Syeikh Abdul Aziz Al-Syahawi Menegaskan Ilmu Fikih Lebih Penting Dari Ilmu Lainnya

by Juli 29, 2022
durasi baca: 3 menit

اللّهُمَّ افْتَحْ عَلَيْنَا فُتُوْحَ اْلعَارِفِيْنَ بِحِكْمَتِكَ وَانْشُرْ عَلَيْنَا رَحْمَتَكَ وَذَكِّرْنَا مَا نَسِيْنَا يَا ذَا اْلجَلَالِ وَالْاِكْرَامِ

Begitulah doa pembuka yang dipanjatkan oleh Syeikh Abdul Aziz Al-Syahawi kepada para jama’ah yang hadir di Masjid Jami’ Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta (23/07/22). Pada kesempatan yang diberkahi ini, guru besar ulama madzhab Al-Syafi’i Al-Azhar ini menuturkan pentingnya mempelajari ilmu Fikih, sebab, ilmu Fikih mencakup pada seluruh dimensi kehidupan.

Karenanya, pilar Islam yang ada lima: syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji, tidak terlepas dengan ilmu Fikih, sehingga ilmu Fikih itu menjadi penentu keabsahan suatu ibadah sekaligus menjadi pilar dari semua ibadah.

Selanjutnya, Syeikh Abdul Aziz menjelaskan hal-hal yang perlu diketahui oleh umat muslim:

Pertama, mengetahui perihal yang menjadi keabsahan suatu ibadah. Suatu misal, seandainya seseorang melakukan ibadah, seperti shalat, thawaf, atau haji, namun ia tidak mengetahui ilmunya, maka hukum ibadahnya tidak sah. Oleh karena itu, hal yang perlu diketahui dalam hal ini adalah Niat.

Termasuk syarat-syaratnya niat adalah: (1) Islam, maka niatnya orang non-Islam hukumnya tidak sah; (2) Tamyiz/pandai, maka niatnya anak kecil, orang gila, atau orang yang belum pandai hukumnya tidak sah; (3) Mengetahui tatacara ibadah. Suatu contoh yang terjadi adalah orang-orang yang melaksanakan haji/umroh kebanyakan mereka datang ke tanah haram tidak mengetahui tatacara beribadah haji/umroh dengan benar, bagaimana caranya sa’i, thawaf, dan sebagainya.

Begitupula dalam bab wudhu’, sebagian orang tidak memperhatikan tatacara berwudhu’ dengan baik dan benar, mereka hanya sebatas membasuh anggota wudhu’ tanpa didasari ilmu.

Oleh karenanya, lanjut Syeikh, mengetahui ilmu Fikih hukumnya wajib. Hal ini berdasarkan sabda Nabi:مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ  (barangsiapa yang dikehendaki Allah (mendapat) kebaikan maka Allah akan memberikan pemahaman dalam masalah agama), juga sabda Nabi terkait tuntutan mencari ilmu طَلَبُ اْلعِلْمِ فَرِيْضَةُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ (mencari ilmu hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap muslim dan muslimah).

Dalam konteks ini, Syeikh Abdul Aziz membicarakan soal kesetaraan gender dimana dalam mencari ilmu tidaklah memandang gender, laki-laki atau perempuan. Bagi perempuan sendiri perlu untuk mengetahui hukum-hukum khusus baginya, bahkan seorang suami/orang tua berhak mempersilahkan istri/anak perempuannya untuk keluar rumah dalam rangka belajar dan mengajar.

Selanjutnya, beliau menjelaskan tiga aspek ilmu yang sama-sama pentingnya, yaitu: Pertama, ilmu yang dapat menentukan keabsahan suatu ibadah disebut Ilmu Fikih. Di sini beliau menggambarkan kasus tentang zakat, seseorang yang tidak mengetahui ilmu seputar zakat, seperti siapa yang wajib zakat, berapa ukurannya, dan kepada siapa yang berhak memberi zakat, sudah barang tentu hukum berzakatnya tidak dianggap benar.

Kedua, ilmu yang dapat memperbaiki akidah disebut Ilmu Tauhid, di kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah ilmu Tauhid dikomandoi oleh Imam Abu Al-Hasan Al-Asy’ari dan Abu Manshur Al-Maturidi, dan aspek terkahir, ilmu yang memperbaiki akhlak dan penyakit hati disebut Ilmu Tasawuf.

Sebagai contoh, seseorang yang hasud (berharap hilangnya nikmat yang ada pada diri orang lain) ini termasuk salah satu penyakit hati, padahal suatu nikmat yang telah Allah berikan kepada makhluk, tidak ada yang bisa mengambilnya, begitu juga suatu nikmat yang telah diambilnya tidak akan ada yang bisa melepaskannya. Maka hadirnya ilmu Tasawuf sebagai solusi pembersih hati seseorang.

Mempelajari ketiga ilmu di atas hukumnya fardhu ‘ain, seseorang yang mempelajarinya pasti akan mencapai keberhasilan di dunia dan akhirat. Namun tentunya, ketiga ilmu tersebut tidak mudah didapatkan dengan belajar secara instan, ia tetap membutuhkan sosok guru spiritual dan waktu yang cukup lama. Sebab ada usaha ada pula hasil, usaha membutuhkan proses yang lama, barulah hasil dari proses itu dapat dirasakan.

Sebagai penutup, ada satu statement beliau yang cukup menarik untuk disampaikan, bahwa ada suatu ungkapan yang menyatakan Al-Qur’an itu lebih utama daripada ilmu Fikih. Tetapi, justru beliau secara tegas mengatakan bahwa ilmu Fikih itu muqoddam (didahulukan) dari ilmu lainnya. Lalu beliau mengutip pendapat ulama yang menjelaskan wajibnya anak-anak mempelajari ilmu Fikih dan Akidah sebelum ilmu-ilmu lainnya.

Menanggapi hal ini, pada saat yang bersamaan pula, membaca Al-Qur’an memang perlu dipelajari karena di dalamnya terdapat surat Al-Fatihah, dimana ia salah satu rukun qauli dari ibadah shalat. Namun sebelum itu, ilmu Fikih lah yang memberikan pemahaman tentang adanya rukun-rukun shalat termasuk di dalamnya wajib membaca Al-Fatihah. Wallahu A’lam.

Editor: Abdillah Amiril Adawy

Irfan Fauzi
6 posts

Santri Komplek L Pondok Pesantren Almunawwir Krapyak. Minat Kajian di Sejarah dan Budaya Pesantren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.