Soundscape Pesantren: Dari Al-Muqtashidah Sampai Santri Njoso

by Maret 9, 2022
durasi baca: 4 menit

Almunawwir.com – Selain Suara Giri FM, generasi saya jamak mengenal lagu-lagu bernuansa Arab dan Islami awal dari kaset dan CD orang tua yang diputar di rumah saban pagi dan mungkin sore hari.

Di rumah orang tua, alat pemutar kaset itu adalah tape recorder usang yang ketika ditekan tombol play harus diberi ganjel sobekan kertas agar tombol tetap berada di posisi yang benar dan musik tetap berjalan. Meski ukurannya tidak sebesar tv pada zaman itu, para orang tua pede saja mengeraskan volume suara tape usang itu sampai terdengar ke tetangga sebelah. “hamawi ya mismis, baladi ya mismis”.. damai.

Kala pagi, nyala tape itu sudah berfungsi selaksa alarm. Bersamaan dengan nyalanya, anak-anak yang merasa terusik dengan atmosfer suara itu pun terperanjat, bangun dengan rasa sebal, menyegerakan mandi dengan rasa sebal, sarapan dan sampai kita sudah siap-siap berangkat sekolah dengan rasa sebal, tape itu masih berputar. “qod anshohaa li abii.. wa robbatbi husnihaa.. ummii wa arsyadanii.. ustadz wa mu’allimi ….”

Tapi lambat-laun, playlist tersebut memiliki daya magis yang, menyuguhkan nuansa ‘merabah diri sendiri’ atas banyak peristiwa berulang yang dijalani oleh seorang penuntut dan pengabdi ilmu. Hal ini misalnya dilakukan oleh Al-Muqtashidah Langitan, tembang Ustadzi, Qod Anshoha, Al-Aqlu, Do’aut Thalabah, Antum Muradi, Ya Ma’hadi merupakan secuil lagu yang lekat dengan semangat pengabdi ilmu.

Berbicara mengenai Al-Muqtashidah, Ridwan Ashfi merupakan vokalis yang pertama kali mengantarkanku gemar mendengarkan shalawat dari Al-Muqtashidah. Santri kelahiran Baureno, Bojonegoro itu memiliki suara yang renyah, empuk dan betah dengan nada tinggi. Menurut penuturan Mas Kalampayan Ridwan memulai karir shalawatnya dari kecil, melalui dua grup shalawat di kampungnya, al-Amin dan az-Zahiha. Baru ketika menginjak usia 13 dia mondok di Langitan.

Di sana Ridwan menemukan sosok yang menjadi inspirasinya dalam menggemari shalawat, yaitu KH Abdullah Faqih Langitan, meski, Ridwan menyebut jika “Mbah Yai berbeda, Mbah Yai bershalawat dengan hal”. Di sisi lain, Ridwan mengamini dawuh dari KH Abdul Hadi “طرفا طرفا العلم خذ”, ambillah ilmu sebagian, sebagian. Maqalah ini kerap dipakai untuk memberikan nasehat terkait manusia memiliki tugas dan tanggung jawab dan kewajibannya masing-masing.

Dari sini, kita bisa menilai kesuksesan Al-Muqtashidah sebagai grup shalawat pesantren tidak lepas dari dukungan pengasuhnya. Lahir dari rahim pesantren salaf, Al-Muqtashidah tidak membatasi diri dalam peran syiar Islam mereka di luar pesantren, eksternalisasi. Mereka yang sebelumnya hanya menjadi penggembira di kegiatan pesantren dan masyarakat sekitar, pada medio 2000-an sudah menjamah industri musik Islam nasional, melanjutkan tongkat estafet yang dilakukan oleh Rofiqoh Darto Wahab di tahun 1970-an dan Nasida Ria di tahun 1980-an.

Sementara itu, internalisasi yang dilakukan oleh Al-Muqtashidah dan beberapa grup pesantren lainnya adalah keterpengaruhan mereka terhadap geliat soundscape Islam di Timur Tengah (east middle type/Islamic type), yang digawangi oleh Ummi Kulthum, Nuruddin Amin hingga generasi Syaikh Mishary Rasheed dan Moshtafa Ateef.

Tape itu dibiarkan hidup, didengarkan sambil lalu, sembari orang tua menyentuh segala kebutuhan rumah yang lain. Seperti memasak, menyapu bagi seorang ibu atau sekedar menjadi teman ngopi di pagi hari sambil baca koran di teras rumah bagi seorang bapak. Demikian normalisasi pada saat itu. Suara tape itu lebih baik didengar daripada suara mesin gerenda memotong keramik di setiap pagi.

Lagu-lagu Islami yang menjadi pengantar masa dewasa teman sejawat saya yang lahir di akhir tahun 90-an itu antara lain dilagukan oleh Ummi Kulthum, Rofiqoh Darto Wahab, Ida Laila, Nasida Ria, Rhoma Irama, al-Muqtashidah (Langitan), Bimbo, Koes Plus, Opick, Jefry Al Buchori dan seterusnya. Mereka adalah living legend soundscape musik Islami di Indonesia.

Pengakuan Baru

Di era 2000-an, tren kaset dan CD sudah menjadi ukuran musik modern, selain alat musik, repertoar dan gaya busana. Anak-anak muda zaman itu yang menggandrungi musik meremajakan diri dengan membeli Walkman alias jenis tape recorder yang bisa dijinjing ke mana-mana, dipakai sambil jogging, nongkrong di warung dan sekedar memutar musik pengantar tidur.

Tapi ada bentuk tradisional dari rekognisi modernitas lagu-lagu Islami. Jika makna modernitas adalah sebuah kelayakan yang diamini oleh massa, maka lagu-lagu Islami di pedesaan sudah dianggap modern ketika ia diputar kala ada hajatan-hajatan yang diselenggarakan oleh masyarakat di pedesaan, seperti hajatan nikah, sunatan, kenduren, sedekah bumi dan lain sebagainya. Ukuran modern tidaknya sebuah lagu, otoritasnya kemudian diakuisisi oleh bapak-bapak tukang sound.

Al-Muqtashidah sebuah grup kasidah modern yang dimiliki oleh Pesantren Langitan, Tuban merupakan salah satu wajah musik Islami yang masyhur karena tembangnya juga diakuisisi sebagai musik populer Islam oleh tukang sound. Sependek pengamatan saya, setiap tukang sound di pedesaan, hampir bisa dipastikan memiliki salah satu volume dari beberapa album al-Muqtashidah.

Era musik digital tiba. Ia menjadi atmosfer peredaran musik dari seluruh dunia. Sayangnya, Al-Muqtashidah bergeming di area tersebut. Meski begitu, geliat dakwah pesantren di musik digital tidak hilang dalam peredaran begitu saja. Dalam fase ini, muncul Santri Njoso, Pesantren Darul Ulum, Peterongan Jombang, sebuah pesantren modern yang lebih dikenal sebagai pesantren kelompok kelas menengah.

Tidak jauh api dari panggang, perjalanan Santri Njoso hampir mirip dengan perjalanan al-Muqtashidah. Santri Njoso mulanya adalah sekumpulan santri yang mencintai shalawat, berpentas di lingkungan pesantren dan sering mengikuti festival shalawat. Grup yang kebanyakan diisi oleh personil dari generasi milenial itu lantas bermetamorfosis dengan mengamplifikasi bakat dan keahlian tersebut ke dalam musik digital, dari tangan mereka lahirlah shalawat akustik (shakustik). Santri Njoso, banyak memproduksi cover shalawat yang mengakomodasi irama musik populer (Western Type) berupa acoustic cover yang mulai ngetren saat dibawakan oleh Boyce Aveneu.

Modal perkawinan antara aransemen Islam klasik dengan budaya populer ini, Santri Njoso berhasil meraup hampir satu juta subscriber di Youtube dengan 124,400,194 jumlah penonton secara kumulatif. Shalawat yang paling banyak didengarkan adalah Huwannur dengan 24 juta viewer. Menariknya, beberapa aransemen lagu Santri Njoso rata-rata diambil dari aransmen al-Muqtashidah, dengan begitu Santri Njoso seperti menghidupkan kembali al-Muqtashidah dengan corak dan wajah baru.

Subkultur musik pesantren dengan wajah baru kemudian diperkenalkan oleh Santri Njoso melalui cover shalawat akustik. Bagi Sulthon Falakhudin, vokalis utama Santri Njoso, dia menyebut alasan utama memilih cover shalawat akustik karena minat dan saran dari  pendengar, “Terutama jenis akustik yang bernuansa mellow. Tidak bisa dipungkiri bahwa nuansa dari musik akustik (dalam hal ini petikan gitar) adalah kalem, lembut dan kalau dibawakan dengan ketulusan akan bisa menyentuh hati para pendengarnya.”

Sahih, aktivitas dakwah dalam subkultur musik digital merupakan fenomena baru dalam mode dakwah pesantren. Sebelumnya, penyebaran dakwah digital pesantren masif diinisiasi oleh figur kiai, ustaz, karya tulis dan beberapa musik-musik dengan aransemen Islam klasik yang bergandengan tangan dengan budaya populer. Kini, baik Al-Muqtashidah maupun Santri Njoso merupakan representasi dari santri-pop yang merekognisi medium musik sebagai jalan dalam menyiarkan agama Islam di ruang publik populer.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.