Cerita Tawadhu’ dan Fadhilah Ketawadhu’an itu Sendiri

durasi baca: 4 menit

Oleh : KH. Fairuzi Afiq Dalhar*

Tawadhu’ adalah sifat yang sangat mulia. Namun hanya segelintir orang yang mampu memilikinya. Ketika ada orang yang sudah memiliki gelar mentereng, berilmu tinggi, maupun memiliki harta melimpah dan mendapat amanah kedudukan lebih tinggi daripada publik, sedikit dari mereka yang memiliki sifat rendah hati atau tawadhu’.

Ketika orang telah merasa semuanya telah ada digenggamannya, jarang dari mereka mengamalkan filosofi padi “semakin berisi, semakin merunduk”. Padahal, tawadhu’ merupakan perintah agama.

Tawadhu’ adalah sifat antara rendah diri dan sombong. Tawadhu’ adalah menampakkan diri lebih rendah daripada orang lain yang memiliki derajat kemuliaan lebih tinggi daripada kita sendiri. Juga kepada mereka yang hendak memuji dan menghina kita.

Kenyataannya, dalam kehidupan sosial-masyarakat, tentu, orang-orang yang memiliki sifat tawadhu’ memiliki porsi yang baik daripada sifat angkuh dan ingin menang sendiri. Karena, barang siapa yang bersifat tawadhu’, karena mengetahui akan tingginya derajat Allah, karena itu pula Allah akan meninggikan derajatnya.

Seringkali, orang yang bersifat tawadhu’—menganggap dirinya orang yang paling tidak berharga, namun dalam pandangan orang lain, ia adalah orang yang sangat sempurna.

baca juga : Kejujuran Menjadi Inti dari Keyakinan dan Keimanan”

Sebaliknya, orang yang menyombongkan diri, Allah akan menghinakan dirinya.

Sebab merasa telah menjadi manusia yang terhormat melebihi siapapun manusia yang hidup di sekitarnya. Padahal, bagi pandangan orang lain, ia adalah manusia hina durjana.

Allah Swt. berfirman:

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37).

Dalam sabda Nabi Muhammad Saw:

“Dan sesungguhnya Allah menganjurkan kepadaku untuk selalu merendahkan diri. Agar tidak ada seorang pun yang berbangga pada orang yang lain. Dan supaya tidak ada seorang pun yang berlaku dholim ataupun menganiaya pada orang lain.” (HR. Muslim No. 2865).

Banyak contoh-contoh kejadian manusia, ataupun makhluk yang lain, berkat ketawadhu’annya, manusia atau makhluk yang lain itu diangkat derajatnya oleh Allah Swt.

Sebagai contoh, ketika Muhammad Rasulullah Saw. berhijrah dari Mekah ke Madinah, para kaum anshor (penduduk Madinah) mereka bersuka cita menerima kedatangan utusan Allah tersebut. Bentuk kegembiraan mereka diwujudkan dengan memperhias rumahnya sebaik mungkin. Alhasil, masing-masing dari mereka, berlomba-lomba supaya rumahnya bersedia disinggahi Rasulullah untuk beristirahat.

Tapi, dalam keriuhan tersebut, Rasulullah mengatakan: “aku akan singgah dan beristirahat di tempat yang ditujukan atas kesemauan unta ini”.

Tali kekang unta itu lantas dilepas oleh Rasulullah. Beliau mencoba membiarkan si unta berjalanan sekeinginannya sendiri.

Yang terjadi malah unta itu nampak tak berkeinginan untuk berjalan. Ia duduk-berdiri, duduk-berdiri berulang kali. Sembari di sekitarnya, penduduk Madinah (yang rumahnya telah dihias sebaik mungkin) mencoba merayu unta supaya berjalan ke arah rumahnya.

Tanpa diduga-duga, masih dalam keriuhan yang makin mencekam, Nabi Muhammad telah dibisiki oleh Malaikat Jibril: “Turunlah di rumah itu wahai Nabi. Bahwasannya pemiliki rumah itu adalah seorang yang tawadhu.” Ternyata, rumah yang dimaksud oleh Malaikat Jibril itu adalah rumah sahabat Abu Ayyub Al-Anshori. Dia adalah sahabat yang sederhana dan penuh dengan ketawadhu’an.

Contoh kedua adalah ketika bukit-bukit telah mendengar kabar, bahwa Allah Swt  berfirman : “Bahwa kapal Nabi Nuh akan berlabuh di bukit di salah satu bukit di antara mereka.”

Kabar itu langsung ditanggapi dengan berbagai ungkapan yang berbeda dari masing-masing bukit. Ada bukit yang mengakatan “kapal Nabi Nuh akan bersandar di bukitku, sebab aku lah yang paling tinggi”, “kapal Nabi Nuh akan berlabuh di bukitku, sebab aku lah yang paling besar.”

Namun, ada salah satu bukit, yang dengan kerendahan hatinya berkata “Mungkinkah kapal Nabi Nuh berlabuh di atas bukitku/gubukku?”. Karena bukit itu menampakkan rasa rendah diri dan ketawadhu’annya itu, akhirnya bukit yang bernama Al Kindi itu diangkat derajatnya oleh Allah Swt dengan dilabuhi oleh kapalnya Nabi Nuh.

Sama halnya dengan bukit Al Kindi, bukit Tursina juga mengalami alur cerita yang hampir sama. Bukit itu mengatakan: “Siapakah aku? Hingga Allah mengajak kekasihnya berbicara di atasku.” Memang, akhirnya bukit itu terpilih sebagai tempat pembicaraan langsung antara Allah dan Nabi Musa As.

baca juga : Krapyak dan Sejuta Pesonanya”

Contoh ketiga, adalah betapa tinggi ruh ketawadhu’an dalam diri Nabi Muhammad Saw. Dalam suatu kesempatan, Allah bertanya kepada Nabi Ibrahim dengan pertanyaan “Siapakah kamu?”. Ibrahim menjawab, “aku adalah khalilullah (aku kekasihmu)”.

Ketika Allah bertanya kepada Nabi Musa perihal yang sama “Siapakah Anda?”. Musa menjawab, “aku adalah yang Engkau ajak berbicara secara langsung (kalimullah)”.

Begitu pula ketika Allah bertanya kepada Nabi Isa perihal yang sama, “Siapakah engkau?”, Isa menjawab, “aku adalah Al-Masih”.

Ketika pertanyaan itu dilayangkan juga kepada Nabi Muhammad Saw. “Siapakah Anda?”. Nabi dengan penuh rendah diri dan ketawadhu’annya mengatakan “aku hanyalah anak yatim-piatu”.

Berkat pernyataannya, Allah mengangkat derajat Nabi Muhammad Saw. dalam derajat yang lebih tinggi daripada Nabi-Nabi yang lain.

Begitulah wujud jawaban Allah Swt atas sifat dan sikap ketawadhu’an manusia ataupun makhluk yang lain.

Semoga dari cerita-cerita tersebut, kita sanggup mengambil intisari hikmah dengan menanggalkan sikap kesombongan diri dan menggantinya dengan sikap tawadhu’ dan rendah diri kepada orang lain.

*Tulisan ini disadur dari penyampaian Khotbah Jum’at dari KH. Fairuzi Afiq Dalhar pada tanggal 10 Nopember 2017. (Afqo).   

2 thoughts on “Cerita Tawadhu’ dan Fadhilah Ketawadhu’an itu Sendiri”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *