Renungan Ramadhan: Orang-Orang Rakus

by April 30, 2020
durasi baca: 2 menit

Pada zaman Nabi Isa As, ada tiga orang bersahabat. Suatu hari ketiganya sepakat melakukan perjalanan jauh untuk suatu keperluan. Di tengah perjalanan mereka menemukan beberapa batang emas. Mereka kemudian mengatakan, “Kita tentu lapar,melakukan perjalanan begitu jauhnya.” Salah seorang diantaranya diminta membeli makanan di pasar. Ia pun berangkat.

Dalam perjalanan ke pasar, dalam benaknya terlintas niat buruk. “Nah, aku akan berikan kepada mereka berdua makanan yang dibubuhi racun. Jika mereka memakannya, tentu mereka akan mati dan aku akan memiliki semua batang emas itu. Aku akan menjadi kaya raya.”

Sampai di pasar, dia laksanakan pikiran itu. Makanan untuk kedua orang itu diberi bubuk racun yang mematikan.

Sementara itu, dua orang temannya yang sedang menunggu di tempat bersepakat untuk melakukan perbuatan serupa, “Nanti jika dia datang membawa makanan, kita bunuh saja. Kalau dia mati, batangan emas itu kita bagi dua.”

Maka, begitu teman yang membeli makanan sudah datang, kedua orang tersebut langsung membunuhnya. Usai membunuh, mereka makan nasi itu. Tak lama kemudian mereka pun mati.

Nabi Isa As kemudian mengatakan kepada para muridnya, “Lihat, mereka bertiga mati semua. Itulah gambaran kehidupan sebagian manusia di dunia ini. Mereka berebut mencari kenikmatan dunia dan mereka orang-orang yang rakus.”

Baca Juga: Renungan Ramadhan: Cinta Seseorang Kepada Dunia dan Seisinya

Dunia yang mereka kejar hanya sementara, dengan segelintir bongkahan emas pun, tiga nyawa manusia hilang begitu saja, dengan demikian, nafsu yang ada pada diri manusia dapat mengantarkan sifat-sifat yang sangat tercela, bahkan sampai rela membunuh sesama manusia. Padahal, Allah Swt mengajarkan kepada hambanya untuk saling mengasihi sesama manusia.

Fenomena-fenomena seperti cerita di atas tentunya sudah tidak asing bagi sebagian manusia saat ini. Bahkan, lebih dari apa yang terkandung pada cerita di atas.

Sedikit contoh saja, jika kita melihat atau mendengar sebuah berita yang disiarkan misal di televisi, kita tidak kaget ketika ada seorang anak yang tega menuntut orang tuanya sendiri karena tidak bisa melunasi hutangnya. Padahal yang ia tuntut ialah seseoarang yang melahirkan dan membesarkannya, naudzubillah.

Oleh karena itu, kita sebagai manusia yang difitrahkan sebagai pemimpin di bumi (khalifah fil ardh), semoga sebelum memimpin orang lain atau makhluk lain, seyogyanya kita dapat memimpin diri kita juga  memimpin hawa nafsu kita sendiri.

Wallahu a’lam

Hanif Rizal Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *