Menumbuhkan Kesalehan Sosial

by Februari 13, 2017
Khotbah Jum'at Mauidzah 0   553 views
durasi baca: 2 menit


Tidak baik orang yang hanya mendirikan ibadah, tetapi tidak perhatian pada orang sekitarnya. Kanjeng Nabi Muhammad SAW. menegaskan: tidak beriman, hingga tiga kali, terhadap orang yang membiarkan dirinya kekenyangan, sedangkan tetangganya dalam keadaan kelaparan“.


 

Oleh : KH. Hilmy Muhammad

Jama’ah jum’ah rahimakmullah…

Mari kita haturkan ungkapan syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah Ta’alaa, yang telah memberi nikmat dan anugrah yang tak terhingga banyaknya. Mari kita upayakan untuk menguatkan taqwa kita dengan cara melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Kaum muslimin yang dimulyakan Allah, Iman Nawawi al-Bantani dalam kitab Nashaihul ‘Ibad mengutip sabda kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:

Dua hal yang tidak ada perkara apa pun yang lebih baik dari pada keduanya, yaitu iman kepada Allah dan bermanfaat bagi kaum muslimin

Hadis ini memberi banyak pengertian kepada kita. Islam sebagai agama tidak hanya mengutamakan aspek hubungan vertikal antara manusia dan Allah SWT, tetapi juga mementingkan hubungan horizontal antara manusia dengan sesamanya.

Tidak ada baiknya orang yang hanya mendirikan ibadah shalat, puasa dan haji, tetapi tidak perhatian pada tetangga. Tidak sayang kepada orang tua, keluarga dan teman-temannya. Kanjeng Nabi Muhammad saw. juga menegaskan:

tidak beriman, hingga tiga kali, terhadap orang yang membiarkan dirinya kekenyangan, sedangkan tetangganya dalam keadaan kelaparan“.

Jamaah yang terhormat, Hadis di atas juga menuntut kita agar kita menjadi orang yang bermanfaat. Semakin keberadaan kita berguna dan bermanfaat, menjadikan kita semakin terhormat dan bermartabat. Dan yang dimaksud bermanfaat itu tidak hanya dalam urusan materi atau harta, tetapi juga bisa diwujudkan dalam bentuk ilmu, saran, arahan dan nasehat-nasehat.

Kemudian yang penting dikemukakan di sini adalah agar bisa bermanfaat bagi orang lain, kita harus memulainya dari diri kita sendiri. Lakukan segala sesuatu mulai dengan bertanya kepada diri kita sendiri, apakah yang kita lakukan sudah benar sesuai dengan tuntunan agama. Apa sesuai dengan aturan adat dan tata cara bermasyarakat? apakah yang kita lakukan itu benar-benar baik dan tidak merepotkan sesama? apakah keberadaan kita itu menyenangkan orang lain atau malah mengganggu mereka?

Supaya bisa menjadi orang yang bermanfaat kita ternyata harus menjadi pribadi yang baik dulu. Menjadi orang yang shaleh sebelum men-shalehkan orang lain. Selanjutnya untuk menjadi bermanfaat, kita harus peduli, prihatin dan memiliki kasih sayang kepada orang lain.

Kita harus memahami bahwa orang lain adalah bagian dari keluarga besar makhluk Allah yang mereka senang bila dihargai, mereka kecewa bila disakiti, mereka marah bila diganggu atau recoki.

Belajar dari kanjeng Nabi Isa ‘alaihi salam, beliau memohon kepada Allah ta’ala agar senantiasa diberi kebaikan. Juga memiliki nilai tambah di manapun beliau berada (wa ja’ala minkum mubarakan aynama kuntum). Dari sini dapat diketahui bila keberadaan kita mampu mengingatkan orang lain, maka itu pertanda bahwa kita disukai oleh orang lain.

Sebaliknya, apabila kita menjadi pribadi yang ruwet, membuat banyak masalah terhadap masyarakat sekitar, itu pertanda bahwa keberadaan kita masih belum berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Demikian khutbah ini disampaikan, semoga dapat dipahami dengan baik dan semoga kita senantiasa dilindungi oleh Allah dalam upaya kita melaksanakan semua ajaran agama ini dengan sebaik-baiknya. Amin ya rabbal ‘alamin.

*Artikel ini merupakan saduran dari khutbah yang disampaikan KH Hilmy Muhammad pada Jum’at 13 Jumadil Awwal 1438 (10/02/2017) di Masjid Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Ditulis kembali oleh tim redaksi almunawwir.com (Fathul Khoiry/K.Arofah) 

baca juga : 5 Prinsip Supaya Hidup Tanpa Musuh

Tinggalkan Balasan