Tuhan, Anak Kecil dengan Kotak Nasi

by September 17, 2020
durasi baca: 2 menit

Anak kecil membaca al-Qur’an. Foto: Pexels

Almunawwir.com – Di suatu siang yang terik seorang nenek tua melangkah gontai tanpa tujuan.Tubuhnya kian ringkih dengan balutan baju yang ditambal sana-sini. Tak lama ia menemukan taman dan duduk di salah satu bangkunya. Lelahnya perjalanan dan perutnya yang melilit tidak memberinya pilihan kecuali tidur saja.

Belum sampai ia memejamkan mata, seorang anak kecil entah dari mana melambai kepadanya dari kejauhan. Nenek tua menyipitkan mata, menerka-nerka siapa di sana. Anak kecil terus mendekat hingga berdiri sempurna, persis di hadapannya. Ia menyodorkan dua kotak nasi yang ia bawa dengan kerepotan lalu tersenyum sangat lebar.

Seakan kedatangan kawan lama, Nenek tua langsung menyambar tubuh anak kecil dalam dekapannya. Sejurus kemudian anak kecil sudah duduk di sampingnya dan mereka begitu saja tenggelam dalam percakapan hangat. Sesekali bahkan terdengar gelak tawa. Saat makannya usai, bocah kecil pamit. Ia mencium tangan, memeluknya lama dan kemudian pergi.

Baca Juga: Hikmah Pandemi Corona dari Berbagai Sudut

Nenek tua melambaikan tangan untuk perpisahan. Masih ada sekotak nasi di pangkuannya. Tiba-tiba kawannya muncul di sebelahnya dan bertanya: “Mengapa engkau tampak sangat bahagia? Apakah karena kotak nasi ini?” Sembari menyodorkan satu kotak nasi yang tersisa, Nenek tua menjawab “Bukan, aku baru saja bertemu Tuhan. Aku tidak menyangka ia masih sangat belia. Aku senang, Ia ada di sekeliling kita.” Dengan rona muka bahagia nenek tua berdiri dan meneruskan perjalanan.

Beginilah orang-orang di sekitar kita. Seringkali pemikiran sederhana justru mengandung banyak makna. Nenek tua yang kelaparan mengajarkan nilai tasawuf tinggi, tentang meyakini kasih sayang Tuhan dalam tubuh mungil yang membawa kotak nasi. Ia mengungkapkannya dengan pemahamannya yang khas. Tidak perlu menilai macam-macam, setiap orang berhak mencintai Tuhan dengan caranya sendiri bukan?

Tuhan tidak berada di dalam Ka’bah, di masjid-masjid, tapi Ia mewujud dalam setiap kebaikan yang kita terima.

*Faiqotul Khosyiah, santri komplek R2

#SantriR2Produktif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *