Dalam Menghafal Alquran, Ibu Adalah Motivator Terbaikku

durasi baca: 3 menit

Kisah Juang Menghafal Alquran
(Muhammad Rajief Arza – Khotimin Haflah Khotmil Qur’an Yayasan Pondok Pesantren Krapyak 2018)

Wajahnya menyingkap benih kebersahajaan. Matanya memandang selalu ke sudut terdalam, pertanda tak ada kelabilan dalam memadu visi. Sementara rahangnya yang kukuh, mendapuk sisi akan sikap teguh.

Pengutaraannya yang santun juga menjadi wujud pendidikan yang dituntun. Tentu, bagi orang yang menuntun, ia menafikan paksaan, menafikan gertakan, menafikan cercaan namun dengan tetap melanggengkan tujuan.

Seperti halnya dengan apa yang diingat oleh Gus Reza—sapaan akrab Muhammad Rajief Arza.

Semenjak menginjak kelas 5 SD dirinya merasa mulai membandel. Dirinya merasa susah sekali untuk mengaji. Ditambah lagi dengan sering asyik-masyuk bermain game, hingga lupa akan waktu.

Namun perlahan rasa bandel itu memudar. Sebab ia merasa kebandelan itu menjadi faktor berubahnya raut wajah Ibunya yang menjadi tak tentu.

baca juga : Mbah Munawwir, Barzanji dan Kasihnya kepada Santri”

“Ibu sering mengeluh, ia sedih tapi tidak marah melihatku terus asyik bermain game dan enggan mengaji”. Ujar cucu dari KH. Ali Maksum tersebut.

Lambat laun dirinya tersadarkan. Ia terpukul dan dengan ikhtiar yang sungguh, ia ingin mengembalikan raut wajah cantik Ibunya. Dengan cara apapun, semisal melaksanakan tuntunannya.

Di saat itu pula, tuntunan sekaligus keinginan Ibunya coba direalisasikan. Secercah raut kebahagiaan mulai mengindahi rumah bersemayam. “Ibu tersenyum, tatkala diriku memulai untuk menghafalkan Alquran”. Tukas putra dari Ibu Ny. Hj. Dra. Ida Rufaida Ali.

Patut kita ketahui, bahwasannya membahagiakan orang tua adalah ikhtiar mulia. Jadi, bagi kita yang masih memiliki orang tua, jangan lupa membahagiakan mereka, dengan cara dan jalan kalian masing-masing.

Gus Reza memulai menghafalkan Alquran sejak kelas 5 SD. Perlahan ia menceritakan alurnya, “pertama kali setoran itu didaftarkan oleh Ibu untuk mengaji ke Gus Mas’udi (menantu KH. R. Najib AQ), sama Gus Mas’udi saya mengkhatamkan Juz ‘Amma”.

Meskipun begitu, geliat untuk istiqomah mengaji dirasainya masih susah. “Tapi, alhamdulillah Ibu senantiasa mensupport dengan motivasi-motivasi pelecut semangat.”

Setelah itu, memulai setoran juz 1 bersama Ibunya sendiri, sampai juz 2 halaman 4. “Nah, setelah lulus dari SD, untuk bisa melanjutkan dan memfokuskan hafalan, Ibu memondokkan saya di sini (Yayasan Ali Maksum), dengan harapan bisa fokus menghafal dan sekolah.” terang putra kelahiran Yogyakarta, 16 tahun yang lalu.

Dalam fase naik ke tingkat Tsanawy, ia pun masih merasa kesulitan untuk menghafalkan. Masih bingung untuk mengatur waktu muroja’ah, membuat setoran, dan kegiatan sekolah.

Dengan kondisi seperti itu, perjuangan keras untuk bisa mengaji dilakukannya seintens mungkin. Sampai jadwal kesehariannya tersusun serapi mungkin. Ketika ditanya kapan waktu favorit untuk nderes, ia menjawab sehabis Asar di Masjid lantai 1 untuk menambah setoran.

Usaha untuk meneruskan hafalan pun berlanjut di bawah bimbingan Ibu Ny. Hj. Durroh Nafisah Ali. Bersama beliau, awalnya hanya setor setengah halaman. Hingga tatkala sudah merasa nyaman, enak dan menikmati untuk menghafalkan Alquran, jumlah setoran pun menambah, kadang sehalaman dan bertambah menjadi dua halaman.

”Dulu, sehari dapat satu halaman itu rasanya seneng banget. Hehehe.” Jelas putra yang hobi bermain game di sela-sela waktur menghafal dan belajar ini.

baca juga : KH. Buchori Masruri tentang KH. Ali Maksum (Bagian I)”

Syahdan, ikhtiar untuk melanggengkan raut wajah bahagia ibunya itu terealisasikan juga, tatkala menempuh jangka waktu 2,5 tahun untuk mengkhatamkan Alquran. Ia menyetorkan hafalan sampai juz 30 bersama Ustadz Ahmad Fauzi (Pengasuh Asrama Tahfiz Ali Maksum).

Keberhasilannya menghafalkan Alquran itu mengantarkannya untuk mengikuti Haflah Khotmil Quran Yayasan Ali Maksum dalam serangkaian Haul Almaghfurlah KH. Ali Maksum 2018 (27/01/2018).

Selain rasa bahagia yang didapat, Gus Reza juga berpesan kepada para penghafal Al Quran untuk menanamkan I’tikad “pasti bisa!” dalam segala hal. Juga ketika menghadapi situasi sulit dengan sebuah tantangan dan adrenalin yang menghadang, ia berpesan “tanamkan pada diri sendiri bahwasannya “I’m The One/ Akulah orangnya!”.” Dengan santai pula ia memaparkan jika ungkapan itu terinspirasi dari lagu Justin Bieber yang berjudul “I’m The One”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *