KH. Buchori Masruri tentang KH. Ali Maksum (Bagian I)

by Juni 7, 2017
Esai Masyayikh 0   601 views
durasi baca: 2 menit

Oleh :  M. Zaky Mubarrok*


Pak Ali itu punya aturan nyleneh. Unik, langka. Takkan pernah ada di dunia ini. Bagaimana tidak, pada satu kesempatan, beliau pernah dawuh, “Siapa saja santri mengambil barang milikku, maka halal baginya selama tidak ketahuan.” Tegas Pak Ali saat itu.

“Ayo kiai siapa coba yg berani meniru?” Tantang Pak Buchori kepada seluruh hadirin sambil tertawa lepas.


Pernah suatu malam ada 2 orang santri bermaksud mencuri Kelapa milik Pak Ali. Yang satu manjat pohon yang satu lagi menunggu di bawah sambil membawa senter. Santri yang manjat pohon itu berpesan pada temennya yang menunggu di bawah, bahwa jangan sampai sekali-sekali menyalakan senter ke arahnya saat di atas pohon. Setelah santri itu naik, santri yang di bawah mendengar suara “blok.. blok.. blok” menuju ke arahnya. Pertanda bahwa itu Pak Ali datang. Kontan santri itu langsung tunggang langgang meninggalkan temannya yang masih di atas pohon.

baca juga : KH. Buchori Masruri tentang KH. Ali Maksum (Bagian II)”

Sejurus kemudian Pak Ali mendengar suara “kresek.. kresek..” dari atas pohon. Beliau menyalakan senter ke arah santri yang sedang asyik di atas pohon. “Dikandani ojo nyorot kok malah nyorot“, bentak santri yang masih di atas pohon tanpa sadar bahwa Pak Ali yang menyalakan senter.

Begitu bijaksananya beliau, sampai-sampai beliau pura-pura tidak mengetahui dan langsung pulang ke ndalem. Seandainya beliau mengatakan “sopo kui?” maka, pasti santri itu akan langsung jatuh dari atas pohon kelapa.

Kemudian baru pagi harinya beliau memanggil 2 santri itu untuk menghadap. “Entuk kelopo piro mau bengi?” (dapat kepala berapa semalam?) Tanya Pak Ali yang diiringi raut wajah malu dari kedua santrinya itu.

Usut punya usut, Pak Ali melakukan itu semua karena beliau tidak mau santrinya melakukan maksiat dengan mengambil barang miliknya. Oleh karena itu beliau merelakan semua barang miliknya diambil asal tidak ketahuan.

baca juga : Mbah Dalhar, Lebih dari Sekadar Kiai”


بان العلم نور و نور الله لا يهدي للعاصي


Ilmu itu nur, cahaya. Cahaya itu tidak akan pernah diberikan kepada al ‘ashi, orang yang berbuat maksiat. Pak Ali tidak akan mau santrinya menjadi al ‘aashi. Percuma beliau mengajar kalau ilmu yang beliau sampaikan tidak masuk kepada santrinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *