Resep Sabar Rasulullah

by Maret 31, 2017
durasi baca: 3 menit

KH. Munawwir AF

Oleh : KH. Munawwir Abdul Fattah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Dengan senantiasa mencermati  apa yang akan kita lakukan. Kalau yang kita lakukan itu jelas-jelas apa yang diperintahkan Allah dan perintah Rasulullah, maka segera lakukanlah. Tapi apabila itu maksiat kepada Allah dan ada larangannya dari Rasulullah, maka batalkanlah. Dengan demikian, insyaallah kita akan menjadi orang yang beruntung fi ad-dunya wa al-akhirah.

Sabar dalam menghadapi segala gangguan, pahalanya luar biasa. Kisah tauladan yang bisa kita ambil adalah ketika dulu setelah Perang Hunain,[1] Rasulullah saw membagikan jarah atau rampasan perang kepada para sahabatnya.

Tetapi dalam pembagiannya, Rasulullah dinilai tidak adil sebab tidak setara satu sama lain. Berbeda satu sama lain. Ada yang mendapatkan 100 Onta, ada yang 80 Onta, adapula yang 50 Onta, yang begitu seterusnya. Oleh Sahabat Anshor yang namanya Khuruqus berkata kepada Rasulullah “pembagian yang demikian tidaklah adil wahai Rasulullah”.

Keluhan ini terdengar sampai kepada Sahabat Ibnu Mas’ud, dan seketika itu pula Ibnu Mas’ud menyampaikannya kepada Rasulullah saw. Tatkala mendengar kabar tersebut, spontan raut wajah beliau berubah memerah yang mengisyaratkan jika beliau tidak berkenan dengan anggapan tersebut.

Beliau sebagai pribadi tidak pernah berkeluh kesah atas hinaan dan cercaan yang ditimpanya. Tetapi ketika Agama Rasulullah disakiti itu, sebagai petugas dan Rasulullah yang telah membagikan sesuai dengan keadilannya tapi dicerca dan dimaki oleh salah satu Sahabat, beliau marah. Tetapi marah Rasulullah tidak disertai dengan emosi, mengobrak-abrik, mengolok-olok dan  lain sebagainya, akan tetapi beliau, Rasulullah ingat, dan berkata bahwa;

قدأوذيموسىبأكثرمنهذافصبر[]2

Musa lebih parah lagi ketika disakiti, oleh sebab itu saya harus bersabar

Alhasil, marah yang santun dengan tetap tabah itulah yang ditampakkan Rasulullah saw kepada umatnya. Wajah yang sebelumnya memerah sebab mendengar kabar ketidakadilan beliau tersebut, sontak berubah menjadi kemuning kembali, menjadi lebih sumringah, cerah.

Keindahan akhlak Rasulullah tercermin dalam hikayat di atas. Sebetulnya Rasulullah bisa mengembalikan omongan yang tidak mengenakkan tersebut/fajazaa’u sayyi’atin sayyiatun mitsluha, tetapi beliau lebih memilih untuk bersabar sembari memaafkan Sahabatnya tadi.

Tambahan lagi Rasulullah pernah bersabda

(الصبر نصف الأيمان (رواه البخا ري

ٍSabar itu adalah sebagian dari iman

Oleh karena itudengan segenap iman yang ada pada diri kita, mari kita tambahka denga memupuk sikap bersabar kita. Sehingga iman kita bertambah dan kokoh.

Selain itu, keindahan Al Qur’an terwujud pula dalam sebuah risalah hidup, pengambilan hikmah sebuah peristiwa serta solusinya. Seperti hikayat mengenai Nabi-Nabi, problematika dan permasalahan umat atau pribadi yang mereka hadapi. Kemudian menarik intisari dari beberapa peristiwa penting  tersebut sehingga menampakkan sebuah solusi. Lalu, solusi-solusi tersebut, kita praktekkan dalam permasalahan hidup kita.

Cerita mengenai Rasul-rasul sebelumnya, bukan hanya hikayat tanpa makna. Oleh Rasulullah, cerita tersebut menjadi inspirasi, ilham Rasulullah saw dalam mengarungi bahtera kehidupan serta menjaga ketentraman, keadilan, ketenangan, serta kesejahteraan umatnya.

Dalam hikayat di atas, kenapa Nabi Musa yang dijadikan patokan atau diambil contoh? Sebab Musa adalah Rasul yang sabar, perkasa, gagah berani, teguh pendirian meski ditimpa bejibun cobaan. Dalam Al Qur’an, Musa disebut sebanyak 139 kali kemudian disusul Nabi Ibrahim yang sabar, cerdas, dan dia juga penakluk Raja Namrud. Setelah itu Nabi Yusuf yang sabar, perkasa, tetapi juga dicerca umatnya. Nabi-Nabi tersebut adalah yang menjadi acuan dan inspirasi Rasulullah dalam bertindak dan mengambil keputusan.

Dari hikayat di atas, dapat diambi intisari kesimpulan, bahwasannya kesabaran merupakan sebagian dari iman. Lalu bagaimana kita mengkhidmati hidup dengan cara mengubah musibah itu menjadi nikmat.

Wa’alaikumsalam, Wr. Wb.

Jum’at, 17 Februari 2017

[1] Pertempuran antara pihak Rasulullah beserta para Sahabatnya dengan kaum Baddui dari Suku Hawazin dan Tsaqif pada tahun 630 M atau 8 H. Dalam pertempuran tersebut, kaum Muslimin mendapatkan kemenangan telak. Namun, sebagian dari Suku Tsaqif tidak mau menyerah. Mereka memilih melarikan diri ke Thaif. Di sana mereka menutup gerbang atau akses utama Kota dan mempersiapkan diri untuk berperang lagi.

[2] Hadis Lengkapnya ada di kitab Fathul Barri Syarh Shohih Bukhori karangan Ahmad bin Ali bin Hajar Al Asqalany. Hadis Nomor 5749 pada Bab Adab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *