Kejujuran Menjadi Inti dari Keyakinan dan Keimanan


Bila Anda seorang santri atau pelajar, jangan menghindari giliran piket, jangan berlaku curang, jangan berbohong. Perbuatan demikian akan menjadi penyakit dan semakin parah.


Oleh : Dr. KH. Hilmy Muhammad

Jama’ah Jum’at rohimakumullah..

Marilah kita haturkan ungkapan syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah Swt. yang telah memberi nikmat dan anugerah yang tak terhingga banyaknya. Mari juga hal itu kita upayakan melalui penguatan iman kita dengan cara melaksanakan semua perintah Allah Swt. dan menjauhi segala larangnNya.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah. Berkata jujur itu penting. Karena hal itu diperintahkan oleh Allah. Sebaliknya, berbohong merupakan perilaku yang buruk dan berbahaya. Dan karena itu dilarang oleh agama.

Kejujuran menjadi inti dari keyakinan dan keimanan. Sekaligus menjadi poros utama dan integritas seseorang. Inilah alasan mengapa kejujuran menjadi syarat utama “kenabian”. Dan atas dasar ini pula, sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq dinyatakan sebagai manusia biasa dengan predikat yang paling beriman.

Kejujuran menjadi landasan pokok hubungan sodial antar sesama kita (manusia). Karenanya, tidak ada satu pun ikatan atau jalinan tanpa dasar kejujuran dengan siapa saja. Seperti hubungan pertemanan, persaudaraan, suami-istri, profesi, organisasi, sebagai warga negara dan bahkan kepada musuh sekalipun. Artinya, tanpa adanya kejujuran, tidak akan pernah ada dan jangan berharap ada hubungan dan pertalian.

Sementara di akhirat kelak, Allah akan membagi semua orang berdasarkan kelas kejujuran. Kepada yang jujur Allah akan memberi balasan nikmat. Sementara bagi pendusta Allah Swt. akan mengklasifikasikannya sebagai munafik yang patut mendapat siksa.

Allah Swt berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 24:

(لِيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِن شَاء أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا ﴿٢٤

Artinya: “Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Kaum muslimin yang terhormat, berdusta atau berbohong bukan hanya tindakan bodoh, tetapi juga merusak. Ia menjadi inti dari kejelekan dan kerusakan. Keburukan yang tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga berlaku kepada orang lain.

Oleh karena itu, mari kita berlatih jujur dengan berusaha menghindar dari berkata bohong dan berbuat berdusta. Mari kita membiasakan diri dengan menempatkan posisi kita sebaik-baiknya. Bila Anda seorang santri atau pelajar, jangan menghindar dari giliran piket, jangan berlaku curang saat ujian dengan menyontek, jangan berbohong dengan pamit sakit padahal Anda tidak sakit. Perlu diketahui, perbuatan demikian kelak akan menjadi penyakit dan akan semakin parah. Bila kebiasaan itu tidak ditangani dan dihentikan, nanti saat menjadi mahasiswa Anda akan plagiat dan saat menjadi pejabat, otomatis Anda akan bertindak korup.

Sebagai orang tua, mari kita berlaku jujur dan tidak sekali-kali mengajarkan kebohongan kepada anak. Barangkali sekarang tidak terasa, namun apabila Anda menyuruh anak untuk menemui tamu misalnya, dan menyuruh bilang kepada si tamu itu agar berkata “Bapak sedang tidak di rumah”, atau saat ditelpon orang Anda menyuruh menjawab “Bapak sedang di jalan.” Padahal sedang tidak di jalan. Atau saat menunda-nunda saat membayar utang/syahriah/SPP, padahal memegang atau punya uang, yang demikian itu juga merupakan perilaku bohong, sekaligus mengajarkan anak untuk berbohong.

Oleh karena itu, marilah kita berupaya menjadi orang yang jujur dalam setiap ucapan dan perbuatan.  Marilah kita biasakan diri kita untuk berlaku lurus, tulus dan bertanggung jawab dalam segala peran di kehidupan.

Tentu, hal tersebut merupakan perkara yang berat. Karenanya, kita dituntun untuk berdo’a memohon pertolongan agar dimudahkan segala urusan. Sebagaimana do’a para Nabi. Seperti dinyatakan dalam surat Al-Isra’ ayat 80:

 (80) وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِى مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِى مُخْرَجَ صِدْقٍ وَٱجْعَل لِّى مِن لَّدُنكَ سُلْطَٰنًا نَّصِيرًا

“Ya Allah Ya Tuhanku, masukkan aku ke jalan yang benar dan keluarkan aku ke jalan yang benar. Dan berikan di sisiku kekuasaan untuk menolongku ke jalan yang benar.”

Demikian khotbah ini disampaikan, semoga dapat dipahami dengan baik dan semoga kita senantiasa dilindungi oleh Allah dalam melaksanakan semua aturan Allah dengan sebaik-baiknya.

*Tulisan ini merupakan saduran dari isi khotbah Jum’at yang disampaikan oleh Dr. KH. Hilmi Muhammad pada tanggal 17 November 2017. (Redaksi)

baca juga : Cerita Tawadhu dan Fadhilah Ketawadhuan itu Sendiri

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *