Panduan Menulis bagi Pemula

durasi baca: 3 menit

Krapyak, “Menulis adalah 90 persen lebih motivasi. Sisanya adalah teknis, seperti bagaimana dan apa saja cara menulis” terang Aguk saat mengisi dialog jurnalistik pada acara Training Motivation.

Sesi Motivasi ini merupakan rangkaian acara Orientasi Santri Baru atau yang biasa disebut OSABA yang diselenggarakan oleh Komplek R2 di Aula G Ponpes Al Munawwir, Minggu (17/12).

Peserta yang mengikuti acara tersebut terdiri dari santri baru Komplek R2 dan santriwati dari komplek lain.

Penulis yang memiliki nama panjang Aguk Irawan MN ini, dalam acara ini mencoba berbagi panduan menulis dengan para penulis pemula.

Menurut Aguk, ada dua hal penting yang perlu digarisbawahi saat akan menulis, yakni Motivation dan Practical Writing.

baca juga : Menjaga Marwah Bangsa Melalui Media

Pertama, Motivation. Motivasi memberi andil besar bagi seorang penulis. Seseorang yang memiliki semangat tinggi saat menulis, tidak akan merasa stagnan dalam menghasilkan tulisan.

Ikhtiar membaca dan menelaah karya orang lain dan mencintai figur penulis, bisa dijadikan solusi untuk memancing passion kita dalam menulis.

Aguk juga mengungkapkan bahwa menulis adalah fenomena membaca. Konteks membaca tidak hanya terpaku pada buku saja. Bisa jadi kita membaca dua pasang mata, alam dan manusia yang segalanya berada di sekitar kita.

Penulis novel Sang Kyai ini lalu mengungkapkan bahwa selain menulis novel, dirinya juga suka menulis puisi.

“Puisi adalah cara saya untuk membunuh kesedihan. Saya takut jika saya tak menulis puisi apa jadinya. Rasa sakit dan rasa luka bisa menjadi nikmat jika kita hayati” ungkap Alumnus Universitas Al Azhar tersebut.

Hal kedua yang patut digarisbawahi dalam memulai menulis adalah Practical Writing. Menulis juga merupakan amunisi yang perlu dimiliki oleh penulis pemula. Aguk membagi bahasan tentang apa yang ditulis dan bagaimana cara menulis.

Bahasan tentang apa yang ditulis menjadi trigger awal bagi penulis. Sebagai seorang pemula, kebanyakan merasa bingung saat akan memulai tulisan.

Aguk menyarankan bagi peserta untuk bebas menulis apa saja. Jangan merasa terkekang untuk menulis hal apapun itu. Cobalah untuk menulis semua jenis tulisan, baik prosa atau non-fiksi. Nantinya, kita akan menemukan tulisan yang klik dengan gaya kita sendiri.

Sebagai reminder kepada para penulis, Aguk mengingatkan : “Kalian tidak boleh merasa terbebani. Mulai ubah pemikiran kalian. Niatkan menulis untuk menghilangkan beban, bukan malah menambah pressure. Jika kalian enjoy saat menulis, maka ide akan mengalir dan gairah menulis semakin besar.

Manajemen waktu untuk menulis juga perlu dijadikan pertimbangan. Setiap hari, sempatkan waktu untuk membaca atau menulis apapun supaya otak kita menjadi terbiasa menerima diksi dan memunculkan ide. Jika tiba-tiba muncul sebuah ide, langsung catat sebelum hilang.

Bahasan selanjutnya adalah bagaimana cara membuat tulisan menarik. Pastinya dengan memulai menulis. Langkah ini sangat menentukan sejauh mana keinginan kita untuk menulis.

Menulis adalah skill. Supaya keterampilan menulis kita semakin terasah, kita harus sering latihan.

baca juga : Sekilas tentang KH. R. Abdullah Affandi

“Misal kalau kau ingin renang, ya harus nyemplung di air. Jangan cuma di tepi kolam. Begitu juga dengan menulis. Bagaimana kau mau tahu bentuk tulisanmu, jika cuma di angan saja”, ucap alumni Komplek L tersebut.

Menulis dan membaca merupakan dua kutub yang tidak dapat dipisah. Wajib hukumnya bagi seorang penulis untuk membaca, baik membaca buku atau ayat-ayat qauniyah. Sifat sugesti yang ada pada diri kita akan muncul saat kita membaca.

Semakin banyak referensi karya yang dibaca, semakin banyak kosakata yang diperoleh. Semakin luas pula wawasan yang dapat kita tuangkan dalam tulisan.

Seringnya, Aguk menulis dahulu baru membaca referensi. “Menulis itu ibarat wudlu dan membaca adalah sholat. Kalau saya wudlu, pasti saya sholat. Kalau saya ingin menulis, pastinya saya harus tadabbur dulu lewat membaca”

Aguk kembali mengingatkan untuk membaca tulisan dari sastrawan yang berbeda. Jangan terpaku pada satu tokoh. Semakin banyak tokoh penulis yang kita kagumi, semakin banyak imajinasi yang bisa kita ciptakan dalam proses kepenulisan.

Jangan pernah takut jika saat kita membaca tulisan kita, kita merasa gaya kepenulisannya mirip dengan tokoh penulis tertentu. Sesering mungkin perbanyaklah menulis. Nantinya, tulisan kita yang akan menentukan diri kita.

Terkadang juga kita perlu bantuan dari orang lain yang ikut menyalurkan pendapat. Kritik dan saran merupakan penunjang yang dapat memperbaiki kualitas tulisan kita.

“Jika kau membaca sepuluh novel dari penulis berbeda, maka hasilkanlah sebelas novel. Satu novel itu adalah karyamu” tutup Aguk yang saat ini mengasuh ponpes Baitul Killmah.[Nufahn]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *