Kisah Juang (I): Tatang dari Kuningan, Setia di Jalan Qur’an

by Februari 2, 2020
HAUL Warta 0   829 views
durasi baca: 3 menit

 

Hafalan: Kang Tatang, santri asal Kuningan Jawa Barat sedang mengikuti Ujian Semaan Khatimin 2020. Doc: Almunawwir (Istimewa)

“Sudahlah, biar Allah saja yang menentukan”. Kalimat sambat-an yang cukup indah terdengar di telinga. Tentang target yang sudah dirancang, estimasi waktu yang akan dilalui, bahkan kemungkinan-kemungkinan hambatan yang akan terjadi membuat perencanaan manusia terlihat begitu mulus. Namun, faktanya rencana selalu berjalan berkelindan dengan restu Tuhan. Kadang sesuai, kadang juga tidak. Maka tidak heran jika sambatan-sambatan turut menemani perjalanan yang dirasa berat, melelahkan, dan tak kunjung membuahkan hasil. Bentuk nyata dari sifat alamiah manusia yang memang doyan sambat.

Merasa lelah, butuh waktu untuk menepi dari hiruk-pikuknya target hidup, kemudian mengeluh, memang lazim, namun yang tidak boleh dilupakan adalah bagaimana keputusan setelahnya. Akan bangkit melanjutkan perjalanan atau berhenti membiarkan rencana menjadi sekadar angan-angan?

Bangkit dan melanjutkan perjalanan adalah keputusan yang diambil oleh Tatang, setelah berkali-kali berada di zona rawan putus asa.

Kang Tatang, begitu sapaan akrabnya, datang jauh dari Kuningan Jawa Barat membawa tekad yang bulat untuk menghafalkan Al-Qur’an di Krapyak. Ia sempat dilema saat gurunya bertanya, “Sekolahnya sudah selesai, mau lanjut mondok di mana? Kitab atau Qur’an?”. Keputusan yang dipilihnya ini, mau tidak mau, memaksanya menerima segala resiko yang akan dihadapinya nanti.

Menjadi santri baru Komplek Ribathul Qur’an Al- Munawwir, membuat Tatang merasa memiliki tanggung jawab kemandirian lebih ketimbang di pesantren sebelumnya. Sebab amanah terhadap target hafalan yang diinginkannya menjadi hal yang fardu ditanggungnya secara mandiri. Romo Kiai, para ustaz dan pengurus hanya membantunya berjalan, mengiringinya dengan restu dan doa menuju cita-cita mulia itu.

Setiap penghafal Qur’an mendapat ujiannya masing-masing. Begitupun Tatang. Sebagai manusia berdarah Sunda tulen, menjadi tantangan tersendiri baginya dalam belajar membaca Al-Qur’an. Huruf dal ia pelajari berbulan-bulan agar makhrajnya sesuai dengan yang diajarkan Romo Kiai Najib. Rencana awal yang penuh optimis pun sirna. Gagal. Tatang tidak mampu menyelesaikan hafalannya jika sesuai dengan rencana awal, satu tahun.

Terpuruk? Pasti. Apalagi Kang Tatang yang secara tidak sadar membandingkan hafalannya dengan hafalan teman-temannya, membuatnya semakin ambruk. Dalam kurun waktu yang sama, teman-temannya mendapatkan hafalan yang jauh lebih banyak darinya. Waktu-waktu galaunya ia habiskan dengan kembali mendaras hafalannya atau “bermain” dengan buku-buku di Perpustakaan Almunawwir yang terletak persis di belakang Masjid Al-Munawwir, tempat biasa ia nderes. Tidak peduli berapa kali ia merasa terpuruk, Tatang tidak meninggalkan Qur’annya.

Baca Juga: Gus Hilmy: Al-Qur’an Merupakan Mu’jizat Ruhiyah dan Aqliyah

Tidak mubazir waktu, Tatang kembali berdiri dengan semangatnya yang baru. Makharijul huruf bukan penghalang dalam proses menghafalnya. Justru datangnya kesusahan ini adalah warna perjalanan mulianya dalam menghafal kalamullah.

Dihiasinya perjalanan itu dengan Dluha, sholat berjamaah, dan kesunahan yang lain. Pun dengan hatinya. Ia tata menjadi hati yang nriman. Semisal ketika Kang Tatang sudah sangat siap dan percaya diri untuk menyetor hafalannya, tidak jarang ternyata Romo Kiai tindak. Hal ini tidak membuatnya kecewa. Sebagai santri yang selalu mengharapkan ridlo guru, Tatang juga belajar ridlo dari gurunya, termasuk ketika ia gagal menyetor saat Romo Kiai berkepentingan lain.

Tahun 2019 menjadi momen yang tak disangka-sangka oleh Tatang. Romo Kiai Najib dawuh agar ia segera mendaftarkan diri menjadi peserta Khotmil Qur’an tahun ini. Dengan hafalannya yang belum sempurna khatam, Tatang berusaha ngebut untuk memburu waktu sebelum ujian. Romo Kiai juga menyediakan jam ngaji tambahan untuk calon-calon khotimin dan khotimat yang bernasib sama dengan Tatang.

Rabu sore di pertengahan November, selepas jamaah Shalat Ashar dengan menggunakan baju koko putih, sarung dan peci yang sudah disiapkannya, Tatang berjalan menuju ndalem Romo Kiai Najib untuk menyetorkan ayat-ayat penghujung Qur’annya. Kebahagiannya bercampur haru sesaat setelah ia melafazkan ayat terakhir Surah Al-Baqarah, wa’fu ‘anna, waghfir lana, warhamna, Anta Maulanaa fanshurnaa ‘alal qoumil kaafiriin.

Impian yang dibangun Tatang sejak 2016 memang banyak meleset dari rencana. Tapi dalam perjalanannya, Tatang mendapatkan berbagai hikmah yang justru menguatkannya, membuatnya merasakan belajar istiqomah, merasakan pengalaman berbagai ujian menjadi penghafal Al-Qur’an.

Semoga Allah swt meridlai, melimpahi kita dengan berkah-Nya. Amiin.

Tinggalkan Balasan