Santri dan Pandemi ; Refleksi Menuju Kesalehan Sosial dan Spiritual

by November 6, 2021
durasi baca: 3 menit

Coronavirus disease – 2019 atau yang kerap disebut Covid-19 telah mengguncangkan dunia. Hingga kini sudah hampir dua tahun lamanya virus tersebut menyerang tubuh manusia di hampir seluruh penjuru dunia. Di negara kita sendiri, total kasus Covid-19 saat ini tercatat mencapai 4. 238. 594, terhitung sejak kasus pertama yang diumumkan pada 2 Maret 2020 lalu oleh Presiden Joko Widodo.

Tak bisa dipungkiri, pandemi Covid-19 telah berdampak sangat besar di berbagai lini kehidupan. Salah satunya yaitu yang menimpa kaum santri di pondok pesantren. Tradisinya, proses pembelajaran di pesantren berlangsung dengan bermuwajjahah atau bertatap muka, namun untuk mencegah merebaknya virus Covid19, beberapa pesantren harus memulangkan santrinya dan terpaksa harus melakukan proses pembelajaran jarak jauh.

Segala keterbatasan yang diakibatkan oleh pandemi menjadikan peran teknologi semakin penting. Komponen-komponen dalam pesantren seperti adanya kiai, santri, pengajaran kitab, masjid, dan juga pondok pesantren itu sendiri harus dipisahkan dan berusaha disatukan kembali melalui bantuan teknologi. Perubahan sistem seperti itu bukanlah suatu hal yang mudah bagi santri. Para santri terdorong untuk harus menguasai teknologi sebagai bentuk usaha supaya proses pembelajaran jarak jauh berlangsung dengan baik. Perlu disyukuri bahwa saat ini sudah tersedia beberapa aplikasi yang menunjang untuk memudahkan proses pembelajaran sehingga proses pembelajaran dapat dilakukan dalam kondisi apapun dan dimanapun.

Selain pembelajaran jarak jauh, ada beberapa pesantren yang masih dan sudah menerapkan proses pembelajaran tatap muka. Protokol kesehatan seperti mengenakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak tidak boleh diabaikan. Menaati protokol kesehatan merupakan salah satu bentuk ikhtiar yang harus dilakukan untuk menghindari semakin mewabahnya virus Covid-19.

Wajar jika di lingkungan pesantren masih banyak yang kesulitan beradaptasi di kondisi pandemi karena memang dampak pandemi Covid-19 merubah banyak tradisi yang telah lama melekat di lingkungan pesantren. Santri harus saling memotivasi satu sama lain agar terciptanya lingkungan yang positif. Selain itu, pentingnya keseimbangan antara iman dan imun juga harus ditingkatkan. Ikhtiar harus dilakukan dengan sungguhsungguh, dan juga bertawakkal kepada Allah agar terhindar dari virus Covid-19.

Terdapat fikrah-fikrah atau pola pikir yang dapat diterapkan santri dalam menyikapi berbagai tantangan zaman, termasuk dalam menyikapi pandemi Covid-19. Di antaranya yaitu fikrah tawassuthiyah, fikrah tasamuhiyah, fikrah islahiyah, fikrah manhajiyah, dan fikrah tathawwuriyah. Fikrah tawasuthiyah atau pola pikir moderat harus tertanam dalam diri seorang santri. Di antara sikap moderat yang dapat diterapkan di masa pandemi Covid-19 seperti selalu mematuhi protokol kesehatan dan tidak menganggap remeh virus Covid-19, tidak bersikap abai terhadap kondisi sekitar yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain, dan senantiasa mengulurkan tangan kepada siapapun yang membutuhkan bantuan tanpa memandang ras, suku, budaya, status sosial, dan juga agama.

Merajut kebersamaan, kepercayaan, dan saling menghargai merupakan inti dari fikrah tasamuhiyah atau pola pikir toleransi. Dalam hal ini tentunya santri sudah menerapkannya sejak lama karena nilai-nilai toleransi sudah tertanam dalam jiwa para santri. Di pesantren santri diajarkan untuk hidup saling menghargai dan menjunjung tinggi rasa kemanusiaan Sehingga di masa pandemi ini diharapkan para santri dapat menjadi figur yang mampu mengeratkan rasa toleransi di tengah-tengah banyaknya perbedaan antar manusia.

Selain menghadirkan sikap moderat dan toleransi dalam jiwa santri itu sendiri, santri juga perlu menumbuhkan kedua sikap tersebut kepada masyarakat pada umumnya.  Pola pikir seperti itu disebut dengan fikrah islahiyah atau pola pikir reformatif. Santri harus menjadi agent of change yang mampu mengubah dan meluruskan persepsi keliru masyarakat terhadap Covid-19 juga memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya menjaga diri dan lingkungan agar tidak tertular virus Covid-19.

Fikrah manhajiyah atau pola pikir metodologis merupakan term pokok yang harus dimiliki oleh para santri. Dalam membentuk kerangka berpikir, santri harus mengacu pada landasan-landasan yang telah ditetapkan oleh para ulama. Seperti halnya dalam praktik-praktik keagamaan yang mengalami perubahan dikarenakan pandemi

Covid-19. Proses pemulasaran jenazah, pelaksanaan salat jum’ah, dan berbagai kegiatan yang sebelumnya dilakukan secara berjama’ah harus dilakukan sesuai dengan prosedur fikih pandemi yang tentunya berbeda dengan praktik-praktik sebelumnya. Dalam mengambil langkah-langkah praktik keagamaan atau peribadatan, santri harus tetap mengikuti ijtihad ulama dan tidak asal menyimpulkan dan menerapkan sesuai kehendak sendiri.

Selain menerapkan fikrah manhajiyyah, santri juga tidak boleh melupakan adanya fikrah tathawwuriyah atau pola pikir dinamis. Santri harus menjadi sosok yang bijaksana, yaitu sosok yang dapat memahami masanya. Santri hendaknya mampu menerapkan pola pikir dinamis dengan cara melakukan kontekstualisasi dalam mengambil solusi dan memprioritaskan keselamatan jiwa.

Fikrah-fikrah di atas diharapkan dapat membantu santri dalam proses beradaptasi di situasi pandemi. Di samping itu, fikrah-fikrah tersebut juga mengenalkan jati diri islam sebagai agama yang solutif, humanis, dan toleran.

 

Penulis : Husna Nailufar (Komplek Q)

*tulisan ini meraih 5 besar terbaik dalam Lomba Kepenulisan Artikel Harlah 110 al-Munawwir 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *