5 Prinsip Supaya Hidup Tanpa Musuh

durasi baca: 4 menit

Kalau ada orang tidak merasa butuh orang lain, apakah besok kalau mati mau mandi sendiri? Bungkus kain kafan sendiri? Nyolati sendiri terus ngesot sendiri ke maqbaroh?


Oleh : KH. Hendri Sutopo

Saat duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah, aku pernah mengaji kitab Akhlak At Takhliyah wa at-Targhib fi at-Tarbiyah wa at-Tahdib karya Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki. Di dalamnya ada Syair yang, alhamdulillah sampai sekarang masih kuhapal. Syair yang saya maksud itu berbunyi demikian

Wamaa bikatsiirin alfu khillin wa shookhibin & Wainna ‘aduwwan waakhidan lakatsiiru“.

“Tidaklah terasa banyak orang punya seribu teman, tetapi yang akan terasa banyak kalau punya musuh satu”

Syair itu kurasa benar adanya, missal kita punya teman di berbagai grup di media sosial, fans, atau follower seribu, hal itu belumlah terasa banyak. Akan tetapi kalau selama hidup ini kita punya musuh satu, itu sudah terasa banyak.

Bagaimana tidak, mau hadir di suatu majelis sudah mikir duluan. “Musuhku datang nggak yaaa?”. Akan duduk sembari kepala celingak-celinguk berkali-kali, menggerutu “Musuhku duduk dimana yaaa?”. Jangan-jangan duduk di sampingku. Mampus dah!

Bahkan masuk grup Whatssap pun diawali dengan rasa nggak nyaman. Karena ada musuhnya di sana. Mending kalau di grup ada mantan pacar. Yaah.. agak kerasan dikitlah. Cuma kok ya lama nunggu sang mantan kok nggak muncul-muncul, entah berkomentar atau tanya apa gitu di grup. Mau Japri (jalur privasi) takut sama isteri atau suaminya. Ya sudahlah dipantengi saja foto profilnya.

Mengantisipasi syair yang di awal telah penulis sebutkan, alhamdulillah, hingga saat ini saya punya prinsip hidup “jangan punya musuh dan saya berusaha tidak dimusuhi orang”. Tidak ada orang yang aku benci. Aku pun juga berusaha agar jangan ada seorangpun yang membenciku. Itu prinsip yang selalu kupegang.

Namun, barangkali, sebagai manusia biasa, saya juga pernah disakiti orang, diremehkan orang,  difitnam eh maksudku difitnah orang. Bahkan ditipu orang sekalipun, juga sering. Padahal orang sebaik aku (ha ha ha), mestinya tidak pantas jadi korban penipuan.

Karena saya hanya “Ustadz Ndeso”. Kurus—kurang gizi. Sudah nggak laku ngajar di Madrasah. Bukan seorang Kiai. Nggak punya gelar Akademik. Nggak punya Santri. Punya mantan murid saja ketemunya di grup media sosial. Itu pun hanya sekedar nitip salam, nggak pernah njenguk.  Nggak punya penghasilan tetap. eeeh kok masih ada yang tega nipu aku. Nasiib.. Memang  Nasiiib.

Tapi sudahlah, itu takdir yang harus kujalani. Tabah. Bahkan setiap kali ketemu orang yang pernah menipu itu, aku yang terlebih dahulu menyalaminya. Lahir-Bathin sama sekali tak terbesit rasa untuk memusuhinya. Semua sudah kumaafkan dengan tulus dan ikhlas. Bukankah sifat penghuni Surga itu antara lain “Wal kaadhi miinal ghoidho wal `aafiina ‘aninnas”, yang mampu menahan emosi dan memaafkan kesalahan orang lain (Ali’ Imran;134).

Sebagai sikap realisasi dari dalil (Qs. Ali ‘Imron; 134) dan syair (dalam kitab At-Takhiliyah) di atas, untuk supaya mengantisipasi biar hidup tidak punya musuh. Aku punya lima dalih atau prinsip :

Pertama, “An yakuuna mutawaadhi’an”, orang harus mau rendah diri. Merasa sama dengan orang lain. Tidak sombong dengan berbagai macam kesombongan. Istilah Mbah Ali Maksum dulu,  dianalogikan demikian; semua orang itu WC/ Toilet Berjalan. Isi perut orang, walaupun kaya, pintar, ‘alim, akan sama jua dengan isi perut orang lain pada umumnya.

Ibarat air, ia akan selalu mendatangi tempat yang lebih rendah. Sedang bagi tempat yang tinggi,  api yang akan mendatanginya.

Kedua, “An yakuuna mukhtaajan lighoirihi”, orang harus merasa butuh dengan orang lain. Jangan selalu merasa dibutuhkan. Hidup adalah saling membutuhkan. Laki-laki butuh perempuan. Suami butuh Isteri, demikian sebaliknya. Santri butuh Kiai. Kiai pun butuh santri sehingga tidak ada arogansi. Anggota butuh pengurus. Sedang Pengurus pun juga butuh Anggota. Keterkaitan tersebut menunjukkan sikap saling menghargai.

Kalau ada orang tidak merasa butuh orang lain, apakah besok kalau mati mau mandi sendiri? Bungkus kain kafan sendiri? Nyolati sendiri terus ngesot sendiri ke maqbaroh?.

Ketiga, “An ya’tarifa bianna kulla insaanin lahu naqsun wa fadhlun”, harus mengakui dan menyadari tidak ada manusia yang sempurna. Semua ada kelebihan dan kekurangan. Sama dengan diri kita, ada plus-minusnya. Menghadapi orang lain, sebaiknya cukup dilihat sisi positifnya belaka. Negatifnya kita kubur dalam-dalam.

“Man tholaba akhon bilaa ‘aibin baqiya bilaa akhin”, barang siapa mencari teman yang tanpa cacat, maka ia tidak akan punya teman selamanya. Eh, ini bukan hadis, hanya omonganku sendiri. Hehe.

Sama dengan yang saya alami, ketika melihat istriku, kucukupkan hanya melihat sisi baiknya belaka, yang jelek kututup dengna menutuo mataku rapat-rapat. Kalau yang kulihat kekurangan isteriku, sudah dari kemarin aku jadian sama Dewi Persik atau Luna Maya!.

Keempat, “An yata’allama ‘ilman nafs”, mau belajar mengetahui dan mempelajari tentang karakteristik orang yang bermacam macam. Ada yang menyenangkan, tapi ada juga yang bikin perut mules karena menyebalkan. Ya itulah karakter atau watak orang yang susah dirubah, sebentar bisa dipengaruhi, tapi nanti balik lagi. Watuk akeh obate yen watak ora ono tambane. Batuk banyak obatnya kalau Watak nggak ada obatnya.

Kelima, “An ya’taqida bil qodho’ wal qodar”, harus yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi itu adalah kehendak Allah SWT, baik itu berupa peristiwa positif maupun negatif menurut penilaian manusia. “Maa saqothot waraqotun min syajarotin illa biqodhooihi wa qodarihi“. Selembar daun yang jatuh dari pohon itu adalah kehendak dan takdir Allah.


Sehingga kalau saya diremehkan atau ditipu orang, ya itu adalah takdir Allah yang harus kuterima, saya ambil hikmahnya tapi orangnya tidak perlu dimusuhi. Supaya aku tidak punya musuh.


Maaf saya nggak nerusin tulisan ini karena khawatir ada yang tidak senang membaca tulisanku kemudian memusuhiku .

Krapyak, 14 Agustus 2017

*(Sumber dari buku catatan Hendri Sutopo)

baca juga : Ajakan Menyerukan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *