15 H). Tugas para juru tulis yakni menulis setiap wahyu yang diterima oleh Nabi dan mengurutkannya sesuai dengan perintah Nabi saw. berdasarkan petunjuk Tuhan melalui Jibril a.s. (tauqifi). Tentu, medium penulisan yang dipakai masih berupa lempengan batu, tulang, kulit binatang, dan pelepah kurma.

Oleh karena penjagaan Alquran cenderung masih didominasi para penghapal Alquran, di samping proyek penulisan Alquran masih berjalan, dalam pembelajaran Alquran para sahabat mengacu kepada talaqqi dan pendengaran dari Nabi atau dari sahabat yang menerima dari Nabi. Tidak mengacu kepada shahifah-shahifah (Alquran yang tertulis).

Selain para sahabat yang menjaga kemurnian Alquran dengan menghapalkannya, sang perantara wahyu; Malaikat Jibril di setiap tahun pada bulan Ramadan juga ikut menjaga dengan melakukan tadarusan Alquran bersama Nabi Muhammad. Tadarus pada saat Ramadan tidak selalu berakhir baik, beliau mengarungi konflik pertentangan/Mu‘aradhah pada bulan Ramadan terakhir sebelum Nabi wafat dilakukan dua kali (dalam sejarah Alquran dikenal dengan istilah al-‘ardhah al-akhirah). Nabi mengartikannya sebagai tanda dekatnya ajal beliau. Hanya Fatimah, putri Nabi, yang diberitahu rahasia berita ini oleh Nabi.

baca juga : Pengantar Sejarah Alquran (3): Konsep Wahyu”

Pendidikan Nabi kepada para sahabat melahirkan banyak sahabat yang tercatat namanya dalam sejarah sebagai penghapal dan guru Alquran, atau dengan istilah awalnya qurra’. Tugas mereka sebagai para qari’ ini, kelak yang akan meneruskan perjalanan pengajaran Alquran pada generasi selanjutnya.

Dari sekian sahabat penghapal Alquran, Muhammad al-Zahabi dalam buku: Ma’rifah al-Qurra’ mencatat nama tujuh sahabat yang disebut sebagai thabaqah pertama. Mereka adalah ‘Usman bin ‘Affan (w. 656), ‘Ali bin Abi Talib (w. 661), Ubay bin Ka‘b (w. 642), Zaid bin Sabit (w.15 H), ‘Abdullah bin Mas‘ud (w. 645), Abu al-Darda’ (w.652) dan Abu Musa al-Asy‘ari (w. 664). Al-Zahabi, guru besar tafsir pada Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar ini menulis biografi tujuh sahabat tersebut dikarenakan dua hal. Pertama, mereka telah disebut dalam catatan sejarah sebagai orang yang pernah belajar dan menghafal Alquran langsung dari Nabi. Kedua, sanad al-qira’at al-‘asyarah bersambung kepada mereka.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *