Afdholul ‘Amal, Humanitarian Islam dan Pengalaman Gus Yahya di Krapyak

by November 23, 2021
durasi baca: 6 menit

Bagaimana alur pengembaraan keilmuan selama di Krapyak, Gus?

“Ndak ada, kalau pengembaraan keilmuan itu. Saya itu cuma ‘ngenger’ aja. Saya dibawa ke sini sama Ayah saya, lalu disuruh tinggal, dipasrahkan kepada Kiai Ali itu enggak disuruh ngaji kok saya. Cuma dibilang, udah, kamu di sini aja. Biar ketularan kiaimu. Ya karena enggak disuruh ngaji, ya enggak ngaji saya. Pokoknya ikut gitu aja, mudah-mudahan barokah.”

“Lima belas tahun itu tabarukan. Mudah-mudahan ada barokahnya beneran. Saya yakin ada, sudah saya rasakan.”

Itu dari tahun berapa sampai tahun berapa, Gus?

“Datang tahun 1979, baru naik kelas 2 SMP. Alhamdulillah saya tahan sampai tahun 1994. Lima belas tahun.”

Lama sekali, ya?

“Tua di Krapyak saya.”

Keterikatan apa yang membuat Gus Yahya tidak serta-merta menafikan Krapyak sebagai bagian perjalanan hidup panjenengan, Gus?

“Ayah saya, mondoknya di Krapyak. Paman-paman saya mondoknya di Krapyak. Dan saya menyaksikan bagaimana ayah saya, paman-paman saya, mendapatkan manfaat dan barokah yang luar biasa besar dari Krapyak.”

Strategi apa yang ditawarkan Islam Nusantara dalam membendung arus radikalisme?

“Islam Nusantara itu fakta sosiologis. Itu kenyataan sosiologis. Makanya bolak-balik para tokoh NU menjelaskan bahwa NU bukan madzhab. Bukan ideologi. Ini realitas sosiologis, bahwa Islam yang tumbuh sebagai fenomena sosial di Nusantara ini memang punya khususiyah-khususiyah yang berbeda dari Islam pada umumnya, sekali lagi sebagai realitas sosial di belahan dunia Islam yang lain. Nah, di dalam realitas sosial di Nusantara itu, khususnya para ulamanya, ada berbagai macam faktor, hidup di tengah komunitas muslimnya, ada mentalitas, dan lain-lain. Tapi yang paling mencolok adalah tradisi keulamaannya. Bahwa para ulama nusantara itu memang punya tradisi yang berbeda. Beda dari pada umumnya dunia Islam yang lain. Ulama Nusantara itu beda, ulama nusantara itu punya wilayah, wilayah dalam arti tanggung jawab sosio-teritorial. Ulama-ulama kita itu dari dulu punya tradisi setiap ulama itu dia punya kawasan masyarakat yang menjadi tanggung jawab riayahnya. Itu sudah sejak lama. Ini ndak ada di belahan dunia Islam yang lain. Itu salah satu contoh-contohnya. Nah, kalau kita bicara radikalisme…”

“Radikalisme itu muncul karena ada kelompok-kelompok Islam yang hendak memaksakan wawasan keislaman dari masa lalu, dari peradaban yang lalu, yang sekarang sudah berubah keadaannya. Tapi masih mau ngotot memakai wawasan dari era yang lalu. Itu yang melahirkan radikalisme. Kenapa ulama nusantara terhindar dari mentalitas semacam itu? Karena secara de facto, ulama nusantara selama berabad-abad sudah membiasakan diri dengan respons yang kontekstual terhadap realitas masyarakat. Jadi, istilah, walaupun mungkin entah tepat atau tidak, saya mengatakan bahwa ulama-ulama kita itu sudah biasa melakukan de facto, sudah biasa melakukan ijtihad, untuk merespons kenyataan sejarah yang berubah-ubah. Itu sudah berabad-abad, sejak zaman wali songo sampai sekarang. Sehingga pandangan dari ulama-ulama ini membuat Islam hadir sebagai sesuatu yang kompatibel dengan konstruksi realitas pada zamannya. Seperti yang dikatakan oleh Kiai Ali Maksum bahwa Islam itu harus solihun li kulli zaman wa makan. Karena itu harus kontekstual. Solihun itu kan artinya pantas. Pantas itu artinya kompatibel. Kompatibel dengan segala zaman dan tempat. Segala ruang dan waktu. Itu Islam. Nah, ini yang sudah ditradisikan oleh kiai-kiai, oleh ulama nusantara. Nah, maka, jalan keluar dari radikalisme apa? Kontekstualisasi, atau rekontekstualisasi dari wawasan-wawasan keislaman. Supaya menjadi solihun li hadzihi zaman. Radikalisme itu menjadi dianggap sebagai ancaman karena apa? Karena ndak solihun li hadzihi zaman. Menjadikan Islam, lalu, ghoiru soleh li hadza zaman. Itu masalahnya.”

Menurut Gus Yahya, sebagai Katib ‘Aam Nahdlatul Ulama, visi apa yang njenengan tawarkan dalam menahkodai gerbong Nahdlatul Ulama?

“Saya ndak punya visi apa-apa, wong visinya sudah dibuatkan oleh pendahulu-pendahulu kita. Ini bukan barang baru. Tahun 1984 itu Nahdlatul Ulama sudah memberikan legitimasi keagamaan, memberikan kerangka teologis tentang keabsahan negara-bangsa, yang dirumuskan dalam pernyataan yang singkat dan tandas bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah upaya final umat Islam Indonesia mengenai negara. Berarti sudah final. Sudah sah ini, negara bangsa ini. Walaupun tidak ada presiden di dalam fiqih sebelumnya. Negara-bangsa itu fenomena pasca perang dunia kedua. Enggak ada referensi. Ijtihad baru ini. Kemudian juga pada muktamar 1984 itu dinyatakan bahwa kita ini tidak hanya terikat kepada ukhuwah Islamiyah, tetapi juga ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah bashariyah. Jadi luar biasa, karena memberikan paradigma baru kepada kita. Di dalam wacana dan wawasan yang dulu, ada pemilihan-pemilihan yang tegas antara muslim dan non muslim. Non muslim itu masih dibagi-bagi, ada yang dzimmi, ada yang harbi, dan sebagainya. Itu pun yang dzimmi kalau non muslim tetap warga negara kelas dua. Tapi, apa namanya, dinyatakan bahwa ini wathaniyah, berarti hum, al kafirun, hum ikhwanuna. Bainana wa bainahum ukhuwah. Ini luar biasa. Tapi jelas-jelas punya akar di dalam sumber-sumber nilai. Rasulullah saw dalam khutbahnya di Mina pada waktu haji wada sudah menyatakan: ayyuhannas, inna robbakum wahid wabaakum wahid. Kita itu bersaudara, sudah. Kalau ukhuwah bashariyah, al bashar akhul bashar. Ini visi dari, visi yang sudah dibuatkan oleh kiai-kiai dulu. Saya ndak perlu bikin visi lagi, buat apa? Wong sudah ada. Ada visi tentang rekontekstualisasi fiqih yang ditetapkan di Muktamar di Krapyak sini. Ada visi tentang istinbath jama’i, ada visi tentang bahwa yang menyatakan atau memandang bahwa kategori kafir itu tidak lagi relevan dalam konteks negara-bangsa modern. Visi oleh para ulama. Yang kita perlukan sekarang adalah mengaktualisasikan visi itu. Visinya sudah ada, tinggal kita pikirkan bagaimana supaya visi ini membumi? Bagaimana supaya pandangan-pandangan ini diinternalisasi oleh warga Nahdlatul Ulama. Menjadi mentalitasnya, menjadi cara berpikirnya. Karena di dalam para kiai kita itu membangun visi itu terbukti bukan hanya menjawab masalah NU sendiri. Bukan hanya menjawab masalah Indonesia saja. Bahkan bukan hanya menjawab masalah dunia Islam. Jelas bahwa kemelut dunia Islam yang sekarang sedang berlangsung, jawabannya ada pada visi kiai-kiai Nahdlatul Ulama. Jelas. Kita belum melihat tawaran visi dari yang lain. Sampai hari ini. Makanya, enggak selesai-selesai kalau di sana enggak ada visi tentang jalan keluar. Visi (tentang) jalan keluar ada di sini. Diletakkan oleh para kiai Nahdlatul Ulama, bahkan untuk peradaban dunia. Saya bolak-balik mengatakan, jangan dikira, yang lain-lain itu tidak kacau. Barat tidak kacau. Jangan dikira. Amerika ini kacau-balau. Eropa kacau-balau. Semuanya kacau-balau. Dan kalau orang mau memikirkan dengan mendalam, ternyata jalan keluarnya ada di sini. Ukhuwah bashariyah, intinya. Dan kesediaan untuk mengupayakan konsensus di antara perbedaan-perbedaan yang ada, supaya kita semua walaupun berbeda-beda, bisa hidup berdampingan secara damai.”

Kerja peradaban apa yang harus dilakukan santri, dalam sudut pandang Gus Yahya sebagai santri?

“Pertama-tama, kalian ini, harus menata hati dalam belajar itu, bahwa kalian melakukan ikhtiar belajar itu semata-mata untuk mengharapkan mardhotillah. Itu saja dulu. Karena orang itu punya maqom sendiri-sendiri. Ada maqom alim, ada maqom mutaalim, ada maqom wali. Bukan waliy, tapi wali. Pejabat NU itu waliy. Waliy itu ya government, yang mengelola urusan. Ulil amri itu waliy, ulil amri NU itu. Saya ini waliy. Lha setiap maqom itu punya, apa namanya, punya afdholul ‘amal yang berbeda-beda. Afdholul ‘amal untuk ‘alim ya ta’lim. Afdholul ‘amal untuk mutaalim kayak santri-santri ya taalum. Taalum itu ndak boleh ada motivasi selain litighoi mardhotillah. Karena selain itu haram. Kalian kan kalau ngaji supaya laku jadi pengurus NU itu haram. Ndak boleh ada motivasi selain litighoi mardhotillah. Itu aja dulu. Kalau itu sudah, pada saatnya nanti, apapun manzilah yang disediakan (oleh) Allah swt harus dilaksanakan dengan ikhlas, dengan penuh dedikasi untuk berkhidmah. Saya juga, ndak ada saya cita-cita menjadi pengurus NU itu, tidak ada. Ndak ada cita-cita jadi Wantimpres. Juru bicara. Ndak ada. Saya cuma ngalap berkah aja. Bahwa kemudian ada manzilah ini itu ya kita terima sebagai sesuatu yang dibebankan tanggung jawab yang dibebankan kepada kita ya kita laksanakan sekuat-kuatnya. Nanti kalian itu akan menghadapi realitas yang mungkin belum terbayang hari ini. Saya ini ya, saya ini dari generasi antara. Katanya dibilang sebagai generasi yang hilang. Karena antara baby boomer dengan milenial. Dalam arti ya, ndak jelas. Tapi saya menyaksikan peralihan dari era pra milenial ke (era) pasca milenial. Saya menyaksikan kenyataan-kenyataan hari ini yang dulu sama sekali tak terbayangkan. Ndak ada orang meramal bahwa keadaan akan seperti ini. Tiba-tiba ini terjadi. Nah, mungkin kalian nanti di masa depan akan menemui realitas-realitas baru yang sekarang belum terbayangkan. Apakah kalian bisa merespons dengan baik atau tidak, ya itu tergantung futuh minallah. Kita berharap futuh minallah. Karena kalau kita lihat perjalanan sejarah itu, ini luar biasa sekali bahwa kiai-kiai kita ini tiba-tiba menghadirkan jawaban bagi pertanyaan sejarah, secara tidak terduga, tapi menjadi solusi. Kalau dipikir-pikir bidah semua. Bikin organisasi, bidah. Bikin negara-bangsa, bidah. Lucu sekali. Keluar dari Masyumi, bidah. Kalau diukur dari teks. Tapi dari konteks, belakangan, semua orang mengakui bahwa ini adalah jalan keluar yang menyelamatkan Indonesia. Semua itu dari mana kalau bukan dari futuh-Nya Allah. Ndak ketemu. Ndak ketemu. Kiai-kiai ini, ngajinya sama, gurunya sama, dengan kiai-kiai dari belahan dunia yang lain, ulama-ulama dari belahan dunia yang lain. Dapat dari mana kiai-kiai kita ini, aaaah… jawaban-jawaban genial, tidak terduga tetapi menjadi solusi peradaban, itu karena futuhnya Allah. Nah, ini yang kita harapkan. Tidak mungkin kalau tidak sejak awal, kiai-kiai ini sudah mencurahkan segala energi dan mentalnya untuk membangun keikhlasan di dalam tolabul ‘ilmi.

Gus, belakangan banyak ulama-ulama kapundhut, baik habaib, para kiai maupun bu nyai. Sebagai santri, apa langkah yang harus kami persiapkan Gus dalam menyikapi hal tersebut?

“Ini mengingatkan kita semua bahwa pasti akan tiba saatnya kalau kita memang dikaruniai umur, bahwa kita yang harus menyangga tanggung jawab dari beliau-beliau para pendahulu kita ini. Sekarang, ini ada Kiai Hilmy, Kiai Hamid, Kiai Ashid, Kiai Afif, Kiai Fairuzi, dan lain-lain, yang memikul tanggung jawab ini. Tapi, kalian yang lebih muda ini, pasti suatu saat kalian harus mengambil alih. Sekarang ini banyak kiai-kiai yang wafat. Kepada siapa tanggung jawab ini? Tanggung jawab masih ada, pondoknya masih ada, jamaahnya masih ada. Siapa? Harus ada yang mengambil alih. Maka, itu harus menjadi kesadaran dari para santri dalam berkhidmah kepada kiai-kiai. Pertama-tama kita menuntut ilmu itu semata-mata karena mengharapkan mardhotillah, karena takzim kita kepada guru, dan apabila, apabila kita dikaruniai hasil ilmu, ilmu itu bukan untuk kepentingan diri kita sendiri. Tetapi untuk menyangga tanggung jawab-tanggung jawab yang pasti suatu saat nanti akan ditinggalkan oleh guru-guru kita kepada kita.”

 

Pentranskip: Muhammad Mufid (Komplek Nurussalam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *