Santri Millenial: Oase di tengah “Sahara” Media Sosial

by November 4, 2017
durasi baca: 5 menit

Selain sebagai penghibur, meme santri millenial juga hadir sebagai oase di tengah gersangnya dominasi pemahaman keagamaan di medsos.


Oleh : Jamaluddin Jauhari*

Santri dan Humor : dua sisi mata uang

Ketika kata santri disebut, maka yang keluar dalam pikiran kita adalah, manutan/nderek, tawadu’ , ngaji, serba bisa, cangkruan, baca kitab dan guyonan. Dari sekian banyak kata yang muncul di atas, mungkin dua kata terakhir yang kemudian sangat lekat dengan istilah santri, yaitu baca kitab dan guyonan, karena keduanya selalu menyertai kehidupan santri dalam rutinitasnya sehari-hari di pesantren. Di mana pun santri berada, mereka sebisa mungkin nyangkruk dengan guyonan yang memantik tawa yang riuh sebagai hiburan di tengah penatnya pelajaran kitab kuning di madrasah diniyyah.

Guyonan santri bukan sekedar guyonan. Jika dipikir seksama, guyonan/humor santri memiliki muatan nilai yang luhur, karena ia merupakan hasil kontemplasi yang mendalam dari hasil pengajiannya yang kemudian dibingkai dalam sentilan humor yang segar. Sehingga wajar jika kemudian humor ini digunakan untuk menyindir, menyangkal, bahkan menyerang lawan bicaranya. Tetapi karena ia dibungkus dalam rangkain humor yang segar, sehingga ia tidak secara langsung menyinggung lawannya, karena di saat bersamaan si lawan bicara juga ikut terhibur dan tertawa sekalipun di akhir obrolan ia akan tersenyum kecut. Namun ia tetap menikmati suasana dan tetap rukun dan srawung tanpa ada rasa canggung. Di situlah hebatnya santri, mengajak dengan merangkul, dan menegur dengan ramah penuh senyum.

Mengingat tingginya intensitas humor dalam kehidupan santri, sehingga wajar jika keduanya bak dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan. Citra dan kultur ini lah yang kemudian dibawa oleh santri dalam setiap masanya. Begitu juga bagi santri sekarang yang merupakan generasi millenial. Generasi millenial sendiri menurut Pew Research Centre-sebagaimana dikutip Hasanuddin Ali- dicirikan dengan gaya hidup yang lebih dominan dalam penggunaan internet. Secara otomatis terdapat media sosial juga di dalamnya. Santri milenial inilah yang kemudian mewarnai media sosial dengan joke dan humor segaranya khas seorang santri.

Pegonisasi meme sebagai  panggung kreasi santri millenial

Santri millenial hadir di tengah-tengah berjubelnya arus informasi di media sosial. Ia datang dengan menghadirkan citra dirinya yang penuh canda tawa (guyonan), namun tak lepas dari kultur kesantri-annya yang melekat, yakni kitab kuning dan pegon. Hadirnya bentuk meme yang berhuruf arab dan pegon tentunya menjadi penghibur di tengah-tengah derasnya arus informasi yang membingungkan dan tak jelas muara kebenarannya. Berikut adalah meme khas santri millenial

Meme pertama berarti: Lan ojo podo fesbukan sopo siro kabeh, ing dalem saben-saben piro-piro waktu iro kabeh. ( Dan janganlah engakau habiskan waktumu dengan fesbukan).

Dalam meme pertama ini, santri miilenial menggunakan wazan (فسبق-يفسبق\ فعلل-يفعلل) untuk memfiilkan (mengkata kerjakan) kata facebook.

Meme kedua tak kalah serunya, dengan lihainya sang santri memposisikan WA itu lebih baik dari fesbuk. Yang termuat dalam kata-kata: (Bab tentang WA. Wajib atas kalian untuk menggunakan WA, karena WA lebih baik daripada Facebook)

Dengan kreatifitas yang dimiliki, serta  didukung dengan kemampuan gramatikal bahasa arab yang memadai (maharah nahw wa al-shrarf) santri mampu mengkreasikannya dengan apik. Sehingga menghasilkan untaian kata seperti di atas. Dan sekaliagus memberi warna baru dalam tampilan yang ada di medsos kita.

Pegonisasi meme sebagai benteng kultur keagamaan tradisionalis

Selain sebagai penghibur, meme santri millenial juga melangkah lebih jauh lagi. Ia hadir sebagai oase di tengah gersangnya dominasi pemahaman keagamaan di medsos yang tapal kuda (tekstualis-konservatif), menang sendiri (truth claim) dan cenderung menghakimi salah bagi yang tak sepaham dengannya.  Selain sebagai oase, ia juga hadir sebagai benteng pemahaman keagamaan “tradisionalis” yang akhir-akhir ini semakin gencar dicecar dan diserang oleh arus keagamaan konservatif di medsos. Sebagai contoh mengenai meme rokok berikut.

“ni’matul udud ba’dad dahar”

(kenikmatan rokok itu setelah makan)

Bentuk syiir: “wa ba’da an ta’kula wa anta roqoan# bi magnumin ma’ qohwatin qod ni’matin”

(setelah makan, engkau meghisap rokok # magnum (merk rokok) beserta kopi, sungguh sebuah kenikmatan tiada tara)

Kalau kita perhatikan, meme di atas merupakan perpaduan antara kata-kata  bahasa arab asli dengan kata-kata bahasa lokal yang diarabkan. Kombinasi ini menciptakan rangakai ibaroh yang menggelitik namun makna.

Lebih lanjut, meme di atas datang sebagai counter bagi kencangnya arus pemikiran tekstualis-konservatif di media sosial yang menjudge rokok dengan satu kata, HARAM. Mereka dalam menghukum perkara ada dua pilihan HALAL dan HARAM. Sedangkan bagi kalangan tradisionalis (termasuk santri) hukum rokok itu dilihat dulu antara mudhorot dan mafaatnya. Sehingga ia tak muthlak haram, namun bisa mubah (boleh), makruh dan haram, yang disesuaikan bagi personalnya masing-masing. Jika ia menjadi penyemangat belajar, bahkan konsentrasi belajar tak bisa digapai kalau tak ngerokok, maka boleh hukumnya. Dan sebaliknya, jika dengan ngerokok jadi ndak belajar, karena sakit-sakitan ya haram hukumnya.

Selain kasus rokok, kasus yang tak kalah sensitifnya adalah soal NIKAH. Berikut meme santri tentang nikah

Kalimat pertama dibaca: al-nikahu sunnaty (nikah itu sunnahku (Rosul)). Sedangkan kalimat kedua bukan maksud menyebutnya sebagai sebuah hadits, ia dipelesetkan menjadi: al-nikahu santai (dengan sin dan ta’ nya dibaca fathah, dan dibaca nun dan ya’ nya dibaca sukun) yang artinya: Nikah itu santai.

Meme ini hadir di tengah maraknya nikah muda media sosial. Bahkan ada kecenderungan beberapa kalangan yang mempropagandakan nikah muda. Kemudian mereka melontarkan ungkapan ini dalam beberapa kesempatan.

Nah, padahal bagi santri nikah itu hal yang santai, dalam artian ia memiliki waktunya sendiri. Kewajiban utama ia saat ini (saat mesantren) adalah belajar. Ketika masa belajar sedang berlangsung, maka ia dituntut untuk fokus pada niatan. Tak usah terburu-buru untuk memikirkan menikah sebelum waktunya, karena akan mengganggu konsentrasi belajar. Bukankah Imam Khatib al-Baghdadi berkata dalam kitabnya al-Jami’ li adab al-rawi wa al-sami’

يُسْتَحَبُّ لِلطَّالِبِ أَنْ يَكُونَ عَزَبًا مَا أَمْكَنَهُ ، لِئَلَّا يَقْطَعَهُ الِاشْتِغَالُ بِحُقُوقِ الزَّوْجَةِ ، وَالِاهْتِمَامِ بِالْمَعِيشَةِ ، عَنْ إكْمَالِ طَلَبِ الْعِلْمِ

Hendaklah bagi penuntut ilmu untuk tetap menjomblo (tak beristri) sebisa mungkin, karena jika tidak, maka ia akan tersibukkan oleh pemenuhan hak-hak istrinya dan perhatian terhadap ma’isyah, sehingga akan jauh dari kesempurnaan dari ilmu yang dicarinya.

penutup

Melihat fenomena di atas, kemunculan santri millenial dengan kreatifitas memenya yang khas, merupakan pergumulan antara nilai-nilai kesantrian yang dikombinasikan dengan nilai-nilai kekinian ( baca: medsos). Hal ini terjadi karena sejatinya santri tidak bisa memungkiri hal itu. Dan yang bisa dilakukan adalah bagaimana menggunakannya dengan bijak, syukur-syukur bisa menjadi ladang kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut santri akan selalu mewarnai dalam setiap roda kehidupan. Tentunya ia bisa menyesuaikan dengan kondisi dan konteks kehidupan yang berkembang pada masanya. Karena ia merupakan entitas yang selalu diajarkan oleh para kyainya untuk mempertahankan kultur yang baik dan mengadopsi hal-hal baru yang lebih baik sebagaimana tersimpul dalam adagium: al-Muhafadhatu alal qodimis sholih, wal akhdu bil jadidil ashlah.

*) Santri Nurussalam Krapyak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.