Pembesar Ulama yang Mengingkari Kebenaran Kitab Ihya’ Ulumuddin Imam Al-Ghazali

Esai Ngaji 0   245 views
durasi baca: 3 menit

Almunawwir.com – Syekh al Yafi’i menceritakan bahwa pernah suatu ketika Syekh al Akbar Abul Hasan Ali bin Hirzihim (seorang ahli fiqih yang terkenal di negeri Maghrib/Maroko) sangat mengingkari kebenaran kitab Ihya’ Ulumuddin, sedangkan beliau sendiri adalah orang yang sangat ditaati oleh banyak orang dan didengar ucapannya karena kealiman dan kezuhudannya. Abul Hasan Ali bin Hirzihim kemudian memerintahkan untuk mengumpulkan semua naskah-naskah kitab Ihya’ Ulumiddin yang didapatkan oleh masyarakat dan ingin membakarnya di depan Masjid Jami’ pada hari Jum’at.

Pada malam jum’at (sebelum pelaksanaan pembakaran kitab), beliau bermimpi seakan-akan masuk ke dalam Masjid Jami’, yang ternyata di dalam masjid itu sudah hadir Rasulullah Muhammad saw bersama Sayyidina Abu Bakar ash Shiddiq ra dan Sayyidina Umar bin Khattab ra. Adapun Imam al Ghazali sendiri sedang berdiri di hadapan Rasulullah Muhammad saw.

Ketika Syekh Ibnu Hirzihim menghadap, lalu Imam al Ghazali berkata:

“Orang ini adalah orang yang memusuhiku, ya Rasulullah! Jika perkara yang terjadi ini (kitab ihya’) seperti yang dia sangkakan, maka aku akan bertaubat kepada Allah swt! Namun jika sesuatu yang aku dapat (kitab Ihya’) itu berasal dari keberkahanmu dan berasal dari sunahmu, maka ambilkanlah untukku akan hakku dari orang yang memusuhiku ini.”

Kemudian kitab Ihya’ diberikan kepada Rasulullah Muhammad saw, lalu beliau membukanya selembar demi selembar, (mulai) dari awal kitab hingga akhir, lalu beliau bersabda:

“Demi Allah, sesungguhnya (kitab) ini adalah sesuatu yang sangat bagus.”

Kemudian kitab Ihya’ ini diberikan kepada Sayyidina Abu Bakar ash Shiddiq ra, beliau pun melihatnya dan menganggap baik kitab tersebut, kemudian beliau berkata:

“Benar, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, sesungguhnya (kitab) ini ialah kitab yang sangat baik.”

Kemudian (kitab ini) diberikan lagi kepada “al Faruq” Sayyidina Umar bin Khattab ra, lalu beliau melihat isi kitab itu, dan beliau pun memujinya sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyidina Abu Bakar ash Shiddiq ra.

Baca Juga: Setangkup Harapan yang Ditunggu Usai Kematian

Kemudian Rasulullah Muhammad saw memerintahkan untuk membuka gamis al Faqih Ali bin Hirzihim, dan menyuruh untuk mencambuk serta menghukumnya dengan hukuman pembuat kebohongan. Ibnu Hirzihim pun dicambuk dan dipukul. Ketika cambukan mencapai lima kali, Sayyidina Abu Bakar ash Shiddiq ra memintakan maaf untuknya, lalu beliau berkata :

“Ya Rasulullah, mungkin dia menyangka bahwa apa yang ada didalam kitab Ihya’ itu menyalahi sunahmu, tetapi dia salah dalam sangkaannya.”

Imam al Ghazali pun ridho (rela) dan menerima permintaan maaf dari Syekh Ibnu Hirzhim.

Sesaat kemudian Syekh Ibnu Hirzihim pun terbangun dari mimpinya dan ternyata bekas cambukan tersebut masih membekas di punggungnya. Lalu ia memberitahukan kepada murid-muridnya mengenai mimpi tersebut dan bertaubat kepada Allah swt atas pengingkarannya kepada Imam al Ghazali dan beristighfar.

Masih tersisa rasa sakit cambukan tersebut dalam waktu yang lama, dan dia terus-menerus memohon ampunan kepada Allah swy dan meminta syafa’at kepada Rasulullah Muhammad saw hingga akhirnya ia bermimpi bertemu dengan Rasulullah Muhammad saw yang kemudian mengusap punggung Syekh Ibnu Hirzihim dengan tangan beliau yang mulia, dan ia sembuh dengan izin Allah swt.

Setelah kejadian itu, Syekh Ibnu Hirzihim selalu melazimkan (mewajibkan dirinya) untuk terus mempelajari kitab Ihya’ Ulumiddin sampai akhirnya sang Rabb Allah swt membukakan (hijab/ilmu) untuknya, dan ia akhirnya mendapatkan ilmu makrifat kepada Allah swt. Jadilah beliau sebagai seorang pembesar ulama, dan menjadi seorang ahli ilmu bathin dan dhohir.

قال اليافعى : روينا ذالك بالأسانيد الصحيحة ، فأخبرنى بذالك ولى الله عن ولى الله عن ولى الله الشيخ الأكبر القطب شهاب الدين أحمد بن الميلق الشاذلى عن شيخه الشيخ الكبير العارف بالله ياقوت الشاذلى عن شيخه الشيخ الكبير العارف بالله أبى العباس المرسى عن شيخه الشيخ الكبير شيخ الشيوخ أبى الحسن الشاذلى قدس الله أرواحَهم ، و كان معاصرا لابن حرزهم

Ust. Muhammad Yunan Roniardian, M.Sc
follow
Latest posts by Ust. Muhammad Yunan Roniardian, M.Sc (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *