Pengantar Sejarah Alquran (3): Konsep Wahyu

Oleh:Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A

Bagaimana bisa seorang yang ingin mengkaji Alquran tetapi tidak mengenal konsep wahyu, padahal Alquran itu wahyu Allah? Lalu apa itu wahyu? Apakah hanya Nabi yang menerima wahyu?

Dalam kesempatan ini, penulis akan menjabarkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut di bawah ini.

Secara bahasa, wahyu berarti pemberitahuan atau pemberi informasi secara rahasia (I’laam fi khafa’). Di dalam Alquran disebutkan bahwa terdapat beberapa makhluk Allah yang telah menerima wahyu, walaupun para mufasir mencoba mengartikannya secara berbeda-beda.

Mengenai siapa saja yang menerima wahyu, ayat-ayat berikut telah mewakili jawaban atas pertanyaan ketiga di atas. “Wa-auha Rabbuka ila al-nahl” (dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah) (Qs. al-Nahl: 68), “wa-auhaina ila ummi Musa” (dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa) (Qs. al-Qashash: 7), “fa-kharaja ‘ala qaumihi minal mihrab fa-auha ilaihim” (maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya lalu ia memberi isyarat kepada mereka) (Qs. Maryam: 11).

Sangat jelas dari ayat-ayat ini dapat dilihat bahwa penerima “wahyu” tidak hanya Nabi, tapi bisa manusia selain Nabi seperti ibu Nabi Musa, makhluk seperti lebah, gunung dan lainnya. Ini berbeda dengan wahyu sebagai istilah dalam syariat yang berarti Kalam Allah yang diturunkan kepada salah satu Nabi-Nya.

baca juga : Pengantar Sejarah Alquran (1): Kajian Historis Teks Alquran dari Berbagai Aspek”

Apakah orang Arab sudah mengenal pemahaman atau kepercayaan adanya hubungan yang terjadi antara dua dunia yang beda dimensi—dunia lain selain dunia nyata. Seperti fenomena penyair atau dukun yang bisa melakukan kontak atau berkomunikasi dengan sosok jin sudah dikenal luas. Faktor mitologis itu akan terlihat jelas dalam beberapa tuduhan orang Quraisy terhadap Alquran dan juga kepada Nabi Muhammad Saw.

Alquran adalah kalam ilahi yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad selama sekitar 23 tahun. Masyarakat Arab, terutama yang bertempat di wilayah Hijaz, adalah masyarakat yang pertama kali mendengar dan berinteraksi dengan Alquran. Semua wahyu Alquran diturunkan melalui Malaikat Jibril dan ini yang disebut dengan al-wahy al-jaly, lihat Qs. al-Syu’ara’: 192-195. Dengan kata lain, Alquran tidak diturunkan kepada Nabi melalui ilham, ketika Nabi tidur (dalam mimpi) atau berbicara secara langsung dengan Allah tanpa perantara.

Sebelum menerima wahyu pertama, dengan rahmat dan Allah, Nabi Muhammad sudah melakukan semacam pemanasan atau persiapan. Hal tersebut dapat dilihat dalam (tahannuts) yang beliau lakukan di gua Hira’ yang berlangsung selama beberapa hari bahkan berapa minggu. Ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa Nabi melakukan (tahannuts) di gua Hira’ tersebut setiap satu bulan sekali dalam setahun ketika beliau mendekati usia empat puluh tahun.

baca juga : Pengantar Sejarah Alquran (2): Kondisi Masyarakat Arab Sebelum Turunnya Alquran”

Meskipun wahyu telah turun, ulama secara otoritatif berbeda pendapat mengenai tanggal penurunan wahyu, ada dua perselisihan pendapat: Pertama, Alquran diturunkan pada tanggal 17 Ramadan ketika Nabi berusia 41 tahun. Kedua, ia diturunkan pada tanggal 24 Ramadan ketika Nabi berumur 40 tahun. Mulai saat ini, tiap kali Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad beliau menerimanya, menghafalnya dan membacakannya kepada sahabat laki-laki dan perempuan.

Mengenai fenomena wahyu Alquran, tidak ada yang tahu dan sanggup menjelaskan tentang hal tersebut kecuali Nabi sendiri. Sahabat hanya bisa menceritakan tentang fenomena atau gejala yang dialami Nabi pada tubuhnya, seperti berkeringat padahal cuaca sedang dingin, atau tubuhnya bertambah berat hingga bisa dirasakan oleh sahabat yang berada di samping Nabi. Lalu, bagaimana respon masyarakat Arab di Mekah ketika mendengar wahyu Alquran.

Kita lanjut di pertemuan berikutnya. Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan