MAN JADDA WAJADA

by Juli 19, 2017
Esai 0   464 views
durasi baca: 3 menit

“Jangan kerdilkan dirimu dengan TAKABUR,

Jangan sempitkan dadamu dengan DENGKI,

dan jangan keruhkan pikiranmu dengan AMARAH” 

-Gus Mus-


Doc. Foto by Media Al Munawwir

Oleh : Irfan A.

Kehidupan tak ubahnya seperti orang bermain atau nge-‘game’ atau bermain-main, biasanya kalau dalam sebuah permainan diawali dengan model permainan yang gampang, kemudian setelah naik level berikutnya agak sulit sedikit, hingga permainan selanjutnya berada pada level yang kalau dijalani ya berjalan, kalau dibuat sedih ya sedih, kalau dibuat seneng ya seneng.

Demikian halnya pada sebuah metode pembelajaran. Misalnya di Madrasah Salafiyah, dimulai dari Halaqoh I’dadiyah (Kelas Persiapan), dimana santri yang belum kenal sama sekali dengan baca-tulis arab akan dibekali terlebih dahulu di kelas ini. Kemudian naik ke Halaqoh Ula, disini nanti akan mulai sedikit membaca kitab kuning dan menerjemahkannya. Sampai di Kelas terakhir (Halaqoh Tsalisah/ Robiah), mereka pun terus di gembleng untuk tekun membaca kitab dan menerjemahkannya dengan menggunakan ilmu alat yang telah dibekali di kelas sebelumnya tadi. Meskipun menjalani profesi yang demikian itu sulit, namun jika dijalani dengan serius dan fokus insyaAllah “man jadda wajada”.

“Santri itu kerjanya ya ngaji” terkadang tidak demikian, malah lupa dengan apa yang diniatkan, lupa dengan apa yang dimaksudkan dari rumah, hingga akhirnya cuma senang-senang dan kurang memanfaatkan waktu yang ada untuk sinau, ngaji dan muthola’ah. Maka dalam setiap wejangannya Romo Kiyai Najib selau ngendikan “ingat tujuan dari rumah”, kalimat yang pendek, tapi maknanya luas.

Masih ingatkah dengan kisah Ibnu Hajar Al Asqalani, salah seorang Ulama’ besar. Ia seorang anak yatim. Ayahnya meninggal pada saat beliau masih berumur 4 tahun. Ibunya meninggal ketika beliau masih balita. Di bawah asuhan kakak kandungnya, beliau tumbuh menjadi remaja yang rajin, pekerja keras dan sangat berhati-hati dalam menjalani kehidupannya serta memiliki kemandirian yang tinggi.

Suatu ketika, saat beliau masih belajar disebuah madrasah, ia terkenal sebagai murid yang rajin, namun namun juga dikenal sebagai murid yang bisa dikatakan kurang mampu menyerap apa yang diajarkan oleh gurunya, beliau selalu tertinggal jauh dari teman-temannya. Bahkan sering lupa dengan pelajaran-pelajaran yang telah di ajarkan oleh gurunya di sekolah yang membuatnya patah semangat dan frustasi.

Beliaupun memutuskan untuk pulang meninggalkan sekolahnya. Di tengah perjalanan pulang, dalam kegundahan hatinya meninggalkan sekolahnya, hujan pun turun dengan sangat lebatnya, mamaksa dirinya untuk berteduh didalam sebuah gua.

Ketika berada didalam gua pandangannya tertuju pada sebuah tetesan air yang menetes sedikit demi sedikit jatuh melubangi sebuah batu. Ia pun terkejut. Beliau pun berguman dalam hati, sungguh sebuah keajaiban. Melihat kejadian itu beliaupun merenung. Bagaimana mungkin batu itu bisa terlubangi hanya dengan setetes air. Ia terus mengamati tetesan air itu dan mengambil sebuah kesimpulan bahwa batu itu berlubang karena tetesan air yang terus menerus.

Dari peristiwa itu, seketika beliau tersadar bahwa betapapun kerasnya sesuatu jika ia di asah trus menerus maka ia akan manjadi lunak.

“Batu yang keras saja bisa terlubangi oleh tetesan air apalagi kepala saya yang tidak menyerupai kerasnya batu. Jadi kepala saya pasti bisa menyerap segala pelajaran jika dibarengi dengan ketekunan, rajin dan sabar” gumam Ibnu Hajar.

Sejak saat itu semangatnya pun kembali tumbuh lalu beliau kembali ke sekolahnya dan menemui Gurunya dan menceritakan pristiwa yang baru saja ia alami. Melihat semangat tinggi yang terpancar dijiwa beliau, gurunya pun berkenan menerimanya kembali untuk menjadi murid disekolah itu.

Sejak saat itu perubahan pun terjadi dalam diri Ibnu Hajar. Beliau manjadi murid yang tercerdas dan malampaui teman-temannya yang telah manjadi para Ulama besar dan ia pun tumbuh menjadi ulama tersohor dan memiliki banyak karangan dalam kitab-kitab yang terkenal dijaman kita sekarang ini.

Di antara karya beliau yang terkenal ialah: Fathul Baari Syarh Shahih Bukhari, Bulughul Marom min Adillatil Ahkam, al Ishabah fi Tamyizish Shahabah, Tahdzibut Tahdzib, ad Durarul Kaminah, Taghliqut Ta’liq, Inbaul Ghumr bi Anbail Umr dan lain-lain.

Kisah Beliau diatas bisa menjadi motivasi bagi kita semua. Bahwa sekeras dan sesusah apapun itu jika kita ikhlas dan tekun serta continue dalam belajar, niscaya akan menuai kesuksesan. Jangan pernah menyerah atau putus asa. Kegagalan itu hal yang biasa, tapi jika Anda berhasil bangkit dari kegagalan, itu baru luar biasa.

Wallahu a’lam bisshowab.
__________________
Diolah dari berbagai sumber.

baca juga : Ketika Santri Menghapus Luka Negeri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *