Pedoman Berakhlaq Kepada Al Qur’an, Ulasan Ngaji Kitab At Tibyan Fi Adabi Hamalati Al Qur’an

by Juni 13, 2017
Bahtsul Masail Ngaji PKR Warta 0   5.4K views
durasi baca: 4 menit

Al-Qur’an merupakan mukjizat yang diturunkan kepada baginda Nabi Muhammad Saw,  yang dijadikan Allah SWT sebagai tantangan bagi jin dan manusia yang meragukan kebenarannya. Serta bantahan bagi semua golongan yang menyimpang.

Al-Qur’an ibarat musim semi yang menyebarkan kebahagiaan dan menyuburkan hati orang-orang yang memiliki keyakinan dan pengetahuan. Al-Qur’an tidak akan usang karena sering diulang dan tidak akan pudar karena zaman berputar. Rasulullah saw bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Quran”[i]

Pada Ramadhan kali ini, Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta mengadakan Program Khusus Ramadhan (PKR). Dalam program ini terdapat pengajian kitab-kitab klasik, salah satunya adalah pengajian kitab At-Tibyan fi adabi hamalati al qur’an, yang dilaksanakan sekitar pukul 22.00-00.00 WIB. Ada sekitar 20-an santri mengikuti pengajian yang diampu oleh Ustadz As’ad Syamsul Arifin, S.H.I. ini.

Setelah membaca, Ustadz As’ad (sapaan akrab Ustadz As’ad Syamsul Arifin) memberikan arti perkata yang disertai dengan penjelasan beserta contoh-contoh peristiwa zaman dahulu, dan tak lupa tambahan lelucon yang membuat suasana menjadi renyah.

KitabAt-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an (Penjelasan tentang Adab Mengemban al-Qur’an) merupakan kitab yang membahas perkara-perkara yang sangat penting untuk diketahui oleh setiap orang Islam. Kitab ini membicarakan berbagai hal yang berkaitan dengan adab kita dalan menjalin interaksi dengan kitab suci Al-Qur’an al Karim. Kitab ini merupakan salah satu karya dari Imam Abu Zakariyya Muhyiddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi, yang masyhur dengan sebutan Imam An-Nawawi.

Secara garis besar, kitab ini menjelaskan bagaimana cara kita memuliakan Al-Qur’an. Di dalamnya membahas beberapa tema, seperti keutamaan membaca dan mengkaji Al Qur’an, kelebihan orang yang membaca Al Qur’an, menghormati, dan memuliakan golongan Al Qur’an. Selain itu, kitab ini juga memuat panduan mengajar dan belajar Al Qur’an, panduan menghafal Al Qur’an, adab dan etika membaca Al Qur’an, adab berinteraksi dengan Al Qur’an, dan lain-lain.

Perlu diingat bahwasannya dalam madzhab yang shahih, para ulama mengatakan bahwa membaca Al-Qur’an adalah lebih utama dari membaca tasbih dan tahlil serta dzikir-dzikir lainnya. Banyak dalil kuat yang mendukung hal itu, Wallahua’lam.

Di dalam kitab ini, juga menjelaskan beberapa adab dalam menghafalkan Al-Qur’an, di antaranya: berada dalam keadaan paling sempurna dan perilaku paling mulia, hendaklah dia menjauhkan dirinya dari segala sesuatu yang dilarang Al-Qur’an, terpelihara dari pekerjaan yang rendah, berjiwa mulia, lebih tinggi derajatnya dari para penguasa yang sombong dan pencinta dunia yang jahat, merendahkan diri kepada orang-orang sholeh dan ahli kebaikan, serta kaum miskin, dan hendaklah dia seorang yang khusyuk memiliki ketenangan dan wibawa.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra, Nabi Muhammad saw bersabda: “Hendaklah penghafal Al-Qur’an menghidupkan malamnya dengan membaca Al-Qur’an ketika orang lain sedang tidur dan siang harinya ketika orang lain sedang berbuka. Hendaklah dia bersedih ketika orang lain bergembira dan menangis ketika orang lain tertawa, berdiam diri ketika orang lain bercakap dan menunjukkan kekhusyukkan ketika orang lain membanggakan diri.”[ii]

Selanjutnya kita juga dianjurkan untuk mengagungkan dan membaca Al-Qur’an dengan sebenar- benarnya dan sebaik-baiknya dan bersikap khusyuk ketika membacanya, seperti memperhatikan makhraj huruf-hurufnya dengan tepat, membelanya dari penakwilan orang- orang yang menyelewengkannya dan gangguan orang-orang yang melampaui batas, membenarkan isinya, menjalankan hukum-hukumnya, memahami ilmu-ilmu dan perumpamaan-perumpamaannya, memperhatikan nasihat-nasihatnya, memikirkan keajaiban-keajaiban dan mengamalkan ayat- ayatnya yang muhkam (jelas) dan menerima ayat-ayatnya yang mutasyabih (samar), mencari keumuman dan kekhususan, nasikh dan mansukh-nya, menyebarkan keumuman dan kekhususan ilmu-ilmunya.

Adapun hal – hal yang perlu diperhatikan dan sangat ditekankan adalah memuliakan Al-Qur’an dari hal-hal yang terkadang terabaikan oleh sebagian orang ketika membaca bersama-sama. Di antaranya Yang perlu dihindari ketika sedang membaca Al-Qur’an,  antara lain:

  1. Tertawa terbahak-bahak
  2. Berbuat bising
  3. Tangannya bermain-main
  4. Bercakap-cakap ketika membaca Al-Qur’an
  5. Memandang kepada sesuatu yang dapat melalaikan dan melencengkan pikiran dan tumpuan.
  6. Memandang sesuatu yang tidak boleh dipandang, contohnya seperti memandang lelaki Imrod (yang mulus wajahnya dan tampan atau yang perumpamaan lainnya). Karena memandang kepada laki-laki Imrod tanpa keperluan adalah haram, sama saja dengan syahwat ataupun tanpa syahwat, sama saja aman dari fitnah atau tidak aman. Ini adalah madzhab yang shahih dan terpilih di kalangan ulama. Imam Asy- Syafi’i dan para ulama yang tidak sedikit jumlahnya telah menyebutkan pengharamannya.

Hal-hal di atas merupakan perbuatan yang paling buruk jika dilakukan pada saat membaca Al-Qur’an.

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, dari Rasulullah, Allah SWT berfirman: “Siapa yang sibuk membaca Al-Quran dan berdzikir kepada-Ku sehingga tidak sempat meminta kepada-Ku maka akan Kuberikan sebaik-baik apa yang Kuberikan kepada orang yang meminta! Sedangkan keutamaan firman Allah di antara seluruh perkataan seperti keutamaan Allah atas seluruh ciptaan-Nya”.[iii]

Perlu diketahui bahwa orang yang telah selesai menghafalkan Al-Qur’an sebutannya adalah Al-Hamil bukan Al-Hafidz, karena Al-Hafidz itu adalah untuk sebutan orang telah menghafalkan 100.000 hadits.

Adapun fadhilah menghafalkan Al-Qur’an adalah akan dikenakannya mahkota kepada kedua orang tuanya. Diriwayatkan dari Muadz bin Anas Rodliallahu Anhu ia berkata bahwa Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalambersabda:

“Siapa yang menghafalkankan Al-Quran dan mengamalkan isinya, ia akan mengenakan mahkota kepada kedua orang tuanya pada Hari Kiamat, yang cahayanya lebih baik daripada cahaya mentari yang menerpa rumah-rumah dunia”.[iv]

Menurut Ustadz as’ad, orang yang tidak memiliki hafalan Al-Quran sedikit pun, diibaratkan seperti rumah yang kosong (tidak berpenghuni), “Ibaratnya (orang yang tidak menghafal Al Qur’an) seperti rumah kosong yang mudah ditempati oleh hantu. Tidak ada sejarahnya orang yang hafal Al-Quran akan dirasuki olehhantu,jin atau makhluk ghoib yang lain,” Ujar Ustadz As’ad. “Yoo santri iku Minimal hafal jus 30 ditambah 7 surah penting dalam Al-Quran,” tambah Ustasz As’ad dengan jelas. (Sa’adah/R2)

“Wallahua’lam bis showab”

Sumber :

[i] Riwayat Utsman bin Affan r.a diriwayatkan Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Al-Bukhari (As-shahih) dalam kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an. hal.11

[ii] Riwayat bukhori, muslim dalam kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an. hal.13

[iii] Riwayat Tirmidzi yang diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, dari Rasulullah dalam kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an. hal.14

[iv] Riwayat Abu Daud dalam kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an. hal.16

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *