Kisah Dibalik Kerudung Lokal, Terdapat Otak Internasional

durasi baca: 2 menit

… setelah menjelaskan isi kitab, Gus Faiq membuka dialog dengan pertanyaan sederhana, “Mengapa kaum santri, pesantren sangat toleransi terhadap perbedaan? “, tanya beliau kepada para santri.


Almunawwir.com [Krapyak] Hujan tak begitu deras mengguyur Bantul hingga malam sekitar pukul 10.00 WIB pada Senin, 13 November 2017. Di sebuah kelas, tampak seorang berpeci dan bersarung duduk di depan sembari membacakan suatu kitab, sedang beberapa santri berjas hijau dan berkerudung putih duduk beralaskan lantai juga sembari memegang kitab dan pena.

Adalah Gus Faiq Muhammad yang saat itu tengah mengampuh mata pelajaran tarikh, Kitab Khulasoh Nurul Yaqin di kelas Tsalis Madrasah Salafiyah III PP Al Munawwir Komplek Q Krapyak, Yogyakarta. Gus Faiq mengaku cenderung lebih senang membacakan sedikit dari bagian kitab, kemudian menjelaskannya dan diteruskan dengan dialog atau tanya jawab mengenai berbagai persoalan bersama santri-santri.

Kitab Khulasoh Husnul Yaqin

Malam itu, setelah menjelaskan isi kitab, Gus Faiq membuka dialog dengan pertanyaan sederhana, “Mengapa kaum santri, pesantren sangat toleransi terhadap perbedaan? “, tanya beliau kepada para santri.

Yang ditanyai garuk-garuk kepala, tampak kebingungan.

Namun beberapa sepertinya sudah memiliki jawaban, akan tetapi enggan mengungkapkannya.  Mungkin takut salah, sungkan dan lain sebagainya.

Alhasil, pada akhirnya, Gus Faiq menjawab sendiri pertanyaannya.

Gus Faiq menuturkan alasan mengapa pesantren lebih moderat dan toleran adalah karena beragamnya kitab yang dipelajari di pesantren. Meski santri masih dalam usia belia, namun pelajaran yang dipelajari adalah hasil karya ulama besar dari berbagai dunia. “Jangan minder jadi santri, lihat kalian sudah mempelajari pemikiran orang Mesir”, tutur Beliau kepada santri.

Dalam seminggu, santri sudah mempelajari pemikiran ulama dari berbagai dunia. Dari kitab Kitab Jurumiyah karangan Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Dawud Ash Shinhaji (kadang disebut Ash Shonhaji), dari Maroko, Kitab Matan Taqrib karangan Ahmad bin al-Husen bin Ahmad al-Asbahaniy yang terkenal dengan panggilan al-Qadhi Abu Suja’ dari Basrah, kitab Alfiyah Ibnu Malik karangan Muhamad bin Abdillah bin Malik  dari Spanyol, Kitab Tafsir Jalalain karangan Jalaluddin Suyuthi dan jalaluddin mahalli dari Mesir, dan Kitab Ta’limul Muta’alim karangan Burhanuddin az-Zarnuji dari Afghanistan. Beberapa kitab tersebut adalah kitab yang sering diajarkan di berbagai pesantren di Nusantara.

Sedangkan beberapa kitab dari dalam negeri seperti kitab Shorof Metode Krapyak yang ditulis oleh K. H.  Muhtarom Busroh adalah metode shorof dari K. H. Ali Maksum, Kitab Nashaihul Ibad karya Abu Abd al-Mu’ti Muhammad ibn Umar al Tanara al Jawi al-Bantani. Ia lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani, dan Kitab Sirojut Tholibin karya Syekh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi kediri Jawa Timur. Bahkan beberapa kitab karangan ulama nusantara juga dipelajari di Universitas Al Azhar Kairo.

Begitu banyak warna dan macam kitab yang disediakan oleh pesantren untuk para santrinya. Banyaknya varian itu kian ke mari telah mengalami proses panjang. Mulai perumusan dan penyesuaian dengan konteks sosial yang terjadi. Jadi, kurikulum pengajaran di pesantren pun selalu dinamis terhadap zaman.

Oleh karena itu, dengan mempelajari pemikiran berbagai ulama dunia, hal tersebut membuat kaum pesantren menjadi kaum yang tidak mudah gumun dan kagetan. Karena belajar kitab karya ulama dunia juga belajar mengenai pemikiran dan kehidupan serta kondisi sosio-budaya negara dan daerah tempat pengarang kitab tinggal.

Di sela-sela pelajaran dan sembari menyemangati para santrinya, Gus Faiq berkata “Dibalik kerudung lokal kalian, terdapat otak internasional”.(Hafidhoh)

baca juga : Mbah Ali, Pesantren, dan Sepak Bola

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *