Santri dan Literatur Keislaman Era Digital

by Maret 23, 2022
durasi baca: 4 menit

Era digital dengan kemudahan akses tanpa sekat ruang dan waktu menjadi sebuah keniscayaan. Kondisi berbasis internet ini dengan santernya menyasar seluruh elemen masyarakat. Akses informasi dapat dikonsumsi dalam hitungan menit bahkan detik hanya dengan sebuah genggaman gawai yang tersambung internet.

Digitalisasi telah membawa banyak keuntungan bagi kalangan melek teknologi, terutama kaitanya dengan akses informasi. Di sisi lain, kerugian (mudharat) atas akses informasi serba mudah tersebut sangat membahayakan dan semakin memprihatinkan. Bagaimana tidak, kondisi demikian telah mengubah pola pikir masyarakat dengan pola hidup instan, serba cepat dan sedikit melakukan kritik kebenaran atas sebuah narasi. Jika terus dibiarkan, kekacauan stabilitas di masyarakat bisa jadi tidak terelakkan.

Lalu siapa yang harus bertanggung jawab menjaga stabilitas kondisi ini? Tentu kita tidak bisa menunjuk seorang atau sekelompok tertentu. Semua lapisan masyarakat memiliki kewajiban andil di dalamnya, tak terkecuali santri di pondok pesantren.

Santri yang sering diidentikan sebagai kaum sarungan, tradisional, jauh dari modernitas, bisa apa? Mari kita lihat dari sejarah eksistensi pesantren merawat negeri ini. Amin Haedari dalam bukunya Masa Depan Pesantren dalam Tantangan Modernitas dan Tantangan Komplesitas Global, menyebut bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional harus diakui bahwa dalam babakan sejarah bangsa tidak lepas dari peran kontribusinya dalam mengelola warisan tradisi salaf dan budaya lokal.

Ditambah lagi, dengan independensi yang tinggi, pesantren mampu menjadi kekuatan alternatif, sekaligus sebagai counter-culture terhadap budaya hegemonik yang mengancam eksistensi budaya dan tradisi masyarakat Indonesia.

Misalnya Abdul Mun’im DZ, dalam buku Piagam Perjuangan Kebangsaan, menukil peristiwa sejarah terkait keterlibatan para kiai dan santri dalam mewujudkan kemerdekaan bangsa. Peristiwa Resolusi Jihad yang digaungkan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, Tebuireng adalah satu diantara keterlibatan pesantren untuk tetap eksis mengusahakan stabilitas bangsa sekaligus bukti Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Setelah melihat satu cuplikan sejarah terkait keterlibatan santri pesantren di masa lalu, perlunya kita bertanya kembali apa dan bagaimana peran santri masa kini dengan modal budayanya sebagai santri, tentu dalam kontekstualitas zaman yang berbeda.

Seperti pembahasan awal terkait literasi digital, santri dengan modalitas budayanya seharusnya mampu menempatkan diri dalam berkontestasi mengisi ruang-ruang digital. Hal ini telah menjadi salah satu perhatian lebih bagi kehidupan pesantren masa kini.

Ia harus mengambil peran dalam counter narasi ekstrem di berbagai aspek, menjadi cerminan sikap luwes dan moderat dalam beragama, sekaligus membawa Islam rahmatan lil ‘alamin sesuai konteks zaman. Lebih dari itu, santri sebagai perwujudan identitas Islam damai yang selalu mengenalkan khazanah keilmuan pesantren sebagai sumber rujukan keislaman.

Tingginya antusias masyarakat dalam mengakses sumber rujukan keislaman sebagai acuan beragama seringkali dijadikan sebagai ajang memecah belah persatuan dan keharmonisan dengan berkedok atas nama agama (politisasi agama). Masyarakat yang notabene masih awam beragama, terbawa arus kelompok ekstremisme.

Pengalaman Beragama (Religious Expereince) Sebagai Modal Budaya Pesantren 

Modal budaya yang dimiliki oleh pesantren merupakan hasil dari proses panjang yang berkesinambungan serta terus dinamis mengikuti zaman dengan tetap mempertahankan ruhnya sebagai warisan tradisi salaf. Pada bagian ini, akan dibahas beberapa poin penting berkaitan dengan modal budaya pesantren.

Menurut Zamakhsyari Dhofier, keberadaan pesantren di tanah air dalam sejarah tidak hanya mengemban misi dakwah dan pendidikan, namun mampu hadir di tengah-tengah masyarakat sebagai solusi berbagai persoalan umat. Keberadaan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam merupakan warisan keagamaan bangsa yang terus berkembang.

Tujuan pendidikan tidak semata-mata untuk memperkaya pikiran murid dengan penjelasan-penjelasan, tetapi untuk meningkatkan moral melatih dan mempertinggi semangat, menghargai nilai-nilai religius dan kemanusiaan, mengajarkan sikap jujur dan bermoral, serta menyiapkan santri mengenai etika-etika agama di atas etika yang lain.

Di Pesantren Krapyak, Yogyakarta semasa asuhan KH. Ali Maksum, menjadi salah satu bukti adanya pendidikan pesantren yang mendorong para santrinya untuk mengembangkan kapasitas dan kompetensi pengetahuan baik agama maupun umum secara autodidak. Hal ini seperti ditulis dalam bukunya Munawwir AF seorang santri KH. Ali Maksum, bahwasanya para santri Krapyak dipersilahkan untuk membaca kitab di perpustakaan pribadinya, baik kitab kuning karya ulama salaf maupun kitab putih, karya cendekiawan masa kini.

Pendidikan pesantren sangat meletakkan kaidah dasar dalam pengembangan tradisi keilmuan pesantren. Lembaga pendidikan Islam yang disebut-sebut sebagai indigeneous Indonesia ini terus bergerak dan berkembang sesuai perkembangan zaman. Salah satu prinsip dasar atau kaidah yang melekat dalam pandangan pesantren ialah prinsip “al-muhafadhatu alal qadimi shalilh wal ahdzu bil jadidil ashlah” (memelihara, menjaga tradisi lama yang masih baik dan mengambil penemuan baru yang lebih baik). Atas dasar tersebut pendidikan pesantren tetap eksis sebagai lembaga pendidikan indigeneous Indonesia, yang terus bergerak luwes seiring dengan perkembangan zaman.

Santri sebagai pilar yang tidak terpisahkan dari lembaga pendidikan pesantren tersebut, tentu sangat dimungkinkan memiliki kemapanan pengalaman beragama (religious expereince) yang mumpuni baik atas gemblengan dari luar maupun elaborasi dan eksplorasi individu santri atas pengalaman beragama selama menempuh pendidikan.

Religious Expereince Santri 

Eksplorasi peran pesantren dengan modal budaya (cultural capital) khususnya kemapanan pengalaman beragama yang dimilikinya dalam membangun daya lenting keamanan diri, lingkungan masyarakat, dan masyarakat luas dari ancaman berdimensi ideologi di era digital ini seperti ideologi bertentangan dengan Pancasila, paham ekstermis oleh kelompok radikal dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa alternatif.

Pesantren seperti disebutkan dalam pembahasan awal, harus mampu menjadi bandingan (counter) atas narasi-narasi yang menyimpang dari esensi kebenaran. Pesantren dengan segala elemen dan modal budayanya (cultural capital) harus merespon berbagai informasi atau bahkan tuduhan menyesatkan yang mengancam eksistensi NKRI. Modal budaya harus mampu dikemas dalam wadah (platform digital) yang memungkinkan dapat diakses oleh jagat masyarakat dunia maya.

Dengan demikian narasi Islam rahmatan lil ‘alamin tetap terjaga dari ancaman paham gerakan ekstremis dan terorisme. Adaptasi terhadap kebiasaan di era serba teknologi tersebut menghasilkan suatu budaya digital pesantren (cultural digital).

Kita bisa mengambil contoh yakni kegiatan jurnalistik santri dalam mengabadikan berbagai momen kepesantrenan melalui kegiatan pengajian maupun berkaitan dengan pendidikan, merupakan modal yang tidak terkira jumlahnya. Modal tersebut sebagai sarana counter dengan menyebarkan Islam damai, santun, dan menghargai perbedaan (tasamuh). Counter narrative terhadap paham ekstrem tentu menjadi sebuah perhatian besar bagi santri.

Konten narasi yang ditawarkan santri harus memiliki pijakan yang jelas dan menawarkan sebuah solusi terhadap persoalan masyarakat. Counter narrative tersebut dapat dilakukan oleh santri dengan fokus pada pemurnian nilai-nilai persatuan dan perdamaian. Selain itu, santri dapat memfungsikan platform digital sebagai saluran dakwah, atau membahas suatu masalah yang berkaitan dengan isu kontemporer di masyarakat. Tentu setelah melalui kajian yang mendalam atas permasalahan tersebut yang didasarkan atas referensi yang sahih (bahtsul masail).

Pada akhirnya, setiap santri harus menyadari modalitas dalam dirinya. Menyadari kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, dan selalu bersikap peka terhadap berbagai persoalan. Dengan begitu, ia akan mengusahakan suatu solusi yang sangat dibutuhkan di masyarakat. Bukankah segala kebaikan itu muaranya ada pada kebermanfaatan?

 

Editor: Irfan Fauzi

Latest posts by Muhammad Ainun Naim (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.