Sisi Romantisme Kiai Zainal Abidin Munawwir

by Desember 12, 2019
durasi baca: 3 menit

Almunawwir.com – Setiap insan yang berjodoh tidak luput dari kuasa-Nya. Terdapat kisah unik di balik pernikahan KH. Zainal Abidin Munawwir dengan Ny. Hj. Ida Fatimah ZA. Ketika KH. Zainal Abidin berusia 50 tahun (dan belum menikah), beliau dijodohkan dengan Ny. Hj. Ida Fatimah, putri KH. Abdurrahman dari Bangil, Jawa Timur.

Alasan beliau menikah di usia yang terbilang sudah berumur yakni karena beliau khawatir bila kepatuhan terhadap ibundanya berkurang jika menikah di usia muda. Begitu juga alasan Ny. Ida Fatimah ketika menikah sudah berusia 30 tahun yaitu karena kepatuhan beliau pada kedua orang tuanya dan gurunya, Ibu Nyai Mufid Pandanaran.

Berawal dari acara khataman al-Qur’an yang diadakan Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Sleman, waktu pertama kali keduanya bertemu. Ny. Hj. Ida Fatimah merupakan santri di pondok pesantren tersebut. Sebelumnya KH. Mufid memang sudah ngendikan (mengatakan) pada Ibu Nyai Ida jika akan menjodohkan santrinya tersebut dengan adiknya, KH. Zainal Abidin.

Pertemuan kali itu hanyalah sebatas menunjukkan inilah KH. Zainal Abidin yang akan dijodohkan itu, tanpa ada perkenalan dan percakapan yang mendalam antara keduanya. Di balik itu, segala hal ihwal tentang perjodohan antara keduanya telah diatur oleh KH. Mufid dan KH. Ali Maksum berserta istri masing-masing.

Akad nikah K.H. Zainal Abidin dan Ny. Hj. Ida Fatimah berlangsung di kediaman calon istri, Bangil, Jawa Timur. Acara tersebut bertepatan dengan pertemuman para kiai di Jawa Timur. Ketika semua sudah berkumpul, para kiai tersebut kaget dan terheran-heran karena tidak tahu bahwa dalam pertemuan tersebut juga diselenggarakan akad nikah putri tuan rumahnya, KH. Abdurrahman.

Pernikahan yang sederhana itu penuh haru dan bahagia juga sarat dengan do’a para masyayikh, begitu juga ucapan KH. Mahrus untuk keduanya dengan penuh ketulusan, “Allah yang menghendaki, insyaallah Allah meridhai”.

Setelah menikah, terlihat bahwa KH. Zainal Abidin merupakan sosok suami yang bijak. Terbukti ketika beliau melarang Ibu Nyai Ida Fatimah, yang memang seorang aktivis organisasi ingin berhenti dari kesibukannya dan lebih mengabdikan diri sebagai istri.

Beliau sangat memahami kualitas diri dan potensi yang ada pada istrinya. Oleh karena itu, KH. Zainal Abidin meminta Ny. Hj. Ida Fatimah untuk tetap mengembangkan organisasinya disertai dakwah di masyarakat sekitar pondok. Dengan begitu, Ibu Nyai Ida tetap bisa berorganisasi tanpa melupakan kewajibannya sebagai istri seorang kiyai.

Selain terkenal sebagai ahli fikih yang alim, ternyata K.H. Zainal Abidin juga merupakan sosok yang romantis terhadap istrinya.

Ada suatu cerita ketika keduanya sedang menunaikan ibadah haji di Saudi Arabia, KH. Zainal selalu menyemangati sang istri agar memperbanyak amalan-amalan ibadah, menunaikan ibadah umroh, dan tidak membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting.

Ketika Ibu Nyai Ida terlihat kelelahan, KH. Zainal tidak segan untuk memijat-mijat Ibu agar tetap bersemangat melanjutkan ibadahnya. Suatu kali ketika keduanya melaksanakan thawaf, Kiai Zainal melihat istrinya diam saja seperti tak melafalkan apapun, padahal sebenarnya Ibu Nyai sedang berdo’a dengan khusyu’. Kiai Zainal kemudian bertanya dengan khawatir:
“Da, kamu kok diam saja, pusing to?”
“Mboten Yah, lha kan katanya kalau berdo’a harus yang khusyu’.” Jawab Ibu Nyai Ida dengan santai.
“Oalah, kamu sedang berdo’a to, tak kira kamu pusing kepala. Kan aku nggak mau kalau kamu sakit.”

Perhatian beliau kepada istrinya dari hal-hal kecil telah membuat hubungan dalam rumah tangga keduanya begitu harmonis. Apabila ditanya tentang tips keromantisan pasangan Ibu dan Bapak (cara santri memanggil keduanya), maka jawabannya adalah rasa saling percaya dan tidak curiga. “ Setiap kemanapun, bertemu siapapun, baik saya dan Bapak itu kami saling cerita.” Tutur Bu Nyai Ida.

Kiai Zainal adalah sosok yang sangat mencintai dan menghargai istrinya. Beliau selalu memberikan kepercayaan lebih pada sang istri dan beliaupun ingin juga untuk selalu dicintai dan dilayani oleh istrinya.

KH. Zainal Abidin selalu berusaha agar pahala sang istri tidak berkurang karena pengabdiannya pada suami. Tercermin dalam kehidupan sehari-hari beliau yang kesemuanya serba meminta dilayani sang istri, bahkan hingga putra-putrinya sempat cemburu. “Bapak itu apa-apa maunya ibu.”, tutur salah seorang putra-putrinya.

Begitulah sedikit dari banyak kisah romantis antara K.H. Zainal Abidin Munawwir dan Ny.Hj. Ida Fatimah ZA. Dua hamba yang dipertemukan dan digariskan berjodoh oleh Allah Swt. hingga memiliki tiga buah hati yang kelak meneruskan perjuangannya. Memaknai kehidupan dengan sederhanan nan bersahaja serta didasari ketulusan rasa cinta antara keduanya.

Penulis: Alma Naina Balqis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *