Kisah Juang (II): Kuliah, Ujian Penghafal Qur’an?

by Februari 2, 2020
HAUL Warta 2   1.3K views
durasi baca: 3 menit

Tenang: Dwi melantunkan hafalan Al-Qur’annya dengan tenang dan tartil ketika Ujian Semaan Khatimat 2020. Doc: Almunawwir (Istimewa)

“Nduk, sampean itu anaknya orang biasa. Yang bisa ngangkat derajat bapak ibu ya ilmu sampean itu.”

Wejangan dari kakaknya inilah yang selalu menjadi pegangan Dwi. Hijrah dari Lampung ke Jawa di usia 14 bukan perkara yang mudah. Setiap langkah yang telah dijalankan penuh dengan konsekuensi yang perlu dipertanggung jawabkan. Terlebih perihal rasa, seorang remaja yang harus jauh dari orang tua.

Tujuan pertamanya di Jawa adalah PP Queen Al-Falah, Ploso. Sempat merasa terpuruk karena niatnya melanyahkan hafalan Qur’an yang sudah ia tabung di Lampung terbentur oleh sistem pengajaran yang memang bukan khusus tahfidzul Qur’an. Namun Allah swt menuntunnya sampai bertemu Ibu Ny. Badi’atudduroh.

Setelah lulus SMA di Queen Al-Falah, Dwi melanjutkan di PP Huffadz Putri Al-Khoirot yang diasuh Bu Nyai Badi’. Keputusan ini sempat menjadi pertimbangan yang berat karena bapaknya ingin agar Dwi melanjutkan kuliah. Setelah melalui berbagai negosiasi, akhirnya Dwi diizinkan melanyahkan Qur’annya di Al-Khoirot.

Dua tahun menjadi waktu yang penuh pembelajaran bagi Dwi. Ia belajar sabar dan istiqomah dari tartilan kalamullah yang ia hafalkan. Sampai pada, “Ndak usah kuliah, mbak. Takut Qur’an mu keteteran, eman, loh.” Banyak pihak melayangkan “wejangan” semacam itu kepada Dwi setelah mengkhatamkan hafalan Qur’annya di Al-Khoirot. Untuk dinyatakan lulus dari pesantren tersebut bukanlah hal yang mudah. Ujian simaan dilakukan setiap kelipatan 5 juz, kemudian di akhir setelah ujian 30 juz para santri diharapkan dapat melakukan ujian sewelasan, yaitu simaan yang dilakukan sebelas kali berturut-turut.

Setelah Dwi menyelesaikan sewelasannya maka tidak heran jika banyak yang menyayangkan jika ia tetap memilih untuk melanjutkan kuliah. Menanggapi berbagai kekhawatiran bahwa kuliah akan membuat lupa pada Qur’an, Dwi ingat KH. Muhaimin Abu Syuja’ pernah ngendiko, ”Sampean boleh ngapain aja, tapi nomor satu Qur’an.” Dwi juga harus membayar janjinya kepada bapak untuk melanjutkan kuliah setelah lulus dari Kediri. Pilihannya jatuh kepada Krapyak, lalu ia mendaftar kuliah di UIN Sunan Kalijaga.

Hari-hari yang dilalui Dwi terasa menyenangkan dengan banyaknya aktivitas baru, juga ilmu-ilmu baru di dunia perkuliahan. Dwi menyadari bahwa kegiatan barunya ini menyita banyak waktu nderesnya. Maka ia tidak memaksakan diri untuk mengkhatamkan ngajinya kepada Romo Kiai Najib dalam waktu dekat. Dwi hanya menyetorkan seperempat juz setiap mengaji. Ia berpikir, pelan tidak apa yang penting istiqomah dan tartil.

Sampai pada bulan Oktober 2019, tepat 15 bulan Dwi mengaji di Krapyak. Saat itulah ia dihadapkan dengan keadaan yang cukup mencengangkan. Romo Kiai Najib dawuh agar Dwi mengikuti Khataman Qur’an pada Februari 2020. Dwi tidak pernah menduga Romo Kiai akan menyuruhnya mengikuti khataman dalam waktu dekat. Mengingat posisi setorannya baru juz 13. Masih sangat jauh perjalanan Dwi untuk menyetorkan hafalannya sampai selesai. Sedangkan ujian simaan putri akan dilaksanakan awal Januari. Artinya, Dwi harus ngebut menyetorkan 17 juz dalam waktu 2 bulan.

Baca Juga: Kisah Juang (I) Tatang dari Kuningan, Setia di Jalan Qur’an

Bulan Oktober-November dilalui dengan penuh keringat. Apalagi Romo Kiai sengaja memberikan tambahan waktu mengaji untuk menyetorkan hafalan sebelum ujian simaan. Di bulan Desember menjadi bulan terberat karena Dwi harus menyelesaikan tugas-tugas kuliah serta mempersiapkan ujian akhir semester. Ia benar-benar harus membagi waktu untuk semua tanggungannya.

Dwi sempat ingin mundur saja, karena ia tidak yakin dapat menyelesaikan setorannya. Ditambah hafalannya yang tidak selanyah dulu sedangkan waktunya semakin terasa sedikit. Saat nama-nama calon khotimat sudah harus dipastikan ke ndalem, Dwi masih berkutat dengan pikiran dan perasaannya. Apakah ia mampu menyelesaikannya atau tidak. Peserta khataman putri dan para senior yang lain turut menyemangati Dwi, juga memberi wejangan-wejangan.

Dwi merasa keputusannya mengambil kuliah sedang diuji. Teman-temannya di Al-Khoirot dulu memang banyak yang tidak setuju jika Dwi melanjutkan kuliah. Mereka lebih banyak memberikan usulan agar Dwi menikah saja, mengurusi Qur’an dan rumah tangga. Dwi mencoba melihat keadaan. Tidak jarang dari para penghafal yang sudah sibuk dengan urusan rumah tangganya menjadi jarang muraja’ah. Pun dengan para penghafal lain yang mempunyai pekerjaan sendiri-sendiri, sekalipun menjadi guru  TPA. Tidak ada yang menjamin mereka tetap istiqamah dengan hafalannya. Kelanyahan Qur’an memang ada di tangan masing-masing penghafal dengan deresan-nya.

Ketika kuliah membuatnya sangat kewalahan mengurus ngajinya, alhamdulillah ia masih bisa berpikir dengan jernih. Dwi berpikir bahwa kuliah bukan halangan untuk tetap menjaga Qur’annya. Untuk meyakinkan dirinya sendiri, Dwi menelpon keluarganya, meminta pendapat. Semua memberikan dukungan untuk tetap melanjutkan dawuh Romo Kiai.

Ketika Romo Kiai sudah dawuh, beliau bukan serta merta menyuruh. Terselip dukungan besar serta doa restu bahwa Dwi memang mampu melakukannya, sampai khatam. Tiga hari sebelum ujian simaan putri dimulai, Dwi menyelesaikan setorannya. Ia membuktikan keyakinannya sendiri bahwa “yang membuat Qur’an kita hilang itu bukan pekerjaan, bukan kesibukan. Tangan kita sendiri yang menentukan waktu deresan.”

2 Comments

Wahid Imam Rifai

Kita tetap akan menjadi orang biasa, dan membuat sejarah luar biasa ya nduk..

Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *