Setangkup Harapan yang Selalu Ditunggu Usai Kematian

Esai Ngaji 0   198 views
durasi baca: 2 menit

ilustrasi by Najilul Barokah/Q

Kisah ini berangkat dari hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA, bahwasannya Rasulullah ﷺ bersabda :

إن أعمال الأحياء تعرض على عشائرهم وعلى آبائهم من الأموات، فإن كان خيرا حمدوا الله تعالى واستبشروا، وان يروا غير ذلك قالوا اللهم لا تمتهم حتى تهديهم هداية (الحديث)

“Sesungguhnya pahala amal seseorang yang masih hidup (bisa) disodorkan kepada keluarga dan orang tua mereka yang sudah meninggal dunia, jika amal itu baik maka mereka memuji kepada Allah dan bergembira, dan jika tidak baik maka mereka berkata, Ya Allah, janganlah Engkau mematikan (mencabut nyawa) mereka sebelum Engkau memberi mereka petunjuk.” (al Hadits)

Diceritakan bahwa Tsabit al-Bannaniy rahimahullah selalu berziarah ke makam di setiap malam Jum’at, dia selalu bermunajat kepada Allah sampai datang waktu Subuh.

Pada saat sedang bermunajat (di suatu malam), dia tertidur dan bermimpi melihat semua ahli kubur keluar dari kubur mereka dengan mengenakan pakaian yang bagus dan mereka terlihat berwajah putih bersih. Ceria. Kemudian mereka diberi hidangan dengan berbagai macam makanan.

Di antara mereka ada seorang pemuda berwajah muram, berambut kusut, menampakkan hati yang sedih, mengenakan pakaian yang lusuh, menundukkan kepala, air matanya mengalir, dan tidak mendapatkan hidangan.

Ahli kubur yang lain kembali ke kubur mereka dengan senang dan gembira, sedangkan pemuda itu kembali dengan kesedihan.

Baca Juga: Berharganya Nilai Sehelai “Uban” dan Adab kepada Orang yang Lebih Tua

Tsabit bertanya, “Wahai pemuda, siapa kamu? Mereka mendapatkan hidangan dan kembali dengan gembira, sedangkan engkau tidak mendapatkan hidangan, dan engkau terlihat bingung dan sedih.”

Pemuda itu menjawab, “Wahai pemimpin kaum muslimin, aku terasing dari mereka, aku tidak memiliki orang yang mengingatku dengan kebaikan dan doa. Mereka mempunyai anak, kerabat dan keluarga yang mengingat mereka dengan doa, kebaikan dan sedekah setiap malam Jum’at, kebaikan dan pahala sedekah itu sampai kepada mereka. Aku mempunyai seorang ibu, kami berdua berencana melaksanakan ibadah haji, ketika sampai di kota ini, ajal pun datang menghampiri, dan ibu menguburku di tempat ini. Lalu ibuku menikah dengan seseorang, dia melupakanku dan tidak mengingatku dengan doa dan sedekah, setiap waktu dan setiap saat aku sungguh berada dalam kebingungan.”

Tsabit berkata, “Wahai pemuda, beritahu aku di mana tempat tinggal ibumu! Aku akan memberinya kabar tantang keadaanmu.”

Pemuda itu menjawab, “Wahai pemimpin kaum muslimin, dia tinggal di suatu tempat (pemuda itu menyebutkan alamat ibunya), beritahu dia, jika ia tidak percaya kepadamu, katakanlah bahwa di sakunya terdapat seratus mitsqol perak warisan dari ayahnya, niscaya ia akan percaya kepadamu.”

Ketika Tsabit mencari dan kemudian bertemu dengan ibu pemuda tadi, ia pun menceritakan perihal anaknya yang sudah meninggal dan uang perak yang ada di sakunya. Si ibu pun pingsan mendengar cerita itu.

Setelah sadar si ibu menyerahkan seratus mitsqol perak kepada Tsabit dan berkata, “Aku mewakilkan kepadamu untuk mensedekahkan dirham ini untuk anakku yang sudah meninggal,” kemudian Tsabit mengambil dan mensedekahkan dirham itu.

Pada malam Jum’at berikutnya, Tsabit berangkat untuk berziarah ke makam saudara-saudaranya. Kemudian ia tertidur dan bermimpi seperti mimpinya yang lalu. Pemuda itu terlihat mengenakan pakaian yang bagus, wajahnya ceria dan hatinya bahagia.

Pemuda berkata, “Wahai pemimpin kaum muslimin, semoga Allah menyayangimu, sebagaimana engkau menyayangiku.”

 

___

Editor: Afqo

Ust. Muhammad Yunan Roniardian, M.Sc
follow
Latest posts by Ust. Muhammad Yunan Roniardian, M.Sc (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *