Halaqah Jurnalistik Mengetuk Nurani Baca-Tulis Santri

“Bahasa jurnalistik adalah salah satu ragam Indonesia. Sehingga dalam penulisannya harus tetap memperhatikan kaidah-kaidah  bahasa Indonesia yang baik dan benar”

baca juga : Kisah dibalik Kerudung Lokal, terdapat Otak Internasional

BANTUL  – Sebanyak 100 santri dari berbagai pondok pesantren di Kabupaten Bantul mengikuti halaqoh jurnalistik. Kegiatan itu diadakan di Pondok Pesantren Al Mahalli Brajan, Wonokromo Bantul, Sabtu (11/11).

Halaqoh dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional (HSN) 2017 menghadirkan narasumber dari para praktisi jurnalistik Yogyakarta, yaitu Drs H Ahmad Luthfie MA (Wakil Pemimpin Redaksi SKH Kedaulatan Rakyat) yang memberikan materi tentang pengalaman menjadi jurnalis. Selain itu Drs H Chaidir (Redaktur SKH Kedaulatan Rakyat) dengan materi dasar-dasar jurnalistik.

“Kita harus bisa membuktikan bahwa santri itu bisa masuk dalam bidang apa saja, termasuk dalam dunia jurnalistik”, ujar Luthfie yang juga alumniPondok Pesantren Krapyak.

Acara halaqoh jurnalistik menyambut Hari Santri Nasional 2017 [sumber : Instagram @komplekq]

Beliau juga menambahkan kalau zaman sekarang adalah zamannya perang argumen (ghazwul fikr), media massa adalah media terbuka untuk masyarakat. Media yang menjadi wadah masyarakat untuk menyampaikan pendapatnya. Karena itulah  Santri harus masuk ke dalamnya sebagai garda terdepan untuk generasi yang memperbaiki keadaan (zaman) bukan malah sebaliknya.

Dengan kegiatan diklat inilah, kita belajar membuat berita yang baik dan benar sesuai kode etik jurnalistik dan undang-undang yang ada.

Beliau juga memberitips dan trik supaya karya kita bisa dimuat di koran. “Sungguh saat kita menulis di media massa, pikiran kita bisa dibaca oleh semua orang, Bupati, Menteri, bahkan Presiden sekalipun. Dan kurang lebih, mereka yang membaca, menganggap kita lebih cerdas, daripada yang tidak menulis di media massa” ujar Luthfi.

Beliau mencontohkan sosok kyai, santri, dan guru, yang sering menulis di media massa lebih terkenal daripada yang tidak menulis.

“Ada yang tahu koran itu ada berapa halaman?”, Pak Luthfi melemparkan pertanyaan ke audiens.

Menurutnya Koran terdiri dari 24 sampai 26 halaman yang didalamnya meliputi: iklan, tulisan dan foto.

Tulisan pun, ada yang berupa berita dan artikel. Artikel harus disesuaikan berdasarkan pakarnya atau jurusannya. Tentu dengan tema yang menarik. Tulisannya harus mengalir seperti cerita dengan dikaitkan bahasan yang aktual, lanjutnya.

“Bahasa jurnalistik adalah salah satu ragam Indonesia. Sehingga dalam penulisannya harus tetap memperhatikan kaidah-kaidah  bahasa Indonesia yang baik dan benar” imbuhnya.

Dari ulasan-ulasan yang kedua pemateri jelaskan kepada para santri-santri tersebut, tibalah sesi tanya jawab yang dibuka oleh moderator.

Selanjutnya terdapat beberapa pertanyaan dari masing-masing perwakilan Pondok Pesantren. Salah satunya ada seoarang Mahasiswi yang juga santri di Pondok Pesantren Al Anwar Sawahan. Dia bertanya, “Bagaimana cara mengatasi rasa kejenuhan dalam menulis berita? Dan apakah menulis itu keterpaksaan atau suatu hobi?”.

Pemateri menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang lugas dan mendalam “Orang yang menulis itu mesti berfikir, tidak ada orang yang menulis itu tidak berfikir. Perlunya inspirasi agar tetap semangat dalam menulis bisa dari membaca buku, membaca artikel dalam media massa, film, atau pendapat tentang apa yang dilihat. Itu jadi bahan untuk penulisan.

Lebih bagus menulis bukan untuk keterpaksaan tapi lebih kepada kebutuhan untuk menyalurkan aspirasi, jawabnya.

“Deadline, bagi wartawan adalah suatu perkara yang utama bahkan melebihi keluarga juga, jadi  keterpaksaan yang baik itu boleh. hehe ” imbuhnya. (Growols)

 

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *