The Khidmah Society, Meneguhkan Moralitas yang Menyantuni

by September 19, 2020
durasi baca: 5 menit

Saling membantu dalam kondisi krisis pandemi. Foto: Pexels

Pandemi semakin menjebak kecemasan di hampir semua aras kehidupan. Satu dari kecemasan yang berulang-kali didaras oleh pemberitaan adalah kecemasan pada kedisiplinan masyarakat dalam mematuhi protokoler serta menjaga kesehatan.

Kenapa cuma itu?

Sebab kecemasan-kecemasan lain ternyata jauh diungkapkan seorang saintis Ed Yong dalam artikelnya yang berjudul “The New Coronavirus Is Truly Modern Epidemic yang tersiar di The Atlantic (03/02/2020). Ed Yong menjelaskan betapa dunia dalam banyak babak akan menghadapi krisis epidemi. Prediksi itu dikatakannya pada tahun 2018 dalam artikel “The Next Plague is Coming. Is America Ready?” Sebagai ilmuwan mikrobiologi, Ed memprediksi ternyata dunia belum siap menghadapi pandemi. “The world isn’t ready. There has assuredly been progress — vaccines can be produced faster, global cooperation is tighter, basic reaserch is nimbler — but supply chains are stretched, misinformation is rife, and investments in preparedness always fall into neglect once panic subsides.”

Terutama ketidaksiapan dunia yang menjadi sorotan Ed Yong adalah, pertama kekuatan mental, dan kedua merebaknya asumsi pada persebaran informasi yang sudah dalam taraf distraktif hingga mengaburkan kepakaran (the death of expertise). Pada titik terparah, informasi secara serampangan diproduksi dan lalu dikonsumsi tanpa dikunyah klarifikasi kepada lembaga otoritatif, dalam hal ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Padahal, Carl Bersgston epidemologi dan sosiolog sains dari University of Washington, mengatakan sejak pandemi muncul, para ilmuwan telah menerbitkan lebih dari 7.500 makalah tentang Covid-19. Sialnya, temuan itu belum banyak membantu.

Hal ini diperparah dengan dugaan ihwal akhir pandemi yang masih kabur, jelas menuntut kepatutan atau ‘common decency’ masyarakat terhadap upaya pencegahan transmisibiltas virus ini.

Awal Maret pemerintah terlihat tidak siap. Ketidaksiapan pemerintah untuk tanggap cepat, ketidaksigapan di sektor-sektor, dan tidak sinkronnya hubungan antarlembaga lalu berujung pada strategi tambal sulam. Meskipun demikian, pemerintah pusat selalu mengkampanyekan supaya masyarakat disiplin, beraktivitas dengan merujuk protokol Covid-19: menjaga jarak, mencuci tangan, menggunakan masker, menghindari kerumunan serta larangan mudik. Anjuran-anjuran yang sifatnya emergency treatmens itu meski hanya sebagai itikad preventif (dar’ul mafasid muqoddamun ala jalbiil masholih) dalam ‘pencegahan’ dan pembasmian banyak garis mutasi dari virus corona, tapi hal itu cukup menggedor kewaspadaan kita.

Sayang seribu sayang, kembali masyarakat meremehkan anjuran protokoler dan cenderung tidak disiplin. Jalanan masih ramai lalu-lalang pengendara motor — yang tak bermasker dan angkutan umum yang tak menjalankan protokolnya, pusat perbelanjaan dan tempat-tempat lain masih banyak ditemukan majlis bergerombol. Karantina Wilayah, PSBB dan pengurangan frekuensi perpindahan orang antara wilayah yang ditetapkan oleh pemerintah hanya dianggap angin lalu. Secara menyedihkan, kita lalu menilik angka grafik korban terpapar Covid-19 yang, kian hari kian bertambah.

Baca Juga: Patuhi Protokol Pencegahan Covid-19 Sama Nilainya dengan Ibadah

Puasa dan Teologi Wabah

Ketika menginjak bulan Ramadan, kepeningan itu terasa sedikit terobati. Ramadan seolah-olah membawa angin segar, bagi manusia yang mendamba pucuk meditatif/kekhusyuan beribadah. Penanaman ganjaran ibadah ritual, di syahrul jihad (terjadinya Perang Badar) ini, menjelma kuncup yang mekar tapi tak sempurna. Mengapa demikian? Sebab banyak yang mengira jika puasa hanya itikad personal. Akan tetapi puasa bukan hanya tirakat spiritual kepahalaan sebagai ritual enforcement belaka, yang justru hanya akan membelenggu manusia. (kam min shoimin laysa lahu min shiyamihi illal juu’i wal athosy). Wahyu yang terkandung dalam ayat-ayat puasa itu selayaknya dimaknai secara optimistik. Menilik di dalam ayat-ayat puasa itu jika digali penggunaan kata dan telaah gramatikal Arabnya, ia sungguh berpotensi dalam menopang spirit dalam beragama (Qs.1:183–186).

Karena itu, dalam praktik yang lebih rasional, ayat-ayat puasa seharusnya dimaknai sebagai living faith yang aktual, yang mencari makna ibadah itu dalam penghadapannya terhadap realitas. Yakni, bagaimana puasa dapat mengelola kesadaran ‘fitri yang humanis’ memihak keadilan dan realitas keterpurukan yang menggejala di lingkungan sekitar kita. Suatu kenyataan yang kini sama-sama kita hadapi: Pandemi Corona.

Persis seperti yang sudah dinash dalam Islam, bahwa proyeksi agama adalah sa’adatuddarain, kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Untuk melaksanakan proyeksi itu dan sebagai alat melaksanakan tanggung jawab sebagai manusia beriman, manusia dibekali dengan dua kekuatan, kekuatan berpikir (quwwah nazhariyah) dan kekuatan fisik (quwwah ‘amaliyah).

Untuk itu, tidak elok kiranya daya guna akal ditenggelamkan ke dalam samudera ketakwaan belaka. Penguatan potensi rasio, khususnya, berperan dalam membenahi dialog ketakwaan kita untuk membaca perubahan zaman (‘alal aqil an yakuuna ‘arifan bizamanihi). Rasionalitas yang dikelola dengan benar bukan malah menjerumuskan keyakinan kita, ia mempertebal keyakinan teologis kita pada kekuasaan-Nya. Sebab posisi ilmu pengetahuan dalam tatanan Islam memiliki dua standar pokok, yaitu standar ketuhanan dan kemanusiaan.

Dalam perspektif Fikih, persoalan coronavirus ditinjau melalu pengaturan Islam bertitik tumpu pada faktor kesehatan secara umum. Meskipun demikian tidak jarang pandangan masyarakat tentang kesehatan masih terlalu sempit dan terisolasi. Kesehatan dipandang sebagai sesuatu yang alami, akan menimpa setiap orang sehingga tak perlu dipermasalahkan lagi.

Kesehatan sering kali diperlakukan oleh banyak orang secara statis belaka. Jarang ada upaya khusus dalam melestarikan kesehatan. Budaya antisipasi lebih cepat bekerja ketika penyakit itu sudah didera. Karena itu yang muncul kemudian adalah kesadaran akan sakit dan berobat. Dalam kondisi pandemi ini, quwwah nazhariyah diberdayakan untuk mengetahui cara penularannya. Hal ini sebenarnya menjadi penting dan berpengaruh besar bagi pencegahannya.

Baca Juga: Hikmah Pandemi Corona dari Berbagai Sudut

Moralitas dan Keterlibatan

Meski, sejauh yang kita tangkap adalah suara kecemasan, ternyata muncul normalitas baru yang mengemuka dalam tekstur masyarakat Indonesia di masa pandemi ini, yaitu etos khidmah atau keterlibatan kepada pihak yang membutuhkan uluran tangan. Gerakan #SalingJaga antar sesama yang diinisiasi oleh Jaringan Gusdurian misalnya, telah mengetuk kesadaran fitri yang humanis. Belum dengan gerakan masyarakat lain yang bahu-membahu memberantas penyebaran virus tersebut.

Charity Aid Foundation melalui World Giving Index 2008 menobatkan Indonesia sebagai negara dengan penduduk paling dermawan di dunia. Indeks penilaian itu berpatok pada tiga kriteria; mendonasikan uang, menjadi relawan dan kemauan menolong orang yang tidak dikenalnya.

Hal itu bukan tanpa sejarah. Bahwa latar sosiologis yang menekan dominasi keterlibatan itu, menumbuhkan asumsi bahwa civil society di Asia mempunyai dua kaki, satunya berpijak pada masyarakat dan yang lainnya bergantung pada politik. Inilah hal yang menjadi penting untuk dipelajari dan menjadi pelajaran yang berharga, karena gagasan dan etos kesejahteraan bersama yang mulanya menjadi lawan individualisme dan tetap dipelihara sebagai pilar kolektivitas sosial ternyata tidak otonom dari kekuasaan dan kekuatan negara. Meskipun terkadang masyarakat terlalu bergantung pada kebijakan pemerintah (too much goverment) namun, sikap dan ketegasan pemerintah tetap akan menjadi acuan masyarakat dalam bertindak, terutama membangun moralitas kebajikan (social virtues). Pilar society tidaklah hanya organisasi, asosiasi kemasyarakat, lebih mendasar dari itu adalah pribadi.

Dalam sejarah sosial, ada nilai-nilai yang secara esensial berbeda antara masyarakat “Barat” dengan masyarakat “Timur.” Peradaban Barat, melalui Filsafat Yunani, dilandasi oleh semangat pencerahan yang menekankan hak-hak individualisme, sementara masyarakat Timur yang terkenal religius itu selalu menekankan nilai komunitarianisme sebagai landasan etos sosial bersama (a collectivist ethos). Komunitarianisme Asia adalah sesuatu yang tidak bersifat privat, tapi menjadi publik, dalam arti semua orang mempunyai potensi untuk saling membagi kebersamaan.

Dus, nilai sosial kebersamaan masyarakat (sense of community) mendapatkan ujian di masa pandemi ini, tapi di sisi lain, perilaku volunterisme — atau dalam konteks ini penulis sebut sebagai khidmah — sama ganjarannya dengan ibadah. Bahwa kita yang hidup adalah hidup dalam komunitas, di mana kita berbicara dan membagi kasih sayang antar sesama sebagai perwujudan diri sendiri (self-realization) secara autentik.

Lantas, dari mana harus diperkuat ‘etos khidmah’ dalam membentuk masyarakat peduli sekarang ini? dalam rangka memperkuat kembali moralitas lewat keluwesan pribadi atau kelembagaan sosial yang strategis. Pertama, adalah the family, dalam lingkungan keluarga. Ketahanan dan kesejahteraan keluarga menjadi elemen penting bagi kesejahteraan sosial. Pendidikan nilai kebersamaan yang ditumbuhkan melalui basis keluarga sangat mempengaruhi kepribadian anggota keluarga dalam melakukan tindakan inklusif dengan berbagi kasih sayang kepada orang lain.

Kedua, lewat bahasa dan lembaga-lembaga keagamaan. Sejauh ini di kalangan lembaga agama, tradisi philanthropy dan amal sedekah yang bersifat karitatif masih kuat. Begitu juga semangat voluntarisme sebagai ibadah. Dalam praktiknya, bahasa lembaga dalam melanggengkan tradisi philanthropy itu sangat membantu fondasi lembaga tersebut terhadap tuduhan personalisasi tertentu.

Ketiga, lembaga pendidikan seperti pesantren, madrasah dan sekolah-sekolah. Tidak sedikit, dari sekolah-sekolah yang hanya tertarik “menjual ilmu” daripada mendidik kebajikan, apalagi yang bersifat sosial. Tidak dengan pesantren, yang mendayagunakan dua elemen penting dalam pendidikan, melalui dakwah bil lisan dan dakwah bil hal. Dua komposisi itu menjadi bekal santri dalam menjalankan khidmah mereka kepada masyarakat, terutama dalam masa-masa sulit seperti ini.

Keempat, khidmah dengan mengembangkan mutual aid and voluntary hospitals. Rumah-rumah sakit lokal yang memberikan pelayanan terhadap kelas sosial yang rentan melalui program volunter dan melalui program asuransi semacam prepaid insurance bagi masyarakat terdampak.

Ala kulli hal, secara naluriah, wabah itu membentuk solidaritas sosial di tingkat kewaspadaan antar sesama. Mustofa Akyol menyebut fenomena ini semestinya dimanfaatkan tidak hanya untuk membangun rasa nasionalisme saja, melainkan juga solidaritas internasionalisme. Gagasan yang juga sudah lama diideasikan oleh ulama-ulama nusantara berupa trilogi ukhuwah: ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah insaniyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *