Karakter Utama Santri

durasi baca: 3 menit


… pesantren memiliki beberapa kekhasan. Antara lain, santri atau alumni pesantren umumnya adalah orang yang bisa mengaji dan ngalim atau memiliki etika Islam-kebangsaan yang kental.


Oleh: KH. Hilmy Muhammad Hasbullah

 

– بسم الله الرحمن الرحيم –

Pengantar

Lembaga pesantren ini dibagun dari tiga pilar, yaitu: pilar guru atau kiai, pilar murid atau santri dan pilar masjid atau pondok sebagai pusat kegiatannya. Ketiganya membentuk satu kesatuan yang biasa disebut pesantren.

Apabila disebut istilah pesantren, yang terbayang kemudian adalah sebuah lembaga pendidikan. Dan memang pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua khas Jawa. Lembaga ini warisan para wali penyebar Islam di Indonesia. Akan tetapi berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya, pesantren memiliki beberapa kekhasan. Antara lain, santri atau alumni pesantren umumnya adalah orang yang bisa mengaji dan ngalim atau memiliki etika Islam-kebangsaan yang kental.

Kata kunci yang membedakan lembaga pendidikan ini dengan yang lain antara lain terletak pada peran dan fungsinya yang bukan sekedar lembaga transfer pengetahuan saja. Pesantren mengajarkan lebih banyak dari sekedar pengetahuan, tetapi juga moral dan etika kehidupan dan keteladanan dalam pergaulan di tengah masyarakat.

Makalah ini hanya akan membicarakan salah satu pilar pesantren, yaitu santri dengan berbagai karakter yang membentuknya. Tentu makalah terlalu singkat dan tidak begitu komprehensif karena ditulis sekedarnya. Akan tetapi insya Allah makalah ini dapat memberi sedikit gambaran bagaimana mestinya berkarakter sebagai santri.

Beberapa Karakter Penting Santri

Untuk lebih memudahkan fokus perbincangan ini, tulisan ini akan langsung membahas beberapa hal yang menjadi karakter utama seorang santri, antara lain:

1.      Kepatuhan

Kepatuhan bagi seorang santri kepada kiai dan guru adalah niscaya. Bagi santri, kiai dan guru adalah murobbi ruhihi atau orang yang membina kebaikan jiwanya. Kedudukannya bahkan lebih tinggi dari bapak-ibunya, sebab kalau bapak-ibu adalah orang tua yg bersifat biologis, maka guru atau kiai adalah orang tua yang bersifat ruhiyyah atau spiritual.

Kiai atau guru sekali lagi bukan hanya orang yang berlaku sebagai mediator atau sekedar mentransfer pengetahuan, tetapi kiai adalah orang yang membimbing kejiwaan dan memberikan bekal pengetahuan keagamaan santri sekaligus memberikan keteladanan dalam semua aspek kehidupan.

Keberadaan kiai sebagai murabbir-ruh mengharuskan santri memberikan ketaatan dan kepatuhan sepenuh hati; memberikan penghormatan tanpa henti, dan melaksanakan semua tugas yang diperintahkannya tanpa bertanya lagi untuk yang kedua kali. Barangkali ini adalah bentuk dan pengejawantahan maqalah dari Sahabat Ali ibn Abi Thalib karramallahu wajhah:

“أنا عبدُ مَنْ علَّمني حرفا واحدا”

(Saya adalah hamba sahaya dari orang yang telah mengajariku (meskipun) satu huruf saja).

Tapi tentu, apalagi di Krapyak, kepatuhan santri terhadap kiai tidak sesaklek itu. Para kiai di Krapyak tidak begitu suka bermodel feodal, mereka lebih kebapakan dan egaliter. Di pondok ini biasa berlaku kiai bal-balan, badminton atau pingpong bareng dengan santrinya. Tapi diharapkan kondisi yang seperti ini jangan disalahguna atau disalahartikan.

2.      Kemandirian

Sebagaimana ciri penting lembaga pesantren, kemandirian juga menjadi salah satu karakter utama bagi santri. Di pesantren, santri diajari me-manage dirinya sendiri; dibiasakan mengatur waktunya sendiri dan memilih teman yang sesuai dengan seleranya sendiri. Fal-hasil, sejak pertama kali datang, santri memaksa dirinya mengurus dan memenuhi segala keperluannya sendiri.

Aspek pendidikan yang terpenting dalam hal ini tentu saja adalah masalah kedewasaan, yaitu bagaimana santri tidak terbiasa cengeng dan mudah mengeluh dengan masalah sehari-hari. Aspek ini selanjutnya mendorong santri berlaku jujur, cerdas, trampil, kreatif dan disiplin menghadapi segala sesuatunya sendiri.

3.      Kesederhanaan

Kesederhanaan juga menjadi aspek terpenting bagi karakter santri. Sebagaimana lembaga pesantren yang umumnya dikelola swasta-swadaya, tentu kekurangan fasilitas adalah masalah yang lumrah dan biasa. Kesederhanaan membiasakan santri untuk berlaku qona`ah dan tidak bersikap berlebih-lebihan.

Kesederhanaan juga mengajarkan santri agar membiasakan diri memandang setara terhadap sesama tanpa membeda-bedakan status sosialnya. Aspek ini kemudian mendorong santri agar terbiasa dengan keadaan apa adanya dan mengajari santri bisa hidup di mana saja.

4.      Kebersamaan dan kekeluargaan

Sikap kebersamaan dan kekeluargaan juga menjadi ciri pembeda santri dengan pelajar lainnya. Sikap ini bisa muncul dikarenakan kehidupan santri mengharuskan mereka mesti bergaul, berinteraksi dan hidup berdampingan selama sehari semalam, dalam berbagai bentuk kegiatan.

Tentu dalam pergaulan ada suka dan duka. Hal ini yang justru memberi warna dan semakin mengokohkan ukhuwwah di antara mereka, seperti sebuah keluarga. Sikap ini pada gilirannya akan menimbulkan persatuan, kebersamaan, toleransi, kesetiakawanan, gotong royong, tolong-menolong dan saling membantu dalam segala urusan mereka, bahkan sesudah mereka selesai belajar di pesantren.

Karakter-karakter di atas menjadi inti kejiwaan dari seorang yang disebut santri. Karakter ini akan menjadikan seorang santri menjadi pribadi yang kuat dan tangguh, serta siap hidup di tengah masyarakat. Apabila santri mampu mentransfer karakter dan kepribadiannya ke tengah masyarakat luas, tentu automatically dia akan mampu mewarnai karakter kehidupan bangsa ini.

Penutup

Demikian sedikit pemaparan bagaimana seharusnya santri dan bagaimana semestinya karakter-karakter ini ada pada diri seorang santri. Terlalu singkat mungkian, atau teramat tergesa-gesa. Tapi apapun, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bis-sowab.

[Tulisan singkat ini untuk Pekan Ta’aruf 2010 PP. Al-Munawwir komplek L Krapyak Yogyakarta, 24 Oktober 2010 M./23 Dzul-Qa’dah 1431 H. dengan tema: Peran Strategis Pesantren Dalam Membentuk Karakter Bangsa. Dipublikasi kembali dalam rangka pendidikan.]

baca juga : Menumbuhkan Kesalehan Sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *