Pengantar Sejarah Alquran (4): Sejarah Alquran Pada Masa Nabi (Periode Mekah)

durasi baca: 3 menit

Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A

Mekah adalah salah satu kota termasyhur dalam sejarah Islam. Karena di kota inilah Rasullah yang terakhir diutus kepada umat manusia, yakni Nabi Muhammad saw. Beliau dilahirkan pada tahun 570 M. Berdasarkan nama tempat ini (Mekah), tersebutlah sebuah istilah bagi periodesasi dakwah Nabi yang pertama, yakni periode Mekkah (al-fatrah al-makkiyyah). Periode ini merujuk kepada aktifitas Nabi Muhammad selama masih berada di Mekah (pra-hijrah) hingga beliau hijrah ke Madinah pada tahun 622 M.

Dakwah di periode ini masih menitikberatkan kepada masalah akidah dan keimanan. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa ayat-ayat Alquran yang diturunkan pada periode ini umumnya tidak jauh dan atau berkaitan dengan masalah tersebut.

Adapun sahabat-sahabat yang ikut menemani perjuangan Nabi di periode ini disebut sebagai sahabat as-Sabiqun ila al-Islam/orang-orang pertama yang mendengar dan mempelajari Alquran dari Nabi. Para sahabat itu adalah istrinya Khadijah bint Khuailid, ‘Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah dan Abu Bakr al-Shiddiq ra.

Pada mulanya dakwah Islam disampaikan secara sembunyi-sembunyi, hanya melalui dialog dan pembicaraan dari hati ke hati. Melihat kondisi yang sangat belum memungkinkan untuk Nabi berdakwah secara terang-terangan di Mekah.

Lambat laun, tatkala jumlah orang-orang yang memeluk Islam sudah mencapai sekitar dua lima orang, Nabi menambah metode dakwah penyebaran Islam baru dengan menyelenggarakan pengajaran klasik secara tetap di kediaman sahabat Al-Arqam bin Abi Al-Arqam. Di rumah ini para sahabat belajar dan menghafalkan ayat-ayat Alquran yang telah diwahyukan kepada Nabi. Letak rumah itu tak jauh dari Ka‘bah, persis terletak di selatan bukit Shafa.

Kaum Quraisy pun tidak curiga terhadap adanya kegiatan pengajaran yang dilakukan Nabi di tempat itu. Hal ini disebabkan, pertama, keislaman Al-Arqam masih dirahasiakan; kedua, pihak kafir Quraisy tidak menyangka bahwa Al-Arqam yang kaya dan berasal dari keturunan Bani Makhzum, salah satu kabilah yang termasuk kelompok kaum elit, juga telah menjadi pengikut Nabi Muhammad.

Baca juga : Pengantar Sejarah Alquran (2): Kondisi Masyarakat Arab Sebelum Turunnya Alquran”

Di antara sahabat yang mengajarkan Alquran di Mekkah adalah sahabat Khabbab bin al-Artt yang mendatangi muridnya dari rumah ke rumah, sehingga dapat juga dikatakan dia salah satu guru privat Alquran di periode Mekkah. Dia memeluk Islam sebelum adanya pengajian di rumah Al-Arqam.

Dalam salah satu riwayat mengenai Qishah Islam Umar diceritakan bahwa ketika sebelum Umar bin al-Khattab masuk rumah adiknya Fatimah, beliau dengar suara Khabbab bin al-Artt sedang membaca Alquran dari sebuah shahîfah (lembaran) bersama Fathimah dan suaminya. Khabbab bersembunyi di salah satu ruangan rumah tersebut ketika merasa bahwa Umar akan masuk rumah. Umar masuk dan bertengkar dengan Sa‘id dan Fathimah hingga melukai kepala adiknya, kemudian Umar meminta untuk melihat shahîfah yang tadi dia baca, akhirnya Umar masuk Islam karena tersentuh hatinya terhadap keindahan ayat-ayat Alquran.

Dari riwayat tadi dapat diketahui bahwa beberapa sahabat memiliki catatan Alquran sejak di periode Mekah. Meskipun fungsinya sekedar hanya sebagai koleksi pribadi atau untuk digunakan sebagai sarana belajar Alquran saja. Kendati demikian, riwayat-riwayat mengenai penulisan Alquran di Mekah relatif masih sangat sedikit.

Sahabat Nabi yang lain yang termasuk orang-orang pertama yang mempelajari atau membacakan Alquran dari Rasulullah saw adalah sahabat Abdullah bin Mas’ud. Beliau merupakan sahabat pertama yang membacakan Alquran dengan terang-terang di hadapan orang kafir Mekah. Dari usaha tersebut banyak sahabat yang masuk Islam karena mendengar bacaan Alquran. Bahkan kaum Quraisy yang tidak masuk Islam, dalam beberapa kesempatan, mereka mencoba mendengarkan Alquran dari Nabi, meskipun secara bersembunyi.

Di sisi lain, pemuka-pemuka Quraisy terus berusaha menghalangi kaumnya untuk mendengarkan Alquran, dikarenakan pengaruh kuat yang dipancarkan dari Alquran terhadap orang yang mendengarkannya. Hal ini bisa dilihat dalam riwayat Utbah bin Rabi’ah ketika mendatangi kanjeng Nabi dan menawarkan beberapa hal, seperti harta dan jabatan. Akan tetapi, pada akhirnya usaha itu gagal karena seketika itu ia mendengar lantunan ayat-ayat Alquran dari Nabi.

Tidak hanya orang-orang di Mekah yang terpengaruhi bacaan Alquran, di luar Mekah pun demikian. Sebut saja al-Thufail bin ‘Amr al-Dausi, seorang penyair yang mempunyai kedudukan tinggi di kaumnya. Dalam sebuah riwayat disebutkan, para pemuka kafir Qurasiy mencoba menghalangi dia untuk bertemu dan mendengar Alquran dari Nabi, tetapi tatkala dia mendengar bacaan Alquran, ia langsung berkomentar: “saya belum pernah mendengar ungkapan yang lebih indah dari ini”. Di waktu itu juga al-Thufail masuk Islam.

Baca juga : Pengantar Sejarah Alquran (3): Konsep Wahyu”

Kegiatan pendidikan dan dakwah Nabi dan sahabat sebelum Nabi hijrah ke Madinah pun membuahkan hasil. Yakni Alquran telah tersebar dan dihafal oleh beberapa kabilah yang berasal dari dalam maupun luar kota Mekah. Fakta bahwa jumlah surat-surat makkiyyah lebih banyak dari surat-surat madaniyyah memberi isyarat atau menunjukan bahwa sejak periode Mekah sudah banyak sahabat yang memfokuskan kegiatan belajarnya atau aktifitas sehari-harinya untuk mempelajari dan menghafalkan ayat-ayat Alquran.

Keberhasilan itu bukan berarti bebas halangan. Nabi dan para sahabatnya sempat merasa kesulitan tatkala menghadapi tekanan dan dari kaum Quraisy Mekah. Dan pada akhirnya Allah swt. mengizinkan Rasul-Nya untuk melakukan hijrah ke Yatsrib (Madinah), Nabi berhijrah bersama sahabat Abu Bakr dan tiba di Madinah pada tanggal dua belas Rabi‘ al-Awwal 622 M.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *