Road to Hari Santri : “Santri dan Permasalahan Masa Kini”

by Oktober 11, 2017
durasi baca: 3 menit

Oleh : Hafidzoh*

Dua pekan lagi. Santri se-Indonesia akan menikmati euforia hari Santri. Sejenak menikmati euforia sembari mengenang perjuangan santri dan kyai dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan negeri. Tapi saya sarankan jangan terlalu menikmati kesenangan. Negara ini tidak dibangun dengan canda tawa saja. Nyawa dan darah sudah menjadi hal biasa ditemukan di sekitar. Bisa jadi tanah yang kita injak, kita duduki, dan kita tiduri sekarang adalah bekas para pendahulu kita yang mati-matian mengusir penjajah.

Memasuki era milenium (kata yang lagi ngehitz saat ini), meneruskan perjuangan memang bukan lagi melalui perang senjata. Tetapi perang dengan otak. kenapa saya menyebutkan jangan terlalu senang dengan euforia hari santri? Karena masih banyak hal yang belum terselesaikan dan menjadi PR kita bersama sebagai santri. Dari pendidikan, kemiskinan, kesehatan, dan satu lagi adalah masalah konflik antar kelompok baik antar agama maupun sesama Islam.

Krapyak adalah pesantren yang terletak di kota besar dan mayoritas santrinya nyambi kuliah di beberapa universitas. Jangan berkecil hati, karena begitu istimewanya kita, Yaa Mondok, Yaa Kuliah. Bila ditanya mana yang didahulukan, maka akan sulit ketemu jawabannya. Mau bilang mondok dulu, kadang malas ngaji, mau bilang kuliah dulu, ngerjain tugas juga malas. Oleh karena itu saya lebih suka menggunakan Yaa Mondok Yaa Kuliah, Yaa Kuliah Yaa Mondok.

Mondok itu penting. Agar kita tidak jadi generasi bermicin (pengen masak enak gak mau pakai rempah berkualitas, pakai micin sebungkus saja dianggap cukup ). Agar kita tidak menjadi generasi yang instan dalam memepelajari ilmu agama. Dengan mondok kita tahu rasanya jatuh bangun mencari bekal hidup dan wafat kelak.

Kuliah. Jangan berpikir kuliah itu tidak penting. Kuliah dengan ragam jurusannya memiliki manfaat masing-masing. Santri yang kuliah sambil mondok itu keren. Kenapa begitu? Di zaman now diversifikasi profesi santri sangat dibutuhkan. Untuk menghadapi arus globalisasi yang begitu pesat, santri berperan dalam membendung dan sebagai filter dalam masyarakat. Arus yang masuk dengan pesat membuat kita semakin haus akan hal-hal baru hingga lupa batasan. Menembus batas memang bagus, tapi bila keblabasan? Waallahu’alam. Santri harus think globaly act localy. Bertindak lokal dengan wawasan dunia.

Ragam permasalahan kita

Kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi adalah basic problem pada setiap negara. Sri Mulyani berkata kunci dari kemajuan suatu negara adalah membangun permasalahan dasar tersebut. Kenapa negara Afrika masih tertinggal dari negara Eropa? Karena permasalahan dasar mereka belum terselesaikan, meskipun Afrika adalah negara dengan sumber daya alam melimpah. Meminjam perkataan Anies Baswedan, sumber daya manusia lebih penting dari sumber daya alam melimpah. Mengapa demikian? Mari kita lihat bagiamana negara kita memiliki kekayaan alam yang melimpah tapi tidak bisa memberi makan seluruh penduduknya. Jepang dengan lahan pertanian sedikit memiliki angka kemiskinan yang lebih kecil. Istilahnya Cak Lontong : Mikir !!

Dalam Al Qur’an salah satu ayat yang menjelaskan permasalahan dasar tersebut ada pada surat Al Balad ayat 12-16 : “ Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? “ Ayat-ayat selanjutnya menjawab : “ yaitu melepaskan perbudakan, atau memberi makan pada hari terjadinya kelaparan, kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir…” kemudian Al Qur’an menyebut golongan-golongan seperti ini sebagai golongan orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar, dan berpesan untuk saling kasih sayang (Al Balad : 17).

Jadi kemiskinan maupun permasalahan ekonomi bukan lah permasalah yang memang mudah dituntaskan. Butuh ikhtiyar panjang untuk menyelesaikannya. Menjelang peringatan hari santri ini, setidaknya kita mengingat akan banyaknya pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan. Di mananpun berada kelak, santri harus lah mengabdi kepada masyarakat. Dalam pesantren, guru saya mengibaratkan santri dan kyai adalah hubungan antara listrik dan lampu. Listrik adalah ilmu yang dialirkan oleh kyai kepada lampu alias santri. Bila lampu itu terang maka lampu akan membawa kemanfaatan bagi banyak orang, tetapi apabila lampu itu padam, maka kegelapan akan menyebabkan banyak kerusakan. Bisa dibayangkan apabila bumi ini geap, akan memudahkan orang melakukan kejahatan. Apabila padam, orang akan saling bertabrakan. Sama seperti apabila satri itu tanpa ilmu apapun, maka kegelapan lah yang akan menyelimuti dirinya. Semoga kita bisa menjadi santri yang cerdas manfaat bukan cerdas blablas.


*Santriwati komplek Q

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *