Wisuda Madrasah Salafiyah V: Proses Belajar Masih Panjang

by September 1, 2020
durasi baca: 2 menit

Wisudawan berfoto dengan dewan pengasuh dan para asatidz

Almunawwir.com – 11 Muharram 1442 atau Sabtu malam 29 Agustus 2020, menjadi malam yang meriah bagi santri Madrasah Salafiyah V karena telah digelar wisuda santri kelas 4 sekaligus pelantikan pengurus baru masa khidmat 1442 H.

Dalam sambutannya, Ny. Hj. Ida Fatimah Zainal selaku pengasuh menyampaikan bahwa wisuda bukan akhir dari proses menuntut ilmu. Di Madrasah Salafiyah V, setelah wisuda para santri masih harus melalui kelas pasca dan pengabdian. Hal ini menjadi salah satu upaya untuk menyiapkan para santri jika nanti kembali ke masyarakat.

Ny. Hj. Ida Fatimah Zainal juga mengutip syair yang artinya “Segala yang dicapai seorang perempuan, sangat berarti bagi bangsanya”. Hal ini menguatkan pesan  beliau kepada para santri untuk menjadi perempuan yang bukan hanya menjadi pendamping suami ketika lulus dari pesantren.

Diperlukan komitmen untuk menghias diri dengan ilmu, akhlak, tanggung jawab dan keterampilan lainnya sebagai bekal setelah boyong.

Baca Juga: Halaqah Qur’an di Krapyak

Harapannya, melalui tahapan kelas di Madrasah Salafiyah V dan kegiatan-kegiatan pesantren dapat membentuk santri menjadi pengayom dan penenang masyarakat dari berbagai info yang saat ini sangat mudah dijangkau, terutama masalah agama yang dirasa semakin simpang siur membuat masyarakat awam bimbang dalam menerapkan nilai-nilai agama terutama hukum-hukum fiqih yang diterapkan sehari-hari.

KH. Muhtarom Busyro dalam sesi mauidzah hasanah menambahkan makna belajar sebagai penghilang kebodohan (li izaalatil jahli). Jika niat menuntut ilmu tidak dengan niat tersebut maka akan sangat rawan bagi para santri menjadi takabur.

Bahayanya, jika niat yang tidak sesuai sudah tercapai maka proses belajar dianggap sudah selesai. Nyatanya, belajar merupakan proses yang harus dilalui selama hidup. Tholabul ‘ilmi minal mahdi ilallahdi.

Meskipun sudah diwisuda, harapannya para santri tidak gumedhe dan terus memohon kepada Allah agar dijadikan sebagai manusia yang tawadlu’, seperti Almaghfurlah Simbah Yai Zainal Abidin Munawwir yang selalu tawadlu dengan keluasan ilmunya.

 

Latest posts by Isna Sholihatur Rohmaniyah (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *