Harlah, Momentum Sejarah Hingga Memoar Mbah Zaenal

durasi baca: 3 menit

Doc: @ittaqifawzia

Agaknya perlu kita refleksikan bersama. Genggaman uswah tidaklah hadir begitu saja, di balik itu ada sejarah bernilai kebaikan dan berkah dari Sang Muasis, Sang Tauladan. Laku ikhlas dan pulir-pulir doa panjang merekalah penyebab keteladanan masih eksis hingga jaman millenial ini.

Tepat 4 Agustus 2018 lalu merupakan momentum pengerat genggaman uswah itu. Hari lahirnya Ibu kita bersama Ibu Nyai Hj. ida Fatimah Zainal S. Ag., M.S.I, sekaligus berdirinya Komplek R2 Ponpes Al-Munawwir, Krapyak Yogyakarta. Para santriwati sungguh emosional dan bahagia mensyukuri hari jadi ini. Kerajaan kecil yang selama ini menjadi tempat bernaung berbahagia beserta Bu Nyai sebagai Sang Ratu penebar uswah cinta masih senantiasa Alloh beri keberkahan dan kelimpahan rohmat.

Para santri melangitkan doa-doa terbaiknya sebagai bentuk syukur dan terima kasih yang tak terkira. Tak kurang dari 14 kali majlis khataman Al-Qur’an dihelat sebagai pengingat hari jadi Komplek R2 yang ke 14. Semilir Sholawat Nariyyah khusyuk terhembus 66.666 kali khusus untuk Ibu Nyai Ida tercinta yang berulang tahun ke 66. Ada pula kegiatan kebersamaan guna memupuk kasih sayang sesama santri maupun masyarakat sekitar, di antaranya senam bersama, lomba-lomba antar lantai, bakti sosial hingga kerja bakti di lingkungan dalam dan luar pesantren.

Malam puncak sedemikian anggun disuguhkan tadi malam tepat 16 Agustus 2018 dengan Talk Show bersama Bu Nyai Ida bertajuk “Petik Uswah Melalui Sejarah”. Santriwati dan seluruh penyimak live streaming akun instagram @komplek_r2 mendapatkan banyak sekali uswah dari Bu Nyai yang murah senyum ini. Beliau bukan hanya saksi tetapi juga sebagai pelaku sejarah. Tak sedikitpun para santriwati melewati momentum penting ini.

Baca Juga : Wisuda Salafiyah V, Bu Nyai Ida Fatimah : Kita Harus Tetap Istiqomah Menjadi Santri

Yang pertama menjadi topik pembuka adalah pertanyaan terkait berdirinya Komplek R2. Ternyata sebelum menjadi sebuah gedung, dulunya Komplek khusus mahasiswi ini adalah tanah milik seorang non-Islam. Suatu ketika Ibunda dari Bu Nyai Ida berdoa semoga suatu saat tanah itu menjadi milik putri Beliau dan dapat dimanfaatkan sebagai tempat memperluas khazanah keilmuan. Gayung bersambut, ternyata pemilik tanah tersebut adalah teman sepermainan Almaghfurlah Kiai Zainal Abidin Moenawwir. Maka ditemani oleh Bu Nyai Ida, Bapak–Almaghfurlah Yai Zainal mengutarakan ingin membeli tanah tersebut. Bapak adalah sosok yang santun, meski dengan teman saat kecilnya dulu, ketika sudah dewasa Bapak akan menghormati dengan menggunakan bahasa jawa halus. Sampai-sampai pemilik tanah tersebut merasa tidak enak karena terlalu dihormati. Kemuliaan akhlak Beliau lah akhirnya mampu mencairkan kebekuan hati, dengan senang hati tanah tersebut dibeli oleh Bu Nyai Ida.

Tahun demi tahun berselang, akhirnya dengan mantap Bapak dan Ibuk Nyai berinisiatif mendirikan komplek R2. Sebelum memulai sesuatu, Almaghfurlah Yai Zainal pasti membiasakan untuk melakukan kebaikan terlebih dahulu. Semisal mengadakan syukuran berhias lantunan khataman Alquran maupun bacaan-bacaan thoyyibah lainnya.

Semakin menarik lagi saat sesi tanya jawab, pertanyaan pertama adalah bagaimana apabila dalam pernikahan seorang istri memiliki pengetahuan agama lebih tinggi daripada suami. Maka dengan bijak Ibu Nyai menjelaskan, bahwasannya semua bisa dikomunikasikan, jika pada saat awal si istri terus menerus menyalahkan suami, yang ada hanyalah masalah, bahkan perpisahan. Maka tugas sang istrilah yang mengajari suaminya ilmu agama dengan santun agar terbentuk sosok pemimpin yang diinginkan. Sebagaimana suasana rumah tangga Ibu Nyai dengan Almaghfurlah Yai Zainal, sebelum mengajar, Ibu selalu sorogan kitab dan mempelajarinya terlebih dahulu bersama Bapak. Jadi tidak ada kalimat merendahkan, yang ada hanyalah saling mengisi.

Dalam talk show Ibu Nyai Ida juga berpesan kepada seluruh santriwati, jika belum ada kata “Qobiltu”, maka jangan terlalu dekat dengan lawan jenis. Sebab semua hal yang besar berawal dari yang kecil. Dengan kata lain, dosa-dosa besar yang kemungkinan terjadi pasti diawali dengan perbuatan dosa-dosa kecil terlebih dahulu.

Baca Juga : Semarak  Wisuda  Madrasah  Salafiyah  V

Dilanjutkan pertanyaan kedua terkait tips langgeng ala pernikahan Bu Nyai Ida dengan Yai Zainal yang terkenal romantis. Ternyata selama pernikahan, Bapak tidak pernah memarahi Ibu, ketika Ibu berbuat salah maka Bapak menggunakan cara humoris,

“Jadi, Bapak tu nggak pernah marah, kalau saya salah, tiba-tiba Bapak minta Ibu mengambil kitab. Setelah saya ambil, saya disuruh membacakan suatu bab. Eh lha kok ternyata kitabnya itu membahas tentang kekhilafan yang telah saya perbuat”.

Langsung ibu menimpal, “Yah, nyindir aku yaa”,

Almaghfurlah Yai Zainal lantas menjawab dengan tenang, “aku ra nyeneni, wong sing ngomong kitab og”, seketika tertawalah seluruh perserta talk show.

Pada akhir talk show, Ibu Nyai Ida juga berharap kepada seluruh santriwati, bahwa jangan cepat puas dengan segala yang telah diperolah, karena perjalanan menimba ilmu melalui pendidikan maupun pengalamanan masih panjang, supaya kelak ketika keluar dari pesantren para santri menjadi produk yang siap pakai, ibarat sprei kasur kita bisa menggunakannya langsung tanpa harus menjahitnya terlebih dahulu. Maka istiqomah serta sabar mengarungi pencarian ilmu di pondok pesantren adalah kunci utama agar kelak lahir Sri Kandi – Sri Kandi dari Komplek R2.

Jaya Bu Nyai Ida, Jaya Komplek R2 !

(Hansip, R2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *