Menjaga Marwah Bangsa Melalui Media

by Januari 28, 2017
Warta 0   272 views
durasi baca: 3 menit

Sejak zaman Rasulullah, eksistensi media sudah diakui. Kala itu, media dakwah yang digunakan adalah media tulisan, yakni berupa syair.


Oleh: Navilatul Ula

Sabtu, 28 Januari 2017 / 29 Robiul Akhir 1438 H, bertempat di Aula G PP. Al-Munawwir, Krapyak Yogyakarta.

Divisi Media Al-Munawwir menggelar Seminar Kepenulisan dan Perfilman yang bertajuk Dakwah Virtual: Menjaga Marwah Bangsa Melalui Media. Seminar Dakwah Virtual ini menghadirkan sastrawan juga novelis best seller kenamaan, Habiburrahman El Shirazy, Lc. Pg.D, yang akrab dengan sapaan Kang Abik.

Media merupakan istilah makro, dimana mikronya adalah eksekusi. Bisa melalui tulisan; novel, puisi, prosa, esai, foto, film, dan sebagainya. Peran santri sangat diperlukan di era globalisasi ini, dimana santri harus menguasai media juga memunculkan kembali ruh media yang sesungguhnya, yakni menyampaikan informasi yang benar dengan cara santun.

Pertama, media tulisan. Sejak zaman Rasulullah, eksistensi media sudah diakui. Kala itu, media dakwah yang digunakan adalah media tulisan, yakni berupa syair. Syair merupakan media dakwah yang dirasa sangat berpengaruh, dimana para pakar sastra Makkah akan sangat bangga jika karyanya di tempel di dinding Kabah. Pemanfaatan syair bukan hanya sebagai alat penyalur opini, tapi juga untuk berperang. Pada puncak perang syair itulah Al-Qur’an diturunkan.

Keindahanan sastra Al-Quran tak ada yang mampu menandingi sampai detik ini. Para pakar sastra Makkah, ahli filsafat dibuat bungkam juga terpesona ketika Rosulullah membacakan tiga huruf Al-Quran Alif, Lam, Mim. Bahkan, sekelas Abu jahal yang ketika siang mengingkari dan memaki keindahan Al-Quran, malam harinya diam-diam menuju rumah Rasulullah untuk mendengarkan lantunan ayat Al Quran. Subhanallah.

Para sahabat dan para ulama kala itu adalah sosok yang bukan hanya pakar dibidang agama, beliau juga pakar dalam ilmu komunikasi, terutama media tulisan. Contohnya Imam Syafii. Seorang satrawan besar yang menghafal semua syair jahiliyah, sampai akhinya lahir buku ensiklopedi juga antologi puisi Imam Syafii (Diwan Imam as-Syafi’i).

Ulama Nusantara juga merupakan pelakon media yang kuat, hingga ikut merumuskan kata dan bahasa. Karenanya kata serapan di Indonesia banyak sekali yang menggunakan bahasa Arab. Kita sebagai muslim haruslah bangga menggunakan bahasa Arab, bukan malu karena adanya istilah kemarab. Tak bisa dipungkiri, kita sebagai umat Islam sangat dekat dengan bahasa Arab, meskipun bukan penduduk Arab. Quranan Arobiyyah, kitab suci Al-Quran menggunakan bahasa Arab, bacaan dalam sholat juga bahasa Arab. Hakikatnya, muslim memang tidak bisa jauh dari bahasa Arab.

Kedua, media perfilman. Film merupakan salah satu puncak media. Karya seni yang menggabungkan banyak unsur sastra dan kecanggihan teknologi, mulai dari cerita, setting, semiotika kamera, lighting, suara, musik, dekorasi, juga penampilan aktor. Semua unsur tersebut jika digabungkan maka akan memunculkan sesuatu yang dahsyat. Bukan hanya menyampaikan informasi, tapi juga mempengaruhi persepsi, style keseharian, sampai tujuan hidup.

Sebagai seorang akademisi yang juga santri, kita harus benar-benar bisa memfilter film-film yang kita tonton dan yang kita sebarkan, terutama film untuk anak-anak. Sebagai orang tua, kita harus bisa memilah film kartun untuk anak kita, bukan hanya karena alasan lucu dan seru, tapi dampak yang nantinya akan diserap oleh alam bawah sadar anak sangat perlu dipertimbangkan.

Di akhir acara, Kang Abik menambahkan, sekaligus mengingatkan seluruh audience, bahwa media merupakan ujung tombak eksistensi bangsa. Cara menjaga marwah bangsa melalui media harus dengan melibatkan alasan dakwah dan akidah. Jangan sampai pakar media adalah orang-orang yang berniat buruk yang ingin memecah belah bangsa bahkan sampai merusak moral.[Avil]


Pemberian cinderamata dan kenang-kenangan Div Media Al Munawwir  kepada Kang Abik [Foto by WitSukun]

Tinggalkan Balasan