Tantangan Pesantren Zaman Now

by Februari 23, 2018
durasi baca: 3 menit

santri
Oleh : Syahrizal Affandi*

Zamane wes geser, begitulah kira-kira ungkapannya. Zaman dimana orang berlalu lalang yang dulunya dengan berjalan kaki kini sudah mulai menggunakan kendaran. Ataupun orang berkomunikasi jarak jauh yang dulunya dengan surat dan penantian yang deg-deg an kini cukup dengan satu kali pencet, bahkan kini sudah mulai bisa bertatap muka meski kondisi sejauh apapun.

Pesantren pun demikian. Dari zaman ke zaman harus mampun ikut bagian dalam perkembangan zaman. Pesantren dan santrinya khusunya harus mampu menopang bangsa, Negara dan agama sekaligus. Meskipun, peran pesantren dalam catatan sejarah buku-buku sekolah tidak dituliskan secara langsung.

Perkembangan zaman yang pesat ini ternyata bukan melulu berdampak positif. Namun ternyata banyak juga hal-hal buruk yang bahkan merusak. Disaat umat Islam sedang mengalami dua tantangan besar yakni neo-liberalisme yang turut mengendalikan dunia baru, dan yang kedua adalah munculnya model-model Islam yang berjenis lain yang dikenal dengan fundamentalisme-ekstrim, dengan watak keras, kurang toleran dan tidak ramah dalam mensikapi persoalan yang muncul dihadapi bangsa ini.

baca juga : Wujud Cintanya Allah itu Cobaan Hidup”

Pesantren sebagaimana yang diistilah oleh mendiang Gus Dur “sub kultural”, pesantren memiliki fungsi ganda (dzu wujuh) dalam pembentukan sebuah karakter, yaitu sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang yang berfungsi untuk menyebar luaskan dan mengembangkan ilmu-ilmu keagamaan Islam serta sebagai lembaga pengkaderan yang berhasil mencetak kader umat dan kader bangsa.

Menghadapi tantangan neo-liberalisme pesantren harus mampu mendesain secara aktif dan kreatif serta memberikan strategi dakwah dengan langkah-langkah yang lebih taktis, misalnya melalukan dakwah dengan program-program pemberdayaan ekonomi, dan pendamping masyarakat agar diperoleh kondisi masyarakat bisa berubah diatas kemandirian, bertindak atas dasar perencanaannya, bukan atas dasar eskpolitasi pasar yang digerakan oleh kepentingan-kepentingan tertentu.

Peran pesantren dalam pemberdayaan (empowerment) memiliki peran yang sangat besar, itu tidak terlepas dari peran subtansial dakwah Islam, yang antara lain berperan sebagai: fasilitator, mobilisator, agent of change dan lain-lain. Sebagaimana yang di pernah disampaikah oleh KH. Sahal Mahfud pesantren harus melengkapi dirinya dengan tenaga-tenaga yang terampil mengelola sumber daya dan lingkungannya. Tentu saja pandangan tersebut adalah sebuah jawaban bagi masa depan pesantren.

Maka, sudah saatnya dalam menghadapai neo-liberalisme saat ini pesantren bukan hanya mampu mencetak para kiyai handal. Melainkan harus mampun mencetak pejabat, birokrat, insinyur, direktur, pengusaha, dokter, seniman hingga tenaga pendidik yang baik agar mampu mengaplikasikan nilai-nilai pesantren dalam masyarakat.

Tantangan lain yang harus dihadapi pesantren adalah menghadapai gerakan transnasional. Mereka yang membawa ideologi yang tidak sesuai dengan realita sosial di negeri ini. Jargon-jargon Khilafah Islamiyah dan kembali kepada al-Qur’an dan hadist semakin sontak terdengar. Yang mencoba mengubah ideologi yang sudah ada dengan ideologi ekstrim tertentu.

Tentu saja dalam hal ini pesantren tidak bisa menutup mata. Sebagai lembaga pendidikan tertua dan merupakan pendidikan yang multikultural yang didalamnya diajarkan menghargai perbedaan, sudah tentu perannya dalam menghadapi kelompok-kelompok ekstrim tersebut diharapakan mampu menangkal gerakan-gerakan tersebut.

Bahkan kondisi ini diperparah justru lahirnya pesantren-pesantren yang mempunyai idelogi fundamentalisme. Padahal, sejak abad ke-15 pesantren yang dipelopori oleh Walisongo belum pernah muncul ideologi-ideologi tersebut. Mengapa? Karena para wali faham dengan kondisi sosio-kultural masyarakat nusantara.

baca juga : Kejujuran Menjadi Inti dari Keyakinan dan Keimanan”

Perlu digaris bawahi adalah bahwa Islam Indonesia merupakan Islam yang khas. Ia berbeda dengan Islam Negara manapun termasuk Timur Tengah. Islam yang Indonesia adalah Islam siap berdialektika dengan kebudayaan loKal yang terdiri dari berbagai agama, suku, ras dan etnis.

Pesan inilah yang sebenarnya disampaikan oleh al-Qur’an yang dinyatakan oleh seorang Paus Frasiskus bahwa al-Qur’an adalah kitab perdamaian. Maka sudah selayaknya pesantrean sebagai lembaga pendidikan Islam yang didalamnya mengajarkan nilai-nilai al-Qur’an. Menjaga dan menyampaikan pesan tersebut kepada masyarakat, dan yang terpenting adalah menanamkan nilai-nilai perdamaian yang ada dalam al-Qur’an sehingga mampun menangkal gerakan-gerakan fundamentalis yang saat ini telah masuk diberbagai elemen baik media bahkan pendidikan.

Maka sekali lagi dikatakan bahwa pesantren bukan hanya mampun mencetak kiyai yang handal melainkan harus mampu mencetak para santri yang mampu bergerak disetiap elemen keadaan masyarakat.

*penulis merupakan kontestan Lomba Parade Menulis memperingati Haul Al Maghfurlah K.H.M. Moenawwir bin Abdul Rosyad ke 49

One Comment

Lilis hs

Kalau ngomongin tentang zaman, memang jauh berbeda sekali, sekarang teknologi lebih mendominan dan memudahkan para penggunanya dalam segala aspek namun tak jarang juga disalahgunakan oleh penggunanya,, di sana pesantren juga harus dapat mengiringi dan menciptakan mahasantri yg juga handal dalam teknologi ..

Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *