Survive Santri dan Pondok Pesantren di Tengah Pandemi

by November 6, 2021
durasi baca: 3 menit

Munculnya wabah virus corona (COVID-19) bermula dari laporan China Country Office bahwa terdapat kasus kluster pneumonia dengan etiologi (penyebab) yang tidak jelas di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China yang terus berkembang hingga 7 Januari 2020. Kemudian pada akhirnya diketahui etiologi dari penyakit ini adalah suatu jenis coronavirus baru atau yang disebut sebagai novel coronavirus. Virus ini merupakan virus jenis baru yang belum pernah teridentifikasi pada manusia sebelumnya. (Syakurah & Moudy, 2020) Wabah virus corona secara resmi dinyatakan sebagai pandemi oleh World Health Organization (WHO) pada 11 Maret 2020.

Munculnya pandemi (COVID-19) merubah seluruh tatanan kehidupan, baik dari sektor pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya. Perubahan ini dikarnakan adanya kebijakan dari PP Nomor 21 Tahun 2020 pasal 4 terkait Pembatasan Sosial Berskala Besar paling sedikit meliputi: peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan dan pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum. Kebijakan tersebut menjadi kegelisahan tersendiri bagi santri dan pondok pesantren karena notabennya seluruh kegiatan santri dilakukan secara bersama-sama. Secara garis besar hal ini memicu munculnya dampak internal dan eksternal. Dampak internal seperti halnya penurunan imun yang disebabkan karena tingginya tingkat kecemasan dan stress santri. Adapun dampak eksternal seperti keberlangsungan kegiatan transformasi ilmu yang secara ideal dilakukan dengan tatap muka (muwajahah) harus beralih dengan cara daring/online. Kebijakan diatas tidak hanya berdampak pada kebaharuan sistem melainkan juga berdampak pada mental santri.

Menanggapi kebijakan pemerintah diatas, beberapa Pondok pesantren dengan otonominya menetapkan bahwa keberlangsungan transformasi ilmu sebaiknya berjalan seperti sedia kala dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Oleh karena itu, kemampuan resiliensi sangat dibutuhkan guna menjaga mental santri dan keberlangsungan kegiatan di pondok pesantren. Istilah resiliensi diformulasikan pertama kali oleh Block dengan nama ego resilience, yang diartikan sebagai kemampuan umum yang melibatkan kemampuan penyesuaian diri yang tinggi dan luwes saat dihadapkan pada tekanan internal maupun eksternal. Resiliensi adalah kemampuan individu untuk merespon secara positif terhadap situasi merugikan yang mereka hadapi, memungkinkan individu untuk mencapai, mempertahankan, atau memulihkan kesehatan fisik atau emosional setelah mendapatkan penyakit, kerugian, atau situasi stress lainnya. (Rahmanisa dkk., 2021)

Adapun upaya yang dapat mencegah dampak internal dan eksternal yang ditimbulkan dari munculnya pandemi (COVID-19) sebagai berikut:

Dampak internal yang bersumber dari diri santri dapat dikondisikan dengan tujuh aspek yang menjadi pembentuk resiliensi individu (Reivich & Shatté, 2002), yaitu:

  1. Regulasi emosi, keadaan seseorang dengan tetap tenang dan fokus saat menghadapi masalah. Dalam kondisi ini, santri harus mempunyai mindset positif sehingga apapun kegiatan yang dilakukan akan menyenangkan dan menjadi santri produktif.
  2. Pengendalian impuls, merupakan kemampuan individu dalam mengendalikan dorongan, keinginan dan tekanan yang muncul dari dalam diri individu itu sendiri. Hal ini merupakan pendidik bagi santri untuk menjadi pribadi yang qonaah, sabar dan tangguh.
  3. Optimis, merupakan  keyakinan individu yang percaya bahwa dirinya dapat menangani masalahnya serta menyakini memiliki masa depan yang lebih baik dari kondisinya saat ini. Keyakinan ini harus ditanamkan dalam diri santri, karena sesungguhnya ibarat per; semakin kuat tekanannya maka semakin jauh lompatannya. Tekanan yang dihadapi saat ini akan menjadi bekal santri dalam menghadapi disrupsi digital.
  4. Empati, kemampuan individu untuk membaca tanda-tanda kondisi emosional dan psikologis orang lain. Seperti halnya pendidikan yang diberikan kepada santri yaitu sikap tasamuh menjadi sangat urgent karena interaksi antar santri yang baik akan melahirkan emosional yang baik pula.
  5. Kemampuan analisis  Dalam dunia pesantren seorang santri tidak hanya dibekali kecerdasan intelektual melainkan pula kecerdasan emosional. Adapun kecerdasan emosional adalah sikap tanggap santri dalam menangani sebuah masalah dengan cara mengidentifikasi penyebab dari masalah tersebut.
  6. Efikasi diri, keyakinan individu mampu   memecahkan   masalah   yang   dialami   dan   mencapai   Dalam diri santri ditanamkan keyakinan terhadap QS. al-Insyirah: 5  “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”, dengan meyakini konsep tersebut santri mampu memecahkan masalah untuk mencapai sebuah kesuksesan.
  7. Peningkatan aspek  positif,  santri mampu mengambil hikmah dibalik permasalahan yang dihadapi. Selain itu santri dapat mengoptimalkannya dengan cara mengikuti kegiatan-kegiatan positif di media sosial seperti seminar dan workshop online, perlombaan creative content, lomba karya tulis, dsb.

Terkait dengan dampak eksternal yang telah diuraikan diatas, hal itu berkaitan dengan otonomi pesantren yang tetap memberlangsungkan proses transformasi ilmu di dalam pesantren. Adapun upaya yang dapat dilakukan pesantren untuk menanggulangi kemungkinan terjadinya dampak negative sebagai berikut:

  1. Memberikan vitamin kepada seluruh santri guna menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh santri.
  2. Menyelenggarakan olahraga untuk kebugaran jasmani.
  3. Doa bersama dengan tetap menjaga protokol kesehatan.
  4. Memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga diri di tengah pandemi.
  5. Memberikan hiburan supaya santri tidak stress.
  6. Menyediakan ruang isolasi jika ada santri yang dinyatakan positif covid.

Dari uraian diatas, upaya untuk menanggulangi dampak internal dan eksternal harus seimbang dan saling mendukung satu sama lain. Keseimbangan keduanya menjadi penentu keberhasilan kebijakan yang telah ditetapkan. Santri dan pondok pesantren dapat mengambil hikmah dari adanya pandemi ini untuk selalu survive terhadap perubahan ditengah disrupsi digital.

 

Penulis: Nikmatul Hidayah (Gedung Putih)

 *tulisan ini meraih 5 besar terbaik dalam Lomba Kepenulisan Artikel Harlah 110 al-Munawwir 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *